"Bismillahirrahmanirrahim"

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software

Ramadhan Akan Segera Pergi

Aku tertunduk, air mata ini menetes, ada rasa gelisah dan tak nyaman lainnya di hati. Waktu yang berjalan ini terasa berlalu begitu cepat, hingga langkah ini tiba di penghujung jalan di bulan yang penuh kemuliaan ini. Ingin rasanya aku menggenggam waktu, lalu menghentikannya, atau memintanya berputar kembali ... namun tentu saja itu tak bisa.



Ah jika ada tanya yang tercuat, sedih karena apa aku ini? Apakah karena rasa cinta yang begitu mendalam telah tumbuh di hati pada bulan penuh kemuliaan ini? Karena iman di hati telah penuh meningkat pada-Nya? Pertanyaan itu justru kini menamparku, tak sakit ke kulit, tapi semakin terasa tak nyaman di hati.

Aku bahkan tak tahu apakah pantas bisa kusebut diriku mencinta, setidaknya mencintai bulan ini saja, dimana Sang Maha Cinta itu telah memberi banyak cinta pada semua hamba dengan kemaha murnian cinta-Nya. Dia telah memberi hamparan luas rahmat-Nya di bulan ini, dari pintu ampunan dan diijabahnya doa terbuka dengan lebar, hingga beramal dan beribadah dengan pahala yang berlipatpun ada dalam janji-Nya yang pastikan ditepati.

Lalu ... apa yang telah aku lakukan selama hampir sebulan ini? Kemana saja aku selama hampir sebulan ini? Amal dan ibadah apa yang mampu menunjukkan cintaku? Seberapa banyak diriku bergerak dalam khusuk dan ikhlas?

Ya Allah ... aku sungguh tak mampu menjawab pertanyaan itu, hati ini semakin gelisah, melihat Ramadhan yang semakin bergerak untuk segera pergi.

Terduduk lalu diam? Tentu saja bukan itu jawabannya, waktu yang tersisa ini masih ada, kesempatan dari-Nya masih terbuka ...

Secercah cahaya itu membuka mata, deretan hadist tampak oleh mata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175).
Harus terdorong semangat dari dalam diri untuk bergerak, bergerak semampu yang diri bisa, lakukan yang terbaik tentu seharusnya. Jika diawal perjalanan ini diri tertatih, atau bahkan terbawa lalai, maka sekarang waktunya untuk bangkit, bahkan harus bisa diri berjalan lebih cepat dari sebelumnya, setidaknya berusaha. Jangan pernah menyerah, jangan pernah berhenti melangkah atau bahkan berbalik arah, sebelum ada perhentian langkah dari-Nya.

Ya diwaktu Ramadhan yang tersisa ini, perbanyaklah beribadah kepada-Nya, seperti yang dilakukan Rasulullah sallahu 'alahi wassalam, dalam hadist ‘Aisyah mengatakan,


كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). 
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71)

Jangan sia-siakan waktu untuk bertemu dengan malam penuh kemulian yang ada di 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.

Mari kita hidupkan malam Lailatul Qadar sahabat, yang dapat dilakukan dengan mendirikan sholat, berdzikir dan tilawah Al Qur'an.

Walau amalan shalat itu lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar, seperti yang tertera dalam hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901).

Hentakan nasehat ini pada diri dengan penuh, bukan sekedar untuk ditulis lalu dibaca, tapi untuk menggerakkan diri untuk segera melakukannya.

Dalam untaian kata di ujung akhir tulisan ini, ingin pula kusebutkan doa "Semoga Allah meridhoi kita semua bertemu dengan malam penuh kemuliaan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik seribu bulan, saat pintu-pintu langit dibuka, doa-doa dikabulkan aamiin"

Translate