"Bismillahirrahmanirrahim"

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software

Viirus Cofid-19 (Corona) dan Takut Sama Allah

Virus covid-19 sekarang sudah jadi pandemi. Makhluk sekecil itu bisa membuat manusia seluruh dunia menjadi resah, bahkan mungkin dilanda rasa takut
Takut? Humm ya rasa itu memang wajar ada ya karena kita manusia. Tapi kita kan punya Allah, semua di dunia ini ada dalam kuasa-Nya. Dan memang benar solusi masalah hidup kita sungguh sesuai dengan janji-Nya, bertaqwa pada Allah. Begitu kan ya?


Ya ... menjaga setiap amanah dalam hidup ini, bukankah itu juga bagian dari taqwa, iya kan?
Pemimpin yang bertaqwa sudah pasti bisa menjaga amanah yang diembannya, menghadapi tha'un Umar Bin Khatab pun dahulu sigap mengikuti sabda Rasul, menerapkan LOCK DOWN dan mengikuti saran Amru Bin Ash melakukan SOCIAL DISTANCING, tentu telah siap juga menjaga keadaan agar kebutuhan umat terpenuhi.

Sekarang ... sudahkah itu dilakukan? Tak ingin bahas panjang, entah bagaimana pemerintah di sistem kapitalis negeri ini mengatasi masalah "covid-19", biar berita yang mengabarkannya, kita yang merasakan kebijakkannya humm ... Dan kita, harus tetap berusaha bukan? Menjaga amanah hidup, melakukan SOCIAL DISTANCING - menjaga jarak, menjauhi kerumunan, bahkan menetap di rumah.

Walau nyatanya tak semua orang bisa lakukan itu, orang-orang yang tiap harinya bergelut dijalanan atau perlu keluar rumah menjemput rezeki, termasuk pedagang kaki lima, buruh harian, pencari ronsokkan dan lainnya apa bisa di suruh diam di rumah dengan tanpa solusi? Siapa yang mau menanggung hidup mereka?

Jadi ... ya tentu aja hidup harus terus dijalani, menjaga amanah hidup juga pasti, semampu kita bisa, saling peduli juga semestinya. Itupun bagian dari taqwa bukan?

Menghadapi virus covid-19

Tidak panik, tapi juga tak abai ...
Bukan sekedar berdoa, karena perlu juga berusaha.
Saling perduli, itu pasti lebih baik

Virs covid-19 membuat kita semakin sadar, kita ini lemah dan pasti butuh Allah. Kita ini pelu berbenag mencari ridho-Nya apalagi kematian bisa datanga kapan saja. Kita ini tak boleh terpecah karena satu sama lain saling butuh dan berpengaruh.

Salut sama tim medis yang sudah berusaha sepenuh hati, juga sama orang-orang yang bergerak untuk peduli dengan sesama.

Ah aku ... ini tulisan bahkan nasehat untuk diri. Sudah melakukan apa aku sampai hari ini? Sudahkah menjalani amanah hidup dengan baik? Atau menjadi bagian dari solusi dan bertaqwa pada-Nya secara kaffah? 😶

Ya Allah mampukan kami melewati ini semua aamiin
Postingan ini memotong postingan "Goals" di ilmair, ah nanti kita sambung ya Goals part 2 nya ke part 3, potong dulu dengan postingan tentang covid-19

Goals Part 2

Selama beberapa bulan sebelumnya aku memang hanya seorang pencari receh di dunia maya, menulis di blog pribadi ku hingga kemudian menemukan beberapa peluang yang bisa menghasilkan uang. Aku juga sempat membuat kue dan roti, lalu menjualnya dengan cara konsinyasi, tapi bisa dibilang tak seberapa juga hasilnya, karena aku menjalaninya tanpa sebuah keseriusan dan ketekunan.

Disaat penjual kue lainnya mungkin bisa bangun lebih pagi, membuat kue yang lebih banyak lalu menitipkannya di beberapa tempat, aku hanya baru mencoba-coba resep lalu menjualnya. Untuk proses yang satu itu jangan pernah ditiru ya, karena keseriusan dan ketekunan itu seharusnya memang masuk ke dalam lembar ikhtiar kita. Walau pada akhirnya tetap Allah-lah yang menentukan hasilnya, apa yang terbaik bagi-Nya, itulah yang akan datang menghampiri kita.

