"Bismillahirrahmanirrahim"

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software

Hidup Itu Indah, Bukan Akan Indah Pada Waktunya

   Hidup itu indah, bukan akan indah pada waktunya - setuju enggak sahabat ilmair dengan kalimat ini? Saya sendiri saat mendengar ini sebenarnya serasa ditampar, disadarkan karena diri terkadang sukanya mengeluh. 

    Ya, kalimat ini saya dengar dari seorang sahabat beberapa waktu yang lalu, dia bilang, "hidup itu bukan akan indah pada waktunya loh Teh ... "

    Sesaat saya sempat berpikir dan menebak-nebak kalimat lanjutannya, 'ah iya, ini kan hidup ya, enggak akan selalu indah.'

    Eh, tapi tebakan saya ternyata salah, karena ucapan dia selanjutnya bukan itu, tapi ..., "yang bener itu, setiap waktu itu indah Teh, apapun yang datang dalam hidup kita itu sudah semestinya disyukuri. Indah semua yang Allah kasih mah."

    'Jleb!' Kalimatnya itu langsung menancap ke dada ini.

    Saya pun jadi teringat dengan kalimat serupa yang pernah saya tulis di ilmair, yaitu: 'tanpa syukur, bermil-mil keindahan takkan terasa' pada artikel 'Tag Food for Soul'. Humm, jadi diingatkan lagi kan sama nasehat dari tulisan sendiri. 

    Ya, mendengar kalimat itu memang rasanya seperti ditampar, karena keluh yang seringkali mencuat di hadapan manusia, padahal kebaikkan dari Allah itu jauh lebih banyak dari masalah yang dikeluhkan.

    'Duh, malu ya sama Allah.'

    Apalagi pas saya dengar cerita tentang temennya sahabat saya ini, seorang wanita paruh baya yang sudah kehilangan banyak hal di dalam hidupnya. Beliau pernah terkena fitnah korupsi hingga dipenjara, jabatan dan perkerjaannya hilang, suaminya meninggalkan beliau dan pergi sama WIL plus membawa anaknya, serta ada beberapa ketidakadilan lainnya yang sempat dialaminya  juga.  

    'Buk-buk-buk,' bertubi-tubi masalah hidup menerpanya. Beliau pun sekarang bekerja menjaga warung sambil ikut tinggal di sana, sendirian, di usia beliau sekarang yang sudah seharusnya bisa menikmati hasil kerjanya selama bertahun-tahun. Orang tuanya berada jauh di seberang pulau dan beliau enggak mau merepotkan. Namun, setiap hari beliau masih bisa tersenyum, tenang saja menjalani hidupnya tanpa banyak mengeluh - walau entah ya, di saat beliau sedang sendirian, manusiawi juga kalau beliau menangis.

    Ketika beliau ditanya kenapa bisa kuat menjalani hidupnya, katanya beliau menjawab, "ah, ini mah cuma dunia Teh, enggak ada apa-apanya juga masalah saya mah (bagi Allah - alias ada Allah yang tahu saya dan akan menemani). Hidup mah gimana Allah aja lah da punya Allah, disyukuri aja semuanya."

    'Hiks,' semakin membuat saya malu mendengar cerita itu.

    Ya, si diri ini terkadang merasa punya masalah sebesar gunung, terus suka cengeng bertanya kenapa begini-begitu sama Allah. Padahal yang tahu kita dan apa yang terbaik buat kita, ya Allah. Mau kita tanya, "kenapa harus saya Allah yang ngalamin masalah ini?" Allah akan jawab, "ya kenapa enggak? Kenapa berpikir enggak seharusnya kamu mendapatkan masalah yang kamu alami itu? Saya atau kamu yang lebih tahu?"

    Hayoo mau jawab apa? 

    Lalu setelah mengeluh, kita berharap semua akan indah pada waktunya, begitu? Duuh, duhai diri, syukuri dahulu apa yang ada di hadapan, apapun itu. Pahami makna kasih sayang Allah, setiap waktu. Baru setelah itu yang namanya keindahan alias kebaikkan Allah bisa kita rasakan. Setiap waktu loh ya! Bukan sekedar indah pada waktunya alias nanti-nanti saja. Kecuali kalau kita mau merasakan yang abadi ya, itu nanti di syurga-Nya. Sekarang, syukuri dahulu hamparan yang diberikan-Nya di dunia, agar kita bisa berjalan meraih ridho-Nya dengan penuh keikhlasan.

    Walau roda hidup itu memang terus berputar ya. Ada kalanya hidup ini membawa kita ke bawah, masalah hidup dan musibah datang lalu menguras emosi. Humm, dalam menghadapi itu, boleh kok kita bersedih dan memiliki perasaan-perasaan enggak nyaman lainnya. Ya, enggak apa-apa, karena kita kan memang manusia yang punya ragam emosi. Namun, sedihnya jangan karena enggak rela ya sama apa yang sudah Allah ijinkan terjadi di dalam hidup, menolak takdir Allah dong itu namanya, nauzubillah min dzalik.

    Sedihnya sebentar saja, lalu sadari lagi, Allah ijinkan masalah itu datang pastinya sudah sesuai porsi ketahanan kita kok. Percaya bahwa semuanya sudah terukur dengan tepat dan pasti ada hikmah dibaliknya, ada keindahan kenapa sampai Allah pilih kita untuk menjalaninya, dan itu adalah wujud kasih sayang-Nya.

     Masalah juga kan memang selalu ada di dalam hidup, satu masalah selesai bisa datang yang lainnya. Kalau kita hanya berpikir akan indah pada waktunya, kapan kita mau bersyukur? Sekarang mengeluh, lalu saat masalah yang satu nanti selesai dan datang masalah lainnya, mau mengeluh lagi? Ah, ketika kebahagiaan hidup yang sesuai sama keinginan kita enggak datang-darang, terus tahu-tahu sudah dipanggil pulang. Hayoo, enggak mau sampai begitu kan ya. 

    Peka yuk sama kasih sayang Allah! Ikhlas, sabar dan bersyukur, lalu rasakan bahwa hidup itu indah, bukan akan indah pada waktunya ya.

    Semoga Allah mampukan kita semua ya sahabat, agar bisa merasakan setiap waktu kalau yang diberikan Allah itu indah, sambil menyadari kesalahan diri dan kita pun terus berbenah menjadi yang Allah mau, hingga keindahan abadi nanti di akhirat bisa kita rasakan juga, aamiin.


    Menurutmu bagaimana sahabat? Share yuk di kolom komentar inspirasimu ...

Translate