"Bismillahirrahmanirrahim"

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software

Mimpi dan Waktu - Nasehat Untuk Diri

Peluh terasa membasahi kulit, sementara hati dipeluk gelisah juga sedari tadi. Tubuh ini memang masih sedikit lemas karena sisa sakit perut di siang tadi, tapi tangan dan pikiran ini masih bisa diajak bergerak, mengelana mencari kata yang harus kutuangkan di atas lembar elektrik ini.
Ada rasa sesal juga yang turut menemani hati, sesal karena telah membiarkan diri ini berkejaran dengan waktu. Ah seharusnya aku sudah menyetorkan link di chat room grup beberapa waktu yang lalu, mengikuti jejak teman-teman yang sudah lebih dulu hadir di sana.
Dan mengalunlah kini nasehat-nasehat dari diri untukku sendiri, kamu boleh membacanya sahabat, semoga bisa memberimu inspirasi ya, atau boleh juga kamu bantu aku untuk merentangkan cermin ini kembali, jika aku nanti lupa, terimakasih ya.
Ssstt ... dibisikan saja ya dan beginilah nasehat itu berbunyi ...
Hei diri! Janganlah kamu mengejar waktu, kamu akan letih jika terus melakukannya. Lalu ... ketika rasa letih itupun menyergap, apa kamu akan terdiam saja? Ah lengkaplah sudah ketertinggalanmu itu, sementara yang lainnya sudah sampai kemana, kamu masih berdiri di situ-situ saja.


Tunggu-tunggu kamu mau katakan apa? Tak punya waktu atau tak sempat? Jangan ya katakan itu, karena setiap orang diberikan waktu yang sama dalam satu hari, 24 jam tak lebih atau kurang. Iya, jika telah diberikan itu artinya kamu "punya" dan tak hilang juga waktu itu kemana-mana. Karena ia tak akan pernah sembunyi, kecuali kalau kamu sendiri yang membiarkannya berjalan tanpa gerakmu itu turut mengikuti, antara terduduk lemas di waktu luang atau justru asik dengan hal yang tak pasti.
Ah kamu mungkin lupa ya akan mimpi-mimpimu, membiarkannya melayang hingga hilang tertutup kabut, gelap tak sanggup nanti kamu mencarinya lagi.
Atau kamu mau bilang bahwa sudah cukup ya pintamu itu pada-Nya? Panjang kali lebar kali tinggi, sampai mungkin rayuan gaduhmu itu membahana di atas langit sana.
Terus kemana dorongan semangat bergerakmu itu kemudian? Sudah sampai dimana ikhtiar di bumi untuk membuat penghuni langit meng-aamiin-kan doamu, membuat Allah yang punya kuasa atas sepenuhnya kehidupan ini mengatakan kamu pantas untuk raih mimpimu itu?
Atau kamu mau membenamkan mimpimu itu kembali? Buang ke tong sampah, lalu tak punya mimpilah kamu sekarang!
Humm ... stok mimpimu masih banyak? Ya sama saja, takkan juga bisa mimpimu itu teraih, jika perilakumu terhadap waktu saja seperti itu. Sama seperti halnya kesehatanmu itu, keduanya bisa sama-sama menipumu, melenakan diri hingga lalai diri untuk mempergunakannya dengan baik.
Sudah ingatkan bunyi hadistnya?
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhari, no. 5933].
Ah ayolah diri, bangun dan sadarlah segera, cepat bergerak lakukan bagianmu, berikan ikhtiar terbaikmu sementara untuk hasil tunggu kejutan dari-Nya nanti.
Eiya jangan lupa akan satu pesan dari-Nya tentang waktu juga ya, agar kamu tak akan merugi nantinya ...
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. [al-‘Ashr/103:1-3]."

Ruang Temu

Aku berjalan menuju ke arah pintu lalu membukanya dan menemukan seorang tamu berada di sana, wajahnya tak asing bagiku walau mungkin ini kali pertama mata ini melihatnya secara utuh.
Ah iya itukan kamu, seseorang yang telah tercatat apik di lembaran kertas itu. Pada detik yang sama pula aku berjalan sampai di depanmu, guratan wajah kita sama-sama mengandung makna, tanpa batas sekat mata kita pun beradu.