Ya … memang kemudian skenario Allah mempertemukan aku dengan sebuah kesempatan, bahkan beberapa kemudahan, tapi mungkin hasilnya akan jauh berbeda jika aku melakukan ikhtiar yang lebih baik lagi.

Humm … proses, rasanya kurang tepat ya jika ikhtiar yang tak seberapa itu ku sebut sebagai sebuah proses yang membawaku pada sebuah kesempatan. Nyatanya Allah itu memang terlalu baik, karena ketika aku menelaah semua hal yang telah dihantarkan-Nya di dalam hidup , sungguh rasa malu pada-Nya pun akan hinggap di hati ini.

Apalagi keluh kesah pada-Nya sering kali mencuat saat masalah hidup menghampiri, hingga terkadang aku pun bertanya-tanya, “kenapa sih Allah kasih masalah yang berat di dalam hidup? Kenapa harus aku yang menghadapi masalah seperti ini? Bosan aku dengan masalah, lelah rasanya Allah …” Di titik ini … aku memang belum bisa menemukan jawaban yang tepat untuk sebuah “proses”, apalagi jika aku hanya mencarinya di dalam teori dunia, kata “tak layak mendapat kesempatan” pasti tertunjuk tepat ke arahku.

Tapi mungkin nanti … akan ada kepingan-kepingan puzzle jawaban yang aku temukan di perjalanan ini. Mungkin saat itu aku telah menemukan “goals” ku di depan, mungkin ....

*****

“Nay … hayuu turun! Kamu lagi mikirin apa sih? Humm … bagusnya sih kalau omongan Mbak tadi ya yang dipikirin. Tapi … jangan cuma disimpan di dalam kepala juga ya Nay, coba dilakuin dong Nay. Mbak mau ngomong berjuta kata motivasi dan semangat juga nggak akan jadi apa-apa Nay, kalau kamunya sendiri nggak mau menemukan “goals”mu itu,” suara Mbak Tifani menyadarkanku, segera ku masukkan buku dan pulpen yang sepanjang perjalanan tadi hanya sempat bertautan melalui jemari ini sesaat, kemudian sisanya hanya duduk manis terdiam di pangkuan, kontras dengan pikiran ini yang sedari tadi malah asik dengan ragam kata dan ingatan.

Aku berjalan mengikuti langkah Mbak Tifani, memasuki Gedung berlantai 20 yang sudah kesekian kalinya kami kunjungi. “Kita charge lagi semangat kita disini ya Nay, kamu dengerin sharing temen-temen yang udah bisa mencapai targetnya bulan ini,” ucap Mbak Tifani ketika kami sampai di depan pintu lift.

“Ah iya Mbak,”jawabku singkat sambil tersenyum.

Suara musik dengan alunan yang menggelegar dan membangkitkan semangat terdengar saat pintu lift terbuka di lantai 20, energi di tubuhku pun terasa mengalir deras. Di dalam ruangan tempat asal suara musik itu tampak sudah dipenuhi dengan banyak orang, dengan wajah yang cerah dan penuh semangat.

"Semangat Pagi.... Apa kabar Anda hari ini?" Sapa MC acara hari itu, yang dijawab dengan serempak oleh semua yang ada di dalam ruangan, "Luar biasa Dahsyat ...."

Aku dan Mbak Tifani kemudian masuk dan duduk di kursi deretan tengah, sempat juga kami berpapasan dengan beberapa teman satu timnya Mba Tifani dan saling bersapa hangat.

“Gimana nih closingannya orang sukses bulan ini?” tanya Mbak Pradita, leader satu tingkat di atas Mbak Tifani. Pertanyaan yang sebenarnya membuat aku sedikit minder, karena sejak lulus ujian lisensi keagenan tiga bulan yang lalu, aku belum juga bisa membawa data nasabah ke sini.

“Ayoooo semangat! Harus optimis dan percaya diri kalau kamu pasti bisa Nay! Nggak boleh menyerah sama penolakkan ya, belajar terus dan kejar prospek terus Nay!” sambung Mbak Pradita saat melihat aku hanya tersenyum tegang mendengar pertanyaannya tadi, kemudian menepuk pelan lenganku dan duduk disamping Mbak Tifani.

“Ah iya Mbak … “ jawabku.

