"Bismillahirrahmanirrahim"

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software

Galau Mau Ganti Template Blog - Move On Ternyata Nggak Mudah Ya

    Ada-ada aja ya admin blog ini alias saya, mau ganti template blog aja pakai acara galau segala, hummm... move on ternyata nggak mudah ya... hihi berasa udah nyaman aja sama template ini walau sebenernya termasuk jadul. Kemarin ini sempat ganti sebentar, tapi pas tahu head image nya nggak bisa dihapus dan dijadikan tulisan aja kaya template yang saya pakai ini, jadilah saya urungkan, kembali lagi deh ke template ini.

    Hummm... kenapa ya saya sampai galau buat ganti blogger template? Sedikit saya share boleh kan ya disini
1. Saya itu termasuk yang paling ribet urusan template dari dulu, punya template pinginnya yang responsive, bagus buat SEO, warnanya sesuai dengan yang saya mau, toolsnya sesuai yang saya ingin, dan cepat loadingnya dan lain-lain yang kadang nggak mudah ditemuin di pilihan template yang ada.

2. Karena alasan nomer satu itu, maka template yang ada sekarang udah mengalami berbagai editan otodidak saya (yang htmlnya saya ubek sendiri searching di google). Dan pengeditan otodidak itu seringnya langsung saya terapin mengikuti tutorial yang ada, nggak saya save lagi poin-poinnya, dan karena itu saya nggak inget dengan jelas semua kode html nya itu (termasuk  letak kodenya). 

3. Terus ada juga kode lainnya yang saya masukin, seperti google analitycs, feed burner, alexa, kode advertiser dan lain-lain yang saya juga nggak catat apa ajanya (yang tertullis itu yang saya ingat dan mudah menemukan kode htmlnya, yang terlupakan itulah yang bikin khawatir).

- Kapan-kapan saya mau share ah ilmu hasil pengeditan yang saya inget, in syaa Allah, semoga bermanfaat nantinya aamiin.

    Terus solusi kegalauan dan biar saya move on dari template jadul ini? Sebenernya mudah ya untuk yang nomer satu, tinggal beli aja template premiunnya, pesan template ke mastah design template.

    Tapi... untuk sekarang ini kayanya saya masih milih template gratisan dulu aja deh. Humm... bukan bermaksud jadi orang bermental gratisan ya, tapi karena memang blog ini juga jarang di update dan belum menghasilkan, jadi cukup sayang aja uangnya kalau harus keluar untuk keperluan yang belum terlalu urgent.

    Untuk poin nomer dua dan tiga, ya PR banget buat saya kalau mau ganti template nih, harus otak-atik lagi html nya, menemukan apa-apa aja tambahan editannya dulu, sambil cari juga ingatannya di kepala ini.

    Jadi sekarang? Ya tetep pakai template ini aja dulu, sambil terus cari template blogger gratisan yang sesuai dengan yang saya mau, tapi saya harus buang jauh-jauh galau nya, tetap move on, karena template inipun akan di update juga, ya mari jemari kita utak-atik lagi kode html template blog ini.

    Ah udah ah curhat tentang template blognya segitu dulu aja ya. Eh tapi sebenarnya jadi kepikiran inspirasinya juga ini, kebiasaan lama admin ilmair ini menarik inspirasi dari sebuah tulisan. Humm... lanjut ah menulisnya, buat yang baca semoga menginspirasi juga ya...



    Iya dalam hidup ini terkadang ada aja ya sesuatu yang bikin galau, buat hati gelisah dan jadi kepikiran terus, sampai rasanya nggak mudah buat move on. Padahal kalau hidup mau terus bertumbuh dan berkembang ya pastinya perlu move on dong, tentu aja dari hal-hal yang udah nggak seharusnya diri bertahan dan menetap di sana, kaya sesuatu yang udah nggak mungkin diulang seperti masa lalu misalnya atau keadaan yang nggak baik dan nggak diridhoi-Nya... Ya pasti diri mestinya move on dong, move on!

    Tapi galaunya hidup pada keadaan itu, nggak bisa ya kaya template yang tinggal di update aja, di utak atik biar yang jadul bisa jadi up to date lagi. Kaya nggak bisa ya kita kembali ke masa lalu gimana pun caranya, yang benar ya jalani teruslah kehidupan di hari ini untuk masa depan, harus bisa move on dari masa lalu dan itulah caranya mengupdate hidup yang sekarang.

    Begitupun dengan hal-hal yang nggak baik dan nggak diridhoi-Nya, jangan sampai hal itu diutak atik biar tampaknya jadi baik. Contohnya ngegosip gitu, dibuat jadi manis kata-katanya biar jadi nggak seperti ngegosip, atau bilangnya 'buat jadi pelajaran' padahal ya tetap aja yang dibahas aib yang nggak ada urusannya dengan yang ngegosip. Kalau nggak mau nanggung dosa besar yang seperti memakan bangkai ini ya harus move on dong dan menjauhlah dari bergosip, lalu fokus sama aib sendiri, nggak sibuk lagi sama aib orang lain.

    Berbeda ya kalau yang digalauinnya urusan akhirat, harus hati rasakan itu, biar kepikiran terus gimana caranya raih bahagia di akhirat, yang hanya bisa didapat dengan mencari ridhonya Allah aja. Dan benahi diri terus deh diri setiap waktu, update (lebih tepatnya upgrade) diri jadi hamba-Nya yang lebih baik, move on dari semua yang nggak baik dan nggak diridhoi-Nya, walau itupun nggak akan mudah, karena ujian keimanan itu pasti ada, seperti "angin kencang yang menerpa pohon" ya.  Ah iya, hidup ini gratis loh dari Allah, kita sebagai hamba-Nya cukup bayar pakai taat biar bisa bahagia dunia dan akhirat. 

Ah tulisan ini utamanya nasehat buat diri sendiri, semoga bisa memberi kebaikkan buat diri dan yang membacanya aamiin.

Roda Hidup

Hati ... bersabarlah jika semuanya sedang terasa sulit, bersyukurlah ketika kesenangan rasanya tumpah.

