"Bismillahirrahmanirrahim"

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software

Hei Masalahmu Takkan Melebihi Batas Kemampuan!

Perjalanan dalam hidup kita di dunia ini tentu takkan selalu mudah, akan selalu ada masalah dalam hidup, bahkan mungkin bisa jadi masalah itu seakan silih berganti datangnya atau malah bertumpuk rasanya.

Saat hati gelisah melihat semua masalah yang berat itu, serasa tak mungkin rasanya diri mampu melewatinya, itu artinya pesimis tengah berpelukan dengan keputusasaan. Jangan biarkan itu terus menyergap di dalam diri, hingga hati luapkan emosi berlebih pada kehidupan yang rasanya tak adil, marah pada kehidupan atau marah kepada-Nya? Astagfirullah ... Jangan sampai ya.

Atau tangis pecah berkali-kali dalam sendirimu, menyesali diri yang rasanya tak mampu hadapi semua masalah yang berat itu? Kamu mungkin kesal dengan diri sendiri karena tiap langkah rasanya selalu saja salah?



Hentikan! Hentikan semua pikiran negatif itu! Jangan biarkan dirimu terjatuh dalam kelemahan, jangan biarkan dirimu sampai pada titik keputusasaan yang paling Dia benci!

Berprasangka baiklah, berpikir positiflah ... terutama kepada-Nya, karena semua yang terjadi dalam hidup pasti atas ijin-Nya. Dan Sang Maha Penyayang itu pasti menginginkan yang terbaik bagi semua hamba-Nya.

Ya ... apapun yang kita lalui dalam hidup, pasti ada makna kasih sayang-Nya, Dia tahu diri kita seperti apa, dalam cermin panjangpun kita harus melihat utuh diri sendiri, pada kesalahan dan juga kekhilafan diri. Lalu? Berbenahlah dan mendekat pada-Nya untuk kebaikkan diri sendiri.

Dan bukan hanya itu, Dia juga ingin kita kuat, Dia ingin kita berusaha melewati semuanya, tentu itu karena Dia tahu bahwa kita bisa melewatinya. Dia selalu mendengar doa-doa, Dia juga tahu semua keinginan kita, bahkan pada bisikkan tipis di hati saat kita lupa untuk meminta kepada-Nya sekalipun.

Selalulah ingat, bahwa Dia takkan pernah membiarkan kita sendirian, Dia takkan memberikan ujian melebihi batas kemampuan kita.

Hapus setiap prasangka buruk kita pada-Nya, sesulit apapun rasanya masalah yang kita hadapai dalam hidup sungguh takkan sebanding dengan begitu luas kasih sayang-Nya.

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".


 لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".


Baca 2 ayat ini sebelum tidur ya sahabatfillah, semoga Allah mencukupkan dan mengijabah doa-doa kita semua aamiin

Mendahulukan Puasa Syawal dari Qadha Puasa, Bolehkah?

Mendahulukan Puasa Syawal dari Qadha Puasa, Bolehkah? - Pertanyaan ini tentu banyak dipertanyakan saat bulan Syawal tiba, dimana di bulan ini umat muslim di sunnahkan untuk menunaikan puasa Syawal.

Namun khususnya bagi wanita yang mengalami haid di bulan Ramadhan, ia memiliki kewajiban untuk  mengqhada puasanya. Lalu dilema yang dihadapinya adalah akan terpotong masa haid juga bulan Syawal ini. Lalu sebaiknya ia mendahulukan puasa syawal dahulu atau qadha puasanya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, memang ada perbedaan pendapat di kalangan Ulama, dari dibolehkannya menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu, makruh hingga haram hukumnya, dengan dalil-dalilnya masing-masing.



Namun pendapat terkuat dalam masalah ini berdasarkan hadist yang sahih adalah bolehnya menunaikan puasa sunnah sebelum mengqadha puasa Ramadhan, selama waktu mengqhada masih longgar. Jadi jika seseorang menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu, lalu qadha puasa ditunaikan kemudian, maka puasanya sah dan ia tidak berdosa.

Mengingat Keutamaan Puasa Syawal
Diluar dari pernyataan tentang sah atau tidaknya mendahulukan puasa sunnah dari qadha puasa Ramadhan, yang perlu diingat kemudian adalah keutamaan dari puasa Syawal itu sendiri. Dimana menurut hadist, Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalan bersabda

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Disini Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa mempunyai qodho’ puasa di bulan Ramadhan, lalu ia malah mendahulukan menunaikan puasa sunnah enam hari Syawal, maka ia tidak memperoleh pahala puasa setahun penuh. Karena keutamaan puasa Syawal (mendapat pahala puasa setahun penuh) diperoleh jika seseorang mengerjakan puasa Ramadhan diikuti puasa enam hari di bulan Syawal. Dalam kondisi tadi, ia tidak memperoleh pahala tersebut karena puasa Ramadhannya belum sempurna.”
Ibnu Rajab rahimahullah kembali menjelaskan, “Barangsiapa mendahulukan qodho’ puasa, setelah itu ia melakukan puasa enam hari Syawal setelah ia menunaikan qodho’, maka itu lebih baik. Dalam kondisi seperti ini berarti ia telah melakukan puasa Ramadhan dengan sempurna, lalu ia lakukan puasa enam hari Syawal. Jika ia malah mendahulukan puasa Syawal dari qodho’ puasa, ia tidak memperoleh keutamaan puasa Syawal. Karena keutamaan puasa enam hari Syawal diperoleh jika puasa Ramadhannya dilakukan sempurna.”
Jadi lebih baiknya tentu kita menunaikan qadha puasa Ramadhan terlebih dahulu, jika kita ingin mendapatkan keutamaan puasa Syawal, yaitu pahala puasa setahun penuh. Karena jika kita mendahulukan puasa Syawal, maka kita tidak akan mendapatkan pahala tersebut.
Lalu bagaimana dengan siklus haid yang wanita alami, dimana ada kemungkinan puasa Syawalnya tidak bisa dijalankan dengan sempurna 6 hari, karena ia telah mendahulukan mengqadha puasa Ramadhan, dan waktu di bulan itu terpotong masa haid.
Ada hadist Nabi Sallahu Alaihi Wassalam yang bisa diambil untuk masalah ini
Dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَرِضَ العَبْدُ أَوْ سَافَرَ كَتَبَ اللهُ لَهُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْماً صَحِيْحاً
Jika seseorang sakit atau bersafar, maka akan dicatat baginya pahala seperti saat ia mukim (tidak bepergian) dan sehat.” (HR. Bukhari dalam kitab shahihnya)
Jadi, seorang wanita yang punya hutang puasa Ramadhan tidak perlu khawatir ketika ia luput dari puasa Syawal karena ada udzur, termasuk jika masa puasanya terpotong karena haid. Ia bisa melakukan puasa Syawal semampu ia bisa, walaupun sehari dua hari saja, ketika memang ada udzur. Tapi tentu disini bukan berarti menunda-nunda waktu puasa di awal Syawal bisa disamakan dengan kasus ini, tentu kita mengusahakannya dengan sebaiknya jika amalannya ingin dicatat sebagai pahala yang sempurna, semoga Allah ridhoi ...
Semoga Artikel tentang Puasa Syawal dan Qadha Puasa ini bermanfaat yang sahabat ... aamiin.
Sumber: Rumahsho

Translate