Beberapa orang kemudian di panggil ke depan oleh MC, mereka adalah teman-teman satu agency yang berhasil mengejar target closing lebih dari dua nasabah bulan ini. Secara bergantian teman dengan nilai tertinggi maupun agen baru yang sudah berprestasi itu berbagi cerita tentang pengalaman sukses mereka. Mataku merekam dengan apik cerita mereka, tentang rasa syukur dan juga kisah perjuangan mereka.

Latar belakang orang-orang yang berbagi itu sungguh tak sama, dari yang kutangkap kesuksesan yang didapat itu bukanlah soal berapa banyak teman dan saudara yang mereka punya, juga bukan soal dari kalangan berada atau tidaknya meraka. Tapi tentu saja itu semua soal bagaimana tekun dan gigihnya mereka berusaha dalam mengejar goalsnya masing-masing.

Mbak Tifani melirik ke arahku, saat seorang Ibu berbagi kisah di depan, “Nay, kamu dengar kan cerita ibu itu, dia itu hanya seorang Ibu rumah tangga loh tadinya, bukan dari kalangan berada bahkan. Saudaranya mungkin banyak yang punya cukup uang untuk bisa dia closingkan menjadi nasabah, tapi tak satu pun dari orang terdekatnya itu yang menerimanya sebagai financial planner. Ditolak, diacuhkan bahkan sampai disepelekan tak membuatnya gentar, hingga akhirnya dia mampu closingkan orang-orang yang baru dia kenal. Eh … ibu rumah tangga loh Nay, nggak pernah punya background apapun di bisnis kita ini, bahkan belum pernah juga jadi marketing apapun sebelumnya. Jadi jangan beralasan ya Nay, semua orang pasti bisa sukses kalau ada kemauan Nay, dan harus punya goals …” ucap Mbak Tifani. Sebuah video tentang perjuangan dan kesuksesan pun di putar di depan, mata ku tak berhenti merekam setiap adegannya disana.

Bersambung ...

Goals part 1

"Kamu harus punya goalss dong Nay! Sesuatu yang akan mendorong kamu untuk bergerak dan lakuin yang terbaik. Bukan cuma mimpi loh ya, kalau cuma mimpi sambil tidur juga semua orang bisa. Goals Nay ... goals! Coba tentukan goals kamu, jangka pendeknya apa, terus jangka panjangnya juga. Kamu tulis di buku, yang kamu pingin apa aja, pingin dapet penghasilan berapa sebulan misalnya. Terus tulis juga jangka waktu yang kamu perlukan berapa lama untuk mencapai goals kamu itu, dari usaha yang ingin kamu lakukan sekarang. Ya bayanginnya sambil di hitung ya Nay, bukan asal-asal aja. Coba kamu hitung, untuk meraih goal itu kamu perlu closingkan berapa orang dalam satu bulan, terus hitung juga perkiraan berapa kali prospek yang harus kamu lakukan dalam satu hari untuk kejar closingan sebulan itu," ucap Mba Tifani sambil sesekali melirik ke arahku, walau fokus pandangannya pada jalanan di depan juga tetap tak terpecah, tangannya itu cukup cekatan memegang kemudi mobilnya.

Aku yang duduk disampingnya hanya diam, mendengakan dan mencerna dengan baik kata-kata yang diucapkannya. Walau belum bisa rasanya kubayangkan tentang "goals" yang ia maksud itu mampu membuat aku untuk bergerak.

"Jangan cuma bengong dong Nay, ambil buku dan pulpenmu sekarang! Jangan ditunda nanti!" Kali ini ucapan Mbak Tifani membuat aku bergerak mengambil buku dan pulpen dari dalam tas.

"Kamu yakin mau terus hidup dengan aliran airmu itu Nay? Hum ... ya itu terserah kamu, tapi satu hal aja yang mestinya kamu pikirin, apa yang dilakukan hari ini akan berpengaruh dengan masa depanmu Nay. Pikirin juga Ibumu Nay, yang sekarang lagi kerepotan ngurusin Ayahmu yang lagi sakit stroke itu kan katamu? Kamu pasti senang kan kalau bisa meringankan bebannya karena udah bisa ngurus masa depanmu sendiri, malah mungkin nantinya bisa ikut ngebantu pengobatan Ayah juga kan Nay?" Mbak Tifani mengatakan itu ketika melihatku hanya menuliskan beberapa kata di dalam buku sambil tampak termenung kemudian.