Karena semua hanya sementara... Roda hidup akan selalu berputar, takkan pernah sempurna setiap keadaan berlaku pada setiap diri. Akan selalu ada dua warna kontras yang bergantian datang dan pergi di dalam hidup, seperti suka dan duka, mudah dan sulit, cerah dan gelap, tawa dan air mata. Semuanya telah terukur dengan jelas terbaik dari Allah, tepat takkan melebihi batas kemampuan setiap hamba.


Setiap luka akan sembuh, setiap air mata akan terganti dengan senyum, setiap masalah ada solusinya , dibalik setiap kesulitan pun ada kemudahan ... Jika kamu percaya pada-Nya

 Jadilah seorang mukmin yang baik, mengagumkan di mata-Nya.



Allah menghantarkan setiap keadaan takkan melebihi batas kemampuan bukan? Dia percaya kita mampu melewati setiap keadaan dengan baik, bersabar ketika sulit dan bersyukur dalam kesenangan.

Belajar terus dan perbaiki diri lagi ... Semoga Allah mampukan aamiin.

Dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

 عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له .

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Ada sedikit tulisan saya tentang Roda Hidup, berjudul Teruslah Melangkah Dan Tersenyum di buku Self Talk (sebuh buku antologi karya teman-teman penulis).


My Goals, Kamu Dimana? part 4

    Melanjutkan cerbung saya berjudul My Goals, Kamu Dimana?, sahabat bisa membaca tulisan sebelumnya di "My Goals, Kamu Dimana? part 1", "My Goals, Kamu Dimana? part 2" dan "My Goals, Kamu Dimana? part 3". Semoga menginspirasi dan selamat membaca.

    Sepanjang sisa perjalanan siang itu pikiran ini pun menerawang, sedikit terpikirkan juga ucapan sang ibu calon prospek yang gagal ku closingkan. Walau akhirnya kata-katanya itu hanya mengambang, tersudutkan oleh banyak alasan di dalam pikiranku sendiri. Berbagai kata “tapi” menumpuk di kepala, hingga nasehat sang ibu itu pun tertolak, karena aku masih yakin bahwa apa yang kutawarkan ini merupakan kebutuhan bagi banyak orang. Ya bagaimana tidak, kepala ini masih dipenuhi dengan ragam informasi yang baru saja ku pelajari selama 5 bulan terakhir ini, tentang dunia investasi dan asuransi.

    Kejadian di commuter line siang itu pun akhirnya hanya kuanggap sebagai ujian, sesuatu yang harus ku cari solusinya, bagaimana agar aku bisa menghadapi calon prospek yang memiliki pemikiran yang sama dengan Sang Ibu tadi di kemudian hari.



    Mbak Tifani yang ku ceritakan lewat pesan singkat pun langsung menanggapi,
[Nay bagus itu, kalau kamu punya masalah, itu artinya kamu udah berusaha Nay. Semangat ya Nay! Jangan menyerah hadapin prospek yang seperti itu! Kalau kasus kaya gitu Mbak nggak paham Nay … coba kamu ikut training di pusat aja ya Nay, nanti Mbak cariin jadwal training untuk produk syariah kita ya, terus kamu tanyain deh nanti ke trainernya, ok Nay. Semangat terus, sukses Nay!]

    Semangatku pun kembali tumbuh setelah membaca pesan dari Mbak Tifani, hingga tak sabar rasanya ku nanti training produk syariah yang Mbak Tifani maksudkan.

    Ah iya, Mbak Tifani dan aku memang berbeda keyakinan, jadi pertanyaan seputar prospek dan produk yang berkaitan dengan agama takkan bisa kutanyakan padanya.
****

Keesokkan harinya …

    Ada sederet daftar yang telah ku tulis dari semalam, daftar rencana untuk mencari prospek hari ini. Pagi ini cuaca cukup cerah, tapi rasa tak percaya diri muncul disaat diri ini akan pergi keluar rumah.
“Hufft … ada beberapa wajah baru lagi yang akan ku jumpai hari ini, tak boleh gugup aku nanti. Semua data tentang produk juga harus sudah bisa ku ingat dengan baik, ” ucapku pada diri sendiri.

    Sesaat rasa malas pun datang menghampiri, menyergap tubuh ini, hingga akhirnya aku memilih untuk berangkat di siang hari.

    Kupacu motor di jalanan siang itu, berkelilling mengikuti jalur yang telah terpikirkan untuk jadi tujuan mencari prospek. Satu, dua dan tiga toko pun akhirnya ku datangi, tapi yang kudapat adalah penolakkan. Ah semangat mencari prospek di hari itu pun lambat laun semakin menurun.

    Hingga gerimis pun datang saat diri ini tiba di sebuah rumah, rumah seseorang yang sebelumnya pernah aku datangi.

    “Assalamu’alaikum …” sapaku, setelah memarkiran motor lalu mengetuk pintu.
    
    “Wa’alaikumsalam … Eh Mbak Nay, silahkan masuk Mbak,” jawab seorang Bapak setelah membuka pintu rumahnya.
    
    “Ah gimana kabanya Pak? Sehat semua kan ya Bapak sekeluarga?” tanyaku.
 
   “Alhamdulillah baik Mbak … Gimana - gimana ada yang bisa saya bantu? Hehe … ya mungkin aja Mbak Nay punya informasi pelanggan gitu untuk saya. Eh atau Mbak Nay mau jelaskan produk baru ya kali ini?“ jawab Sang Bapak.

    Mendapat sapaan hangat itu membuat hati terasa tenang, seperti angin sejuk yang mampu menghapus semua ketidaknyamanan, setelah beberapa kali tadi ku hadapi wajah penolakkan.

    Bapak Ardian Sudistira, beliau adalah seorang Bapak muda yang baru kukenal selama dua bulan terakhir ini. Jika ku hitung, ini adalah kali ke tiga aku berkunjung ke rumahnya. Sambutannya terhadapku tak pernah berubah dari sejak pertama aku bertamu, selalu saja ramah.

    “Kondisi keuangan saya rasanya belum mampu untuk rutin membayar preminya Mbak Nay, apalagi yang saya mau tiga anak saya juga bisa dimasukkan Mbak, tapi biayanya pasti besar itu ya Mbak Nay?” katanya ketika obrolan kami sudah masuk pada inti kedatanganku.