Sesaat kita saling tatap, namun kualihkan pandangan kemudian ketika hati memberi kode pada pikiran untuk mengingat tentang sebuah batasan. Ah tentu itu pula yang kamu lakukan, bahkan mungkin gerak matamu untuk menunduk jauh lebih cepat. Iya itu bagus, karena rasa malu di hati kita haruslah tumbuh, menameng diri dari lintasan yang bisa menjerumuskan kita pada hal yang salah.
Jika ada yang bertanya tentang rasa, hanya hati kita tentu yang tahu apa saja yang menghias di dalamnya saat itu. Tak perlu dengan jelas kita mengutarakannya, cukup disimpan saja sampai tiba waktunya, saat alunan rasa itu disetujui oleh Sang Pemiliknya untuk diutarakan.
Waktu kemudian berlalu dan cerita yang terbentuk seperti apa hanya kita yang tahu. Telah tercatat dengan apik pula dalam tiap detiknya di lembaran itu kembali, kita pasti akan terkejut jika diperbolehkan untuk membacanya, karena takkan terluput satu kata pun dalam catatan itu semua yang kita lakukan, tepat dan utuh.
Di ruangan itu kita bertemu, bukan ruang tamu rumahku, tapi ruang yang mempertemukan aku dan kamu, aku menjadi tamumu dan kamu menjadi tamuku. Ya … kita berada di ruang temu saat itu, ruangan yang mampu meninggalkan kesan pada masing-masing hati. Entah bagaimana jejaknya di hatimu, namun jika kamu tanyakan tentang apa yang tersisa di hatiku, tentu saja ada makna yang membekas dan tak mudah untuk dilupakan dengan segera.
Humm … aku terdiam sesaat, suara detik jam di dinding kamar kini terdengar begitu jelas. Jemari tanganku kini kembali asik menari di atas keyboard, sementara pada layar eletrik tampak huruf-huruf bertautan membentuk kalimat, yang selama beberapa jam ini telah kubaca sampai berkali-kali.
Sementara itu dalam jangkauan jarak yang entah berapa meter atau bahkan sampai ribuan kilometer, ada sepasang mata yang tengah beradu dengan tulisan tanganku ini. Ah iya itu pasti kamu ya yang sedang masuk ke dalam ruangan itu. Iya kan? Pasti, tapi tentu saja itu kamu yang lain, bukan kamu yang ku sebutkan dalam tulisan di awal tadi. Ya … tentu saja kusebutkan kata “pasti”, karena tamu yang tertulis di atas hanya sebuah kisah kiasan yang belum pernah terjadi, jadi tentu saja itu bukan kamu.
Iya … aku memang sedang menulis tentang sebuah ruangan kali ini, ruangan di dalam kehidupan yang selalu membuat sebuah pertemuan terjadi. Termasuk saat matamu tadi menatap tulisan ini, dengan tepat kamu masuki ruang temu yang ku maksudkan tadi. Dan dengan jelas juga tiap kejadian dalam pertemuan itu telah tertulis dalam lembaran catatan takdir kita di langit. Disusul kemudian catatan amal kita yang dituliskan, sebagai hasil dari peran kita di dalam skenario-Nya yang apik.
Ruang temu adalah tempat kita bertemu dengan semua hal yang dihantarkan-Nya masuk ke dalam hidup kita. Kita diberikan kebebasan oleh-Nya melakukan apapun di dalamnya, walau begitu tetap ada batasan dari-Nya jika kita tak mau terjerumus pada hal yang salah di mata-Nya.
Lalu soal rasa dan makna? Tentu saja di dalam ruang temu itu pasti ada. Ya … skenario Allah itu pasti sempurna, tak ada satupun dalam hidup ini yang datang dari-Nya tanpa sebuah makna, yang juga akan hadirkan ragam rasa di dalam hati saat kita melewatinya.
Kalau pun ada suatu waktu di ruang temu itu kamu bilang “biasa saja” dan tak ada apa-apanya, itu artinya kamu yang kurang peka. Karena di dalam skenario-Nya, akan selalu tersisipi makna baik dari-Nya di dalam ruang temu itu, entah berupa hikmah, nasehat, pelajaran, teguran, serta ragam makna lainnya. Yang jika kamu telaah lebih dalam lagi, akan kamu temukan makna kasih sayang-Nya di sana.

Translate