Ah tak mudah rasanya menuliskan berapa nilai yang aku inginkan, lalu menghitung rumus seperti yang Mbak Tifani jelaskan tadi. Kalau hanya menuliskan beberapa angka saja mungkin mudah, tapi ketika meraba rasa yakinku pada diri sendiri, aku seakan kehilangan angka-angka itu, jari tangan ini seakan kaku dan tak bisa digerakkan.

Mbak Tifani yang baru kukenal selama 5 bulan ini sepertinya sudah menangkap salah satu kelemahanku. Ah iya … seorang Nayla yang tak lulus kuliah ini memang ditemukannya dalam keadaan gamang tentang masa depan, seperti seseorang yang tak tahu ingin mengejar apa dalam hidupnya dan tak cukup punya kepercayaan akan kemampuan diri.

Aku bertemu Mbak Tifani di ruang tunggu salah satu Rumah Sakit swasta, di saat aku dan ibu mengantar ayah pergi berobat. Mbak Tifani dengan gaya supelnya saat itu menyapaku, lalu si pendiam ini pun dengan mudahnya dibawa dalam obrolan yang cukup menyenangkan, hingga sebuah kertas pun disodorkannya kepadaku …

“Business Opportunity” deretan kata itu terbaca oleh dua mataku ...

Mbak Tifani lalu menjelaskan sepintas kepadaku tentang sebuah bisnis yang dia jalani, bisnis yang bisa membuat aku sukses di masa depan katanya, jika aku menekuninya dengan baik.
Ayah yang saat itu ikut mendengarkan obrolan kami dan sesekali menimbrung juga langsung menyatakan persetujuannya, ketika kemudian Mbal Tifani menanyakan boleh tidaknya anak bungsunya ini di bawa ke sebuah seminar di Jakarta Pusat keesokkan harinya. Begitupun dengan Ibu, tanpa banyak bertanya beliau pun mengiyakan saja.
Walau begitu tetap saja rasa khawatir dari keduanya terhadapku begitu tampak, karena ketika aku akhirnya pergi bersama Mbak Tifani keesokan harinya, ibu selalu berusaha menghubungi dan menanyakan keberadaanku, baik dengan menelepon langsung, mengirimkan pesan atau melalui Mas Dion, kakak laki-lakiku, yang dimintanya juga mengontakku sesering mungkin pada saat itu.
“Humm … katanya kemarin boleh pergi sama Mbak Tifani ke Jakarta, tapi kenapa tiap satu jam sekali Nayla selalu di telepon sih Bu? Kaya Ayah tuh, adem ayem aja, cuma sms satu kali aja,” protesku sesampainya di rumah.
“Eh … siapa bilang ayahmu itu adem ayem Nay, nah itu yang minta ibu dan Mas Dion hubungi kamu terus dari tadi itu siapa? Ya Ayah … Bahkan Ayahmu itu sampai bilang, gimana kalau anak gadisnya yang pendiam ini sampai diculik, dibawa ke negeri orang, seperti gadis desa yang sedang mencari pekerjaan di kota Jakarta lalu ditipu orang,” jawab ibu.
“Ah … ayah, ada-ada aja, biar gini-gini juga anak bungsu ayah ini bisa jaga diri atuh. Lagian dulu Nayla kuliah di Bogor pulang pergi juga nggak apa-apa, ini nggak sampai seharian pergi aja segitunya.” Ayah hanya tersenyum saja di tempat tidurnya saat aku menyampaikan protesku.
“Nay, Ayah itu lagi stroke, lagi banyak pikiran, lagian Ayah begitu juga karena sayang sama kamu kan, sebegitu khawatirnya Ayah sama kamu,” kata Mbak Giya, kakak perempuanku yang membuatku akhirnya mengerti dan tak menggerutu lagi.
***
Pertemuanku dengan Mbak Tifani saat itu memang menjadi sebuah pintu bagiku, pintu kesempatan yang membuat hidupku berubah. Dan pertemuan itu pasti merupakan salah satu skenario dari-Nya, tak pernah direncanakan, bahkan seperti sebuah kesempatan yang datang tepat disaat aku membutuhