"Bismillahirrahmanirrahim"

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software

Jalan di tengah Gerimis dan Gelapnya Malam

Geirimis masih melekat tetesannya menyentuh kulit, udara dingin begitu menyelimuti dari ujung kaki sampai kepala, jalanan yang basah itupun terasa begitu menghalau langkah hingga pijakan kaki ini terasa tak kuat menahan badan. Gelapnya malam yang berteman hujan terasa telah membuat lorong hitam yang memanjang pada jalanan yang terbentang.

"Tulaling..tulaling" sesaat kemudian suara handphone di dalam tas ransel berbunyi. Suaranya sampai ke kedua telinga ini, tapi enggan ku angkat handphone di tasku ini.
"Astagfirullah..." hanya kata itu yang terucap dari bibir ini. Ransel yang sudah lusuh ini terasa begitu berat dipundak. Sepatu yang telah kuyup oleh ribuan titik air yang turun dari langit ini masih mampu menapak, walau rasa lelah telah hampir membuatnya beku bersama bekunya dingin.

Didepan pandangan aga buram, hanya jalan terbentang yang tampak namun sedikit tertutup pandangan pula oleh rintik tetesan hujan berbaur dengan langit yang telah gelap karena malam. Berderet lampu jalan dengan sinarnya yang remang memang menghias, tapi tentu tak mampu menghapus semua gelapnya malam.

Terhenti langkah kaki sedetik kemudian, lalu kuhempas tubuh ini pada trotoar yang masih berbalut basahan air. Kurentangkan kaki ini di tepian jalan, merenggangkan otot-otot kaki. Sedetik kemudian fikiran ini tercenung oleh hamparan jalan dan keadaan di sekeliling. Jalanan yang terbentang diantara gerimis di kala gelap malam menyelimuti begitu tampak buram hitam dan panjang.



Semua suasana yang tampak itu tak layak disandingkan dengan pengertian apapun tentunya, walau hal itu layaknya perjalanan hidup manusia di saat sedang tertatih menghadapi beragam masalah. Hanya untuk sekedar menarik hikmah dari setiap hal yang dilewati tak apa, tapi bukan terikat penilaian pada satu titik. Karena bisa saja disimpulkan jika rintik hujan atau bahkan badai hujan serta gelapnya malam seperti penghalang akan jalan kehidupan di depan, dan selayaknya beragam masalah yang menghalangi jalannya hidup. Padahal tetesan air dari langit yang turun membasahi bumi itu adalah anugerah dari Sang Kuasa Allah SWT, yang sepatutnya disyukuri tak layak diumpamakan dengan beban kehidupan. Gelapnya malampun Allah ciptakan untuk kebaikan bagi hidup manusia, dimana Allah berikan waktu istirahat bagi hambaNya, atau waktu terbaik untuk meminta, berdo'a dan bersujudpun ada pada ujung waktu malam.

Mungkin keluhan yang tercuat pada hati bahkan bibir inilah yang membuat semua suasana apapun yang menyelimuti bagai sesuatu yang buram dan kusam. Berjalan di tengah gerimis dan gelapnya malam memang bukan hal yang menyenangkan baik oleh raga ataupun hati, angin malam yang menyusup menembus hingga menyentuh kulit membuat gemetar sekucur tubuh, bahkan terasa dinginnya sampai ke tulang. Tapi tentu jalanan itu masih di bumi, masih dapat bergerak raga tanpa batasan, jalan itu bukan di titian abadi dimana langkah itu takkan bisa memilih bukan?

Dan menatap gerimis serta gelap yang masih berona di atmosfir bumi ini, kembali ku ditegunkan bahwa tetesan gerimispun punya waktu untuk mengering dan malampun akan berganti esok dengan hadirnya sinar mentari. Aku bangun dari dudukku lalu melangkah lagi menyusuri jalan di tengah gerimis dan gelapnya malam...

Ilmair kali ini belajar menulis cerpen singkat nan sederhana pula, yang diharapkan juga bisa memberi inspirasi pada reader semua... Share kritik, saran, komen ya bro dan sist...

Muhasabah Diri

Allah itu begitu dekat, mengetahui setiap jengkal gerak kita, setiap detik waktu yang berputar dalam hidup kita, setiap kedip mata kita. Apa yang diijinkanNya terjadi dalam hidup kita pasti mengandung jutaan makna kebaikan dariNya, dan tergantung pada tiap diri bagaimana bisa meraih makna kebaikkanNya. Sejuta tanya tentu ada dalam benak setiap orang tentang apa dan mengapa Allah ijinkan semua hal yang tak pernah dimengerti diri, terutama kalau hal tersebut negatif dalam kaca mata diri.


Muhasabah diri tentu perlu dihadirkan, cermin-cermin perlu dipajang dari tiap sudut, untuk mematut diri, dimana setiap sudut dalam diri lakukan kesalahan, lalu kembali pada keimanan dan ketaqwaan, dan memperbaiki diri.

Keluhan demi keluhan takkan bisa merubah apapun, hanya membuat kebaikan itu sendiri enggan menampakkan dirinya dihadapan. Apalagi amarah pada Allah Sang Kuasa, tentu takkan pernah pantas ada dalam hati.

Belajar mendekat dan terus semakin mendekat padaNya itu tak boleh usai, selama nafas masih terhembus, selama jantung masih berdetak. Kala terucap lelah, keluh itu merayap, tapi kesadaran diri masih harus ada ditepian bahwa belajar mendekat padaNya dan mencari RidhoNya adalah jalan menuju keindahan di keabadian. Karena jalan itu tentu takkan mulus, pasti kan ada kerikil di setiap hamparannya.

Mampukah diri? Tentu takkan bisa diri mengukurnya, perlu kekuata do'a agar hati ditetapkan pada Iman dan Taqwa kepadaNya, perlu kesungguhan dalam berlajar mencari RidhoNya, bahkan kesungguhan tuk menghadirkan keikhlasan tumbuh sempurna di hati. Bersama lantunan "Laahaula walaakuata ilaabillahil aliyil adziim" yang tercuat dari hati, berharap kuasaNya memampukan diri tuk selalu bermuhasabah, memperbaiki diri dan mencari ridhoNya...

Tulisan Muhasabah Diri ini juga menjadi tulisan ilmair di awal tahun 2016, semoga bisa memberi inspirasi positif terutama bagi diri ini.. Aamiin..

Translate