    “Ah Bapak mau saya buatkan ilustrasinya dulu Pak? Saya bisa hitungkan berapa biayanya untuk semua keluarga Bapak,” aku pun lalu mengeluarkan pulpen dan buku, siap untuk mencatat beberapa data yang diperlukan.

    “Eh nanti aja dulu Mbak, belum terpikir dalam waktu dekat saya buka polisnya. Nanti kasihan Mbak Nay, pasti itu perlu di print kan ya? Berlembar-lembar juga kertasnya, nantilah kalau sudah pasti saya akan minta Mbak untuk buatkan, tenang saja Mbak, saya sudah simpan nomor Mbak Nay, dan ini kartu nama Mbak Nay juga ada di dompet saya,” ucapan Pak Ardian itu membuatku sedikit lemas. Ya … hari ini Sang Bapak pemilik usaha jual beli mobil kredit ini belum juga bisa aku closingkan.

    “Semangat ya Mbak, sudah bagus itu pantang menyerahnya. Saya udah berapa kali ya Mbak  Nay tawarkan membuka polis? Hehe … yah tapi gimana Mbak kondisinya belum memungkinkan,” sambungnya lagi.

    Lalu telinga ini pun lagi-lagi jadi pendengar tumpahnya sedikit cerita, karena Bapak Ardian akhirnya bertutur tentang kondisi bisnisnya yang saat ini sedang jatuh.

    “Ah … kalau saya ingat beberapa bulan lalu, lebih berat dari sekarang Mbak. Yang saya ingat saat bisnis saya jatuh itu cuma satu, dosa saya, terutama sama Ibu. Pasti Mbak Nay juga pernah dengar kan ya, masalah yang datang dalam hidup itu terjadi pasti karena kesalahan kita sendiri, bukan hanya kesalahan pada keadaan yang kita hadapin saat itu aja, tapi bisa juga karena tumpukkan dosa di masa lalu. Yah kaya kita lagi di sentil aja sama Allah, supaya inget lagi untuk segera berbenah diri,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

    “Saya datangi ibu, lalu minta maaf sama beliau dan minta didoakan supaya bisa lancar semua urusan Mbak. Ya … ibadah dan sedekah juga pastinya nggak lupa dibenahi, cari ridho Allah,” sambungnya.

    “Tok … tok … tok … “ hati ini sepertinya sedang diketuk lagi, dengan nasehat yang datangnya dari sebuah pertemuan.

Bersambung

Update Blog dan Blogwalking

    Postingan lanjutan dari cerbung "Goals"nya saya pending dulu, karena kali ini saya ingin menulis seputar blog dulu ya, yaitu tentang "update blog dan blogwalking". Humm... semoga tulisan ini bermanfaat, memberikan inspirasi dan yang baca pun suka ya aamiin. Mari menulis dan selamat membaca sahabat semua...

Update Blog
    Blog ilmair ini udah cukup lama tak terurus, walau tiap tahunnya tetap di update masa berlaku custom domain-nya. Iya sayang sebenernya, tahun 2016 lalu blog ini saya daftarkan ke registrar menjadi (dot)com, tapi kemudian jadi kurang keurus. Tiap tahun mau kembangin ini blog, selalu aja moodnya tak pernah bikin saya gercep, ditambah lagi sayanya sedikit sibuk juga di dunia nyata. 

    Stop blogging? Ah tidak! Ilmair ini blog kesayangan saya banget, sudah jadi tempat nulis bertahun-tahun (dari 2008), dari beberapa blog yang saya punya, si ilmair ini yang paling saya sayang, karena saya punya segudang cerita di sini. Diantarannya ilmair ini sudah bantu self healing saya, plus bikin saya belajar banyak tentang dunia web dan "menghasilkan uang dari internet", walau nggak seberapa dan belum juga jadi blogger sukses saya nih, hihi. Ah google adsense saya yang dulu di suspend, pernah daftar lagi dan ditolak, ah perlu berbenah dulu nih kayanya.

    Dan sekarang, dunia blogging sudah berkembang pesat ya, saya ketinggalan banget! Sudah berhamburan para blogger keren ya di dunia maya ini. Hummm... waktunya saya juga update blog dan bergegas menyusul blogger lainnya, semoga ada kesempatan buat ngikutin jejak-jejak para blogger keren itu ya, bismillah. 




Blogwalking
    Kegiatan  mengunjung blog milik teman blogger lainnya lalu meninggalkan jejak di kolom komentarnya ini sudah jarang saya lakukan. Humm... terakhir tahun berapa ya saya rajin blogwalking? Ah sudah tak ingat juga rasanya. Kalau jaman awal saya ngeblog sih super rajin saya blogwalking, saling sapa dengan blogger lainnya, saling kasih tag persahabatan dan PR (seperti tugas yang harus dikerjakan - yang asik-asik aja biasanya, seperti pertanyaan seputar diri atau sharing tulisan untuk sebuah tema, dan nantinya kaya berantai gitu , jadi saling silaturahmi pokonya sesama blogger - Humm... jadi rindu ngeblog jaman dulu saya). Kalau jaman sekarang dari sejak beberapa tahun lalu katanya ada grup list blogwalking gitu ya (hummm... kalau yang ini saya ketinggalan juga kayanya).

    Ah iya padahal blogwalking itu termasuk suatu hal yang bagus juga ya untuk dilakukan, selain untuk silaturahmi, blogwalking bisa membuat seorang blogger jadi up to date dengan perkembangan dunia blogging, alias nggak ketinggalan berita. Oiya dengan blogwalking juga kita bisa mendapatkan inspirasi dan ilmu-ilmu baru ya dari membaca tulisan para blogger lainnya, bisa jadi bahan buat bikin tulisan kita juga nantinya, tentu dengan gaya bahasa kita sendiri.

    Ets...  tapi harus blogwalking sehat ya yang dilakukan, jangan pilih yang nggak sehat (hihi kaya makanan aja ya ada dua pilihan). Ah iya, katanya blogwalking itu punya dua sisi selayaknya koin ya, ada yang bermanfaat dan merugikan. Dan kaca mata utamanya tentu saja SEO yang terlahir dari niat, "hayooo niat blogwalking-mu apa?"

    Jangan sampai blogwalking yang kita lakukan itu merugikan blog yang kita kunjungi loh ya, walau otomatis saat itu kita juga merugikan diri sendiri. Hummm... iya jangan sampai kita jadi tukang nyepam ya, datang mengunjungi blog orang dengan cepat, baca artikelnya buru-buru bahkan nggak baca sama sekali, lalu asal komen plus nempelin link hidup di kolom komentarnya, hanya demi backlink? Aduuuh jangan deh berbuat begitu, itu nggak sehat, kalau begitu nanti kitanya dianggap spam dan reputasi blog yang kita kunjungi dengan cepat serta di  tempeli banyak link hidup itupun jadi buruk di mata google.

    Tukar klik iklan? Hummm... jangan pernah juga punya niat begini ya kalau mau blogwalking, takkan berkah pastinya ya, biarkan advertiser dan customernya bertemu dengan alami ya, blogger yang jadi publisher-nya hanya dititipkan iklan yang boleh diklik sama orang yang bener-bener tertarik untuk ngeklik.

    Blogwalking sehat? Ya ... untuk silaturahmi plus keperluan backlink tak apa-apa asal bukan nyepam, baca dengan baik artikel yang ada dan berkomentar juga dengan bijak, walau baiknya dengan tulus ya kita datang berkunjung. Lebih bagus lagi kalau jadi visitor organik yang datang dari pencarian google karena mencari artikel yang dibutuhkan. Ah saya mau banget dapat visitor organik, harus update blog terus nih! Update SEO nya juga.

Yuk Ah semangat ngeblog!!


My Goals, Kamu Dimana? part 3

Melanjutkan tulisan cerbung saya berjudul "My Goals, Kamu Dimana?", sahabat bisa baca tulisan sebelumnya "My Goals, Kamu Dimana? part 1" dan "My Goals, Kamu Dimana? part 2", semoga menginspirasi, selamat membaca

    Acara hari itu pun akhirnya di tutup dengan tepukan semangat dari semua yang datang, diiringi dengan musik serta tampilan video tentang bonus tahunan, trip ke beberapa Negara jika para agen mampu mencapai target yang telah ditentukan.

    “Ayooo Nay, jadikan itu goalsmu, semangat mencari prospek nasabah dan rekrut agen baru Nay! Ayooo masih ada waktu sampai akhir tahun,” suara Mbak Tifani terdengar setengah berteriak, karena suasana di ruangan itu masih begitu riuh.

    Aku hanya menjawabnya singkat, “hummm … iya Mbak in syaa Allah, semangat!”

    Kami keluar dari ruangan itu lalu berjalan menuju kantin di lantai dasar, bersama beberapa teman satu timnya Mbak Tifani. Energi di dalam tubuh ini rasanya memang terisi penuh, terbayang di kepala berderet rencanaku ke depan untuk mencari prospek. Yah … walau itu masih sebuah rencana yang semoga mampu aku jalankan, bukan hanya sekedar jadi wacana yang kemudian terlupakan.

    Usai makan siang aku ijin ke mushola, Mbak Tifani pun ikut beranjak dari duduknya, lalu pamit pada semua.

    “Nay, kamu pulangnya naik ‘cummuter line’ aja ya, Mbak ada perlu ini, nggak apa-apa kan?” ucap Mbak Tifani saat hampir tiba di area parkiran.

    “Ah iya nggak apa-apa Mbak duluan aja, iya gampang nanti aku pulang naik commuter line aja,” kami pun berpisah setelah ‘bercipika-cipiki’.

    Selesai sholat aku langsung berjalan ke arah jalan raya, kemudian menyetop metromini yang akan membawaku ke Stasiun KRL Sudirman.



    Hari ini merupakan hari kerja, hingga suasana siang hari di stasiun tidaklah terlalu padat. Aku duduk di kursi tunggu stasiun, karena jadwal kereta yang akan kunaiki baru akan tiba sekitar 20 menit lagi. Tepat di sebelahku duduk seorang Ibu, yang sedang asik memainkan handphonenya.

    Saat ibu itu melirik ke arahku dan tersenyum, jiwa marketingku pun mencuat, ada gerakan dari dalam diri untuk mengajaknya berbicara,

    “Keretanya lama juga ya Bu datengnya, tadi denger-denger masih beberapa stasiun lagi dari sini,” suaraku langsung meluncur ketika mata kami beradu untuk kesekian kalinya.

    “Eh iya nih dek, mana panas banget juga ya cuacanya, Ibu pingin buru-buru sampai rumah ini, mana kaki Ibu juga udah pegel lagi.” jawab Ibu itu, sambil menyeka peluh di keningnya dengan tisu.

    “Tapi bagusnya ini mah jamnya sepi ya dek, jadi pasti kebagian tempat duduk,” sambung ibu itu kembali.

    Dari obrolan pembuka itu pun kemudian mengalir obrolan-obrolan lainnya, baik itu seputar commuter line, macetnya Ibu kota, juga seputar belanjaan dan perbandingan baju-baju di Thamcit serta Tanah Abang.

    Ah, aku sendiri tak menyangka bisa sebegitu lancarnya kata demi kata ini megalir dari mulutku, walau dari obrolan yang terjadi, aku lebih banyak mendengarkan si ibu bercerita.

    “Eh adek kerja atau kuliah?” tanya ibu itu kemudian.

    “Ting” akupun langsung menemukan sebuah peluang. Ku keluarkan buku dan pulpen dari dalam tas, ku tawarkan untuk membantunya mengikuti program investasi yang menguntungkan, bersama kelebihannya yang bisa menjamin kesehatan di masa depan.

    “Ah iya dek, itu bagus banget, tapi kalau Ibu tuh nggak terlalu suka sama yang namanya investasi, bisnis aja sukanya langsung terjun jalaninnya. Nah ini, kaya bisnis kecil-kecilan ibu dek, jualan baju yang kaya gini ini, jalanin sendiri itu lebih jelas Dek uang kita larinya kemana. Kan kalau investasi itu kita kasih kepercayaan ke orangkan ya? Yang ngelola dan jalanin kan orang lain, kita cuma tahu beresnya aja. Dan ah itu juga nggak berasa perjuangannya Dek,” jawab ibu itu sambil menunjukkan bungkusan plastik yang berada di bawah kursinya.

    Baru saja bibir ini akan bergerak merespon ucapannya, kereta yang akan kami tumpangi pun akhirnya datang. Kami memilih duduk di gerbong kereta khusus wanita, dan seperti dugaan kami sebelumnya, gerbong itu begitu lenggang, hanya ada segelintir orang saja yang menempati kursi-kursinya.

    “Coba sini Dek, Ibu liat catatan Adek tadi … “ Kusodorkan buku yang berisi tulisanku.

    “Oh, ini ada investasi untuk kesehatanya juga ya dek, seperti a**ran*si gitu ya dek? Bagus programnya …” sambung ibu itu lagi.

    “Iya Bu, jadi ini seperti kita investasi buat kesehatan juga Bu, buat jaga-jaga, kalau kata orang mah seperti sedia payung sebelum hujan. Walau preminya baru dibayar selama tiga bulan tapi fasilitas kesehatannya udah bisa di klaim loh Bu! Daripada misalnya cuma nabung aja Bu, bisa lebih repot dong kalau ada masalah kesehatan mendadak dan uangnya belum terkumpul, iya nggak Bu?” kujabarkan penjelasan itu padanya, berharap Sang Ibu tertarik membuka premi.

    “Adek ini bisa aja … Humm … Iya sih ya Dek betul juga, kita ini memang harus sedia payung sebelum hujan, mempersiapkan masa depan ya Dek? Tapi maaf kalau Ibu boleh bilang, bahkan dibandingkan dengan nabung, ibu lebih suka investasi lain buat kesehatan dan kehidupan Ibu dan keluarga di masa depan Dek, lebih menguntungkan dan yang menjaminnya pun lebih bisa dipercaya …”

    “Eh … ada ya Bu?” tanyaku sedikit penasaran, hatiku pun lalu mulai gamang. "Hummm .. rasanya hari ini aku salah membaca orang … Ah salah menyasar prospek nih!" pikirku. 

    Energi dari dalam diri yang semula mencuat pun rasanya sedikit demi sedikit mulai meredup.

    “Investasi buat masa depan yang paling menguntungkan itu ya sedekah Dek. Dengan sedekah kita bukan hanya dapat untung di dunia aja, tapi sampai ke akhirat juga kan Dek, kalau niatnya Lillahita’ala. Kalau dihitung dengan rumus biasa mungkin nggak akan ketemu ya nilai untungnya segimana, keluarin aja uang, dititipin ke orang yang bahkan mungkin kita nggak kenal. Tapi kan udah ada yang nyatetin dan udah dijanjiin juga kalau sedekah itu seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Belum lagi banyak kebaikkan dari sedekah yang diantaranya bisa menyembuhkan penyakit juga, iya nggak Dek?”

    “Jleeb …” penjelasan Ibu itu pun membuat aku serasa di ‘skak-matt’, hilang rasanya semua kata-kata yang telah kupelajari dalam menghadapi ragam pertanyaan prospek. Bibir ini tiba-tiba terasa kelu, benar-benar tak bisa mengucap satu kata pun, hingga aku pun akhirnya hanya mengangguk saja sambil tersenyum.

Bersambung, selanjutnya di "My Goals, Kamu Dimana? Part 4

    

Jadikan Sabar dan Sholat Sebagai Penolongmu

    Hai diri, kamu sedang apa saat ini? Sedih, susah, atau sakitkah? Atau justru tengah senang, bahagia dan semua dalam hidupmu terasa mudah? Apapun yang kamu rasa saat ini, selalulah untuk menetapkan kesabaran di hatimu ya.

    Iya ... sabar itu harus selalu ada di hatimu bukan saat kamu ditimpa kesulitan saja. Tapi bahkan ketika duniamu rasanya penuh rona, sabaaar itu harus selalu ada, dimana kamu harus sabar menjaga ketaatanmu pada-Nya, juga menjaga hati, pikiran dan sikapmu agar tak salah arah.

    Kamu yang sedang hijrah? Sabarlah dalam keistiqomahan. Kamu yang sedang melihat dunia yang penuh dengan kemilaunya? Sabarlah dengan mejaga imanmu selalu. Kamu yang sedang mendapatkan pujian? Sabarlah dengan selalu sadar bahwa yang layak mendapat pujian itu hanyalah Allah. Atau kamu yang sedang sedih, susah, kecewa, patah, bahkan merasa diri penuh kesalahan dan keburukkan?

    Sabarlah dengan semua yang kamu hadapi itu, lalu bersabar pula melangkah terus pada-Nya. Bersabar pula untuk selalu yakin pada Allah bahwa akan ada bahagia setelah sedihmu, mudah setelah sulitmu, kebaikkan setelah keburukkan, jika kamu benar-benar bersabar untuk terus mendekat pada-Nya.    Begitupun dengan sholat, jangan pernah tinggalkan ya, utamanya yang wajib, lebih baik lagi tambahkan dengan sunnahnya. Ah sungguh sholat itu bisa saja terasa begitu berat jika tak disertai dengan kekhusuan.

Diapun berkata itu dalam surat cinta-Nya.


    Sungguh sabar dan sholat itu akan menolongmu saat kamu berjalan meniti hidup ini. Karena kamu memang membutuhkannya untuk mendapat petunjuk dari-Nya, pengabulan doa yang kamu pinta pada-Nya, penyerahan dirimu setelah kamu berikhtiar, penjagaan imanmu, hingga pada titik menggapai ridho-Nya dengan sabar dan sholat itu.

    Yuk jadikan sabar dan sholat sebagai penolong, semoga Allah berikan kamu kebahagiaan dan manisnya hidup terutama di akhirat kelak ya aamiin.

Viirus Cofid-19 (Corona) dan Takut Sama Allah

Virus covid-19 sekarang sudah jadi pandemi. Makhluk sekecil itu bisa membuat manusia seluruh dunia menjadi resah, bahkan mungkin dilanda rasa takut
Takut? Humm ya rasa itu memang wajar ada ya karena kita manusia. Tapi kita kan punya Allah, semua di dunia ini ada dalam kuasa-Nya. Dan memang benar solusi masalah hidup kita sungguh sesuai dengan janji-Nya, bertaqwa pada Allah. Begitu kan ya?


Ya ... menjaga setiap amanah dalam hidup ini, bukankah itu juga bagian dari taqwa, iya kan?
Pemimpin yang bertaqwa sudah pasti bisa menjaga amanah yang diembannya, menghadapi tha'un Umar Bin Khatab pun dahulu sigap mengikuti sabda Rasul, menerapkan LOCK DOWN dan mengikuti saran Amru Bin Ash melakukan SOCIAL DISTANCING, tentu telah siap juga menjaga keadaan agar kebutuhan umat terpenuhi.

Sekarang ... sudahkah itu dilakukan? Tak ingin bahas panjang, entah bagaimana pemerintah di sistem kapitalis negeri ini mengatasi masalah "covid-19", biar berita yang mengabarkannya, kita yang merasakan kebijakkannya humm ... Dan kita, harus tetap berusaha bukan? Menjaga amanah hidup, melakukan SOCIAL DISTANCING - menjaga jarak, menjauhi kerumunan, bahkan menetap di rumah.

Walau nyatanya tak semua orang bisa lakukan itu, orang-orang yang tiap harinya bergelut dijalanan atau perlu keluar rumah menjemput rezeki, termasuk pedagang kaki lima, buruh harian, pencari ronsokkan dan lainnya apa bisa di suruh diam di rumah dengan tanpa solusi? Siapa yang mau menanggung hidup mereka?

Jadi ... ya tentu aja hidup harus terus dijalani, menjaga amanah hidup juga pasti, semampu kita bisa, saling peduli juga semestinya. Itupun bagian dari taqwa bukan?

Menghadapi virus covid-19

Tidak panik, tapi juga tak abai ...
Bukan sekedar berdoa, karena perlu juga berusaha.
Saling perduli, itu pasti lebih baik

Virs covid-19 membuat kita semakin sadar, kita ini lemah dan pasti butuh Allah. Kita ini pelu berbenag mencari ridho-Nya apalagi kematian bisa datanga kapan saja. Kita ini tak boleh terpecah karena satu sama lain saling butuh dan berpengaruh.

Salut sama tim medis yang sudah berusaha sepenuh hati, juga sama orang-orang yang bergerak untuk peduli dengan sesama.

Ah aku ... ini tulisan bahkan nasehat untuk diri. Sudah melakukan apa aku sampai hari ini? Sudahkah menjalani amanah hidup dengan baik? Atau menjadi bagian dari solusi dan bertaqwa pada-Nya secara kaffah? 😶

Ya Allah mampukan kami melewati ini semua aamiin
Postingan ini memotong postingan "Goals" di ilmair, ah nanti kita sambung ya Goals part 2 nya ke part 3, potong dulu dengan postingan tentang covid-19

My Goals, Kamu Dimana? Part 2

    Melanjutkan tulisan cerbung saya berjudul "My Goals, Kamu Dimana?", sahabat bisa baca tulisan sebelumnya "My Goals, Kamu Dimana? Part 1 semoga menginspirasi, selamat membaca.

    Selama beberapa bulan sebelumnya aku memang hanya seorang pencari receh di dunia maya, menulis di blog pribadiku hingga kemudian menemukan beberapa peluang yang bisa menghasilkan uang. Aku juga sempat membuat kue dan roti, lalu menjualnya dengan cara konsinyasi, tapi bisa dibilang tak seberapa juga hasilnya, karena aku menjalaninya tanpa keseriusan dan ketekunan.

    Disaat penjual kue lainnya mungkin bisa bangun lebih pagi, membuat kue yang lebih banyak lalu menitipkannya di beberapa tempat, aku hanya baru mencoba-coba resep lalu menjualnya. Untuk proses yang satu itu memang tak sebaiknya kupelihara, karena keseriusan dan ketekunan itu seharusnya memang masuk ke dalam lembar ikhtiar dalam hidup. Walau pada akhirnya tetap Allah-lah yang menentukan hasilnya, apa yang terbaik bagi-Nya, itulah yang akan datang menghampiri diri.

    Ya … memang kemudian skenario Allah mempertemukan aku dengan sebuah kesempatan, bahkan beberapa kemudahan, tapi mungkin hasilnya akan jauh berbeda jika aku melakukan ikhtiar yang lebih baik lagi.


    Humm … proses, rasanya kurang tepat ya jika ikhtiar yang tak seberapa itu ku sebut sebagai sebuah proses yang membawaku pada sebuah kesempatan. Nyatanya Allah itu memang terlalu baik, karena ketika aku menelaah semua hal yang telah dihantarkan-Nya di dalam hidup, sungguh rasa malu pada-Nya pun akan hinggap di hati ini.

    Apalagi keluh kesah pada-Nya sering kali mencuat saat masalah hidup menghampiri, hingga terkadang aku pun bertanya-tanya, “kenapa sih Allah kasih masalah yang berat di dalam hidup? Kenapa harus aku yang menghadapi masalah seperti ini? Bosan aku dengan masalah, lelah rasanya Allah …”

    Di titik ini … aku memang belum bisa menemukan jawaban yang tepat untuk sebuah “proses”, apalagi jika aku hanya mencarinya di dalam teori dunia, kata “tak layak mendapat kesempatan” pasti tertunjuk tepat ke arahku.

    Tapi mungkin nanti … akan ada kepingan-kepingan puzzle jawaban yang aku temukan di perjalanan ini. Mungkin saat itu aku telah menemukan “goals” ku di depan, mungkin ....

    “Nay … hayuu turun! Kamu lagi mikirin apa sih? Humm … bagusnya sih kalau omongan Mbak tadi ya yang dipikirin. Tapi … jangan cuma disimpan di dalam kepala juga ya Nay, coba dilakuin dong Nay. Mbak mau ngomong berjuta kata motivasi dan semangat juga nggak akan jadi apa-apa Nay, kalau kamunya sendiri nggak mau menemukan “goals”mu itu,” suara Mbak Tifani menyadarkanku, segera ku masukkan buku dan pulpen yang sepanjang perjalanan tadi hanya sempat bertautan melalui jemari ini sesaat, kemudian sisanya hanya duduk manis terdiam di pangkuan, kontras dengan pikiran ini yang sedari tadi malah asik dengan ragam kata dan ingatan.

    Aku berjalan mengikuti langkah Mbak Tifani, memasuki Gedung berlantai 20 yang sudah kesekian kalinya kami kunjungi.

    “Kita charge lagi semangat kita disini ya Nay, kamu dengerin sharing temen-temen yang udah bisa mencapai targetnya bulan ini,” ucap Mbak Tifani ketika kami sampai di depan pintu lift.

    “Ah iya Mbak,”jawabku singkat sambil tersenyum.

    Suara musik dengan alunan yang menggelegar dan membangkitkan semangat terdengar saat pintu lift terbuka di lantai 20, energi di tubuhku pun terasa mengalir deras. Di dalam ruangan tempat asal suara musik itu tampak sudah dipenuhi dengan banyak orang, dengan wajah yang cerah dan penuh semangat.

    "Semangat Pagi.... Apa kabar Anda hari ini?" Sapa MC acara hari itu, yang dijawab dengan serempak oleh semua yang ada di dalam ruangan,
    
    "Luar biasa Dahsyat ...."
    Aku dan Mbak Tifani kemudian masuk dan duduk di kursi deretan tengah, sempat juga kami berpapasan dengan beberapa teman satu timnya Mba Tifani dan saling bersapa hangat.

    “Gimana nih closingannya orang sukses bulan ini?” tanya Mbak Pradita, leader satu tingkat di atas Mbak Tifani. Pertanyaan yang sebenarnya membuat aku sedikit minder, karena sejak lulus ujian lisensi keagenan tiga bulan yang lalu, aku belum juga bisa membawa data nasabah ke sini.

    “Ayoooo semangat! Harus optimis dan percaya diri kalau kamu pasti bisa Nay! Nggak boleh menyerah sama penolakkan ya, belajar terus dan kejar prospek terus Nay!” sambung Mbak Pradita saat melihat aku hanya tersenyum tegang mendengar pertanyaannya tadi, kemudian menepuk pelan lenganku dan duduk disamping Mbak Tifani.

    “Ah iya Mbak … “ jawabku .

    Beberapa orang kemudian di panggil ke depan oleh MC, mereka adalah teman-teman satu agency yang berhasil mengejar target closing lebih dari dua nasabah bulan ini. Secara bergantian teman dengan nilai tertinggi maupun agen baru yang sudah berprestasi itu berbagi cerita tentang pengalaman sukses mereka.

    Mataku merekam dengan apik cerita mereka, tentang rasa syukur dan juga kisah perjuangan mereka. Latar belakang orang-orang yang berbagi itu sungguh tak sama, dari yang kutangkap kesuksesan yang didapat itu bukanlah soal berapa banyak teman dan saudara yang mereka punya, juga bukan soal dari kalangan berada atau tidaknya meraka. Tapi tentu saja itu semua soal bagaimana tekun dan gigihnya mereka berusaha dalam mengejar goalsnya masing-masing.

    Mbak Tifani melirik ke arahku, saat seorang Ibu berbagi kisah di depan,
    “Nay, kamu dengar kan cerita ibu itu, dia itu hanya seorang Ibu rumah tangga loh tadinya, bukan dari kalangan berada bahkan. Saudaranya mungkin banyak yang punya cukup uang untuk bisa dia closingkan menjadi nasabah, tapi tak satu pun dari orang terdekatnya itu yang menerimanya sebagai financial planner. Ditolak, diacuhkan bahkan sampai disepelekan tak membuatnya gentar, hingga akhirnya dia mampu closingkan orang-orang yang baru dia kenal. Eh … ibu rumah tangga loh Nay, nggak pernah punya background apapun di bisnis kita ini, bahkan belum pernah juga jadi marketing apapun sebelumnya. Jadi jangan beralasan ya Nay, semua orang pasti bisa sukses kalau ada kemauan Nay, dan harus punya goals …” ucap Mbak Tifani.

    Sebuah video tentang perjuangan dan kesuksesan pun di putar di depan, mata ku tak berhenti merekam setiap adegannya disana.

Bersambung.... (selanjutnya di goals part 3)

My Goals, Kamu Dimana? Part 1

    "Kamu harus punya goals dong Nay! Sesuatu yang akan mendorong kamu untuk bergerak dan lakuin yang terbaik. Bukan cuma mimpi loh ya, kalau cuma mimpi sambil tidur juga semua orang bisa. Goals Nay ... goals! Coba tentukan goals kamu, baik itu jangka pendek dan juga jangka panjangnya. Tulis di buku Nay keinginanmu apa aja, pingin dapet penghasilan berapa sebulan misalnya. Terus tentuin berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai goals kamu itu, untuk kamu usahain nantinya. Ya bayanginnya sambil di hitung ya Nay, bukan asal-asal aja. Coba hitung, untuk meraih goals itu kamu perlu closingkan berapa orang dalam satu bulan, terus hitung juga kira-kira harus berapa kali kamu menemui prospek dalam satu hari untuk kejar closingan sebulan itu," ucap Mba Tifani sambil sesekali melirik ke arahku, walau fokus pandangannya pada jalanan di depan juga tetap tak terpecah, tangannya itu sudah cukup terampil memegang kemudi mobilnya.
 
    Aku yang duduk disampingnya hanya diam, mendengarkan dan mencerna dengan baik kata-kata yang diucapkannya. Walau belum bisa rasanya kubayangkan tentang "goals" yang ia maksud itu mampu membuat diri bergerak.


    "Jangan cuma bengong dong Nay, ambil buku dan pulpenmu sekarang! Jangan ditunda nanti!" Kali ini ucapan Mbak Tifani membuat aku bergerak mengambil buku dan pulpen dari dalam tas.

    "Kamu yakin mau terus hidup dengan aliran airmu itu Nay? Hum ... ya itu terserah kamu, tapi mestinya kamu pikirin, apa yang dilakukan hari ini akan berpengaruh dengan masa depanmu loh Nay. Pikirin juga Ibumu Nay, yang sekarang lagi kerepotan ngurusin Ayahmu yang lagi sakit stroke itu kan katamu? Kamu pasti senang kan kalau bisa meringankan bebannya karena udah bisa ngurus masa depanmu sendiri, malah mungkin nantinya bisa ikut ngebantu pengobatan Ayah juga kan Nay?" Mbak Tifani mengatakan itu ketika melihatku hanya menuliskan beberapa kata di dalam buku sambil tampak termenung kemudian.

    Ah tak mudah rasanya menuliskan berapa nilai yang aku inginkan, lalu menghitung rumus seperti yang Mbak Tifani jelaskan tadi. Kalau hanya menuliskan beberapa angka saja mungkin mudah, tapi ketika meraba rasa yakin pada diri sendiri, aku seakan kehilangan angka-angka itu, jari tangan ini seakan kaku dan tak bisa digerakkan.

    Mbak Tifani yang baru kukenal selama 5 bulan ini sepertinya sudah menangkap salah satu kelemahanku. Ah iya … seorang Nayla yang tak lulus kuliah ini memang ditemukannya dalam keadaan gamang tentang masa depan, seperti seseorang yang tak tahu ingin mengejar apa dalam hidupnya dan tak cukup punya kepercayaan akan kemampuan diri.

    Aku bertemu Mbak Tifani di ruang tunggu salah satu Rumah Sakit swasta, di saat aku dan ibu mengantar ayah pergi berobat. Mbak Tifani dengan gaya supelnya saat itu menyapaku, lalu si pendiam ini pun dengan mudahnya dibawa dalam obrolan yang cukup menyenangkan, hingga sebuah kertas pun disodorkannya kepadaku …

    “Business Opportunity” deretan kata itu terbaca oleh dua mataku ...

    Mbak Tifani lalu menjelaskan sepintas tentang sebuah bisnis yang dia jalani, bisnis yang bisa membuat aku sukses di masa depan katanya, jika aku menekuninya dengan baik.

    Ayah yang saat itu ikut mendengarkan obrolan kami dan sesekali menimbrung juga langsung menyatakan persetujuannya, ketika kemudian Mbak Tifani menanyakan boleh tidaknya anak bungsunya ini di bawa ke sebuah seminar di Jakarta Pusat keesokkan harinya. Begitupun dengan Ibu, tanpa banyak bertanya beliau pun mengiyakan saja.

    Walau begitu tetap saja rasa khawatir dari keduanya terhadapku begitu tampak, karena ketika aku akhirnya pergi bersama Mbak Tifani keesokan harinya, Ibu selalu berusaha menghubungi dan menanyakan keberadaanku, baik dengan menelepon langsung, mengirimkan pesan atau melalui Mas Dion, kakak laki-lakiku, yang dimintanya juga mengontakku sesering mungkin pada saat itu.

    “Humm … katanya kemarin boleh pergi sama Mbak Tifani ke Jakarta, tapi kenapa tiap satu jam sekali Nayla selalu di telepon sih Bu? Kaya Ayah tuh, adem ayem aja, cuma sms satu kali aja,” protesku sesampainya di rumah.

    “Eh … siapa bilang ayahmu itu adem ayem Nay, nah itu yang minta ibu dan Mas Dion hubungi kamu terus dari tadi itu siapa? Ya Ayah … Bahkan Ayahmu itu sampai bilang, gimana kalau anak gadisnya yang pendiam ini sampai diculik, dibawa ke negeri orang, seperti gadis desa yang sedang mencari pekerjaan di kota Jakarta lalu ditipu orang,” jawab ibu.

    “Ah … ayah, ada-ada aja, biar gini-gini juga anak bungsu ayah ini bisa jaga diri atuh. Lagian dulu Nayla kuliah di Bogor pulang pergi juga nggak apa-apa, ini nggak sampai seharian pergi aja segitunya.” Ayah hanya tersenyum saja di tempat tidurnya saat aku menyampaikan protesku.

    “Nay, Ayah itu lagi stroke, lagi banyak pikiran, lagian Ayah begitu juga karena sayang sama kamu kan, sebegitu khawatirnya Ayah sama kamu,” kata Mbak Giya, kakak perempuanku yang membuatku akhirnya mengerti dan tak menggerutu lagi.

***
    Pertemuanku dengan Mbak Tifani saat itu memang menjadi sebuah pintu kesempatan yang membuat hidupku berubah. Dan pertemuan itu pasti merupakan salah satu skenario dari-Nya, tak pernah direncanakan, bahkan seperti sebuah kesempatan yang datang tepat disaat aku membutuhkannya.

    Ya... terkadang dalam hidup ini memang ada banyak kesempatan yang tak pernah kita duga datangnya, secara tiba-tiba saja rasanya Allah hantarkan, bahkan seperti seolah tak pernah kita upayakan ataupun pinta. Humm … bisa saja begitu, jika Allah memang maunya begitu. Tapi salah jika kita bilang semua itu terjadi begitu saja, karena bisa jadi apa yang kita terima itu merupakan hasil dari proses-proses yang telah kita lalui sebelumnya, walau mungkin tak akan selalu sama jalannya.

    “Proses? Humm… proses apa ya yang ku lalui hingga bisa berada di titik menemukan kesempatan itu?” Pertanyaan itu sempat terlintas juga dibenakku, karena nyatanya seorang Nayla ini memang benar-benar sedang berjalan mengikuti aliran air saja, melakukan usaha-usaha kecil yang tanpa ambisi akan mimpi besar di depan, tanpa goals, setelah beberapa tahun sebelumnya berhenti kuliah karena suatu masalah yang tak bisa diatasi.

Bersambung.... (selanjutnya di My Goals Part 2)

Mencoba menuliskan cerbung di ilmair, semoga menginspirasi

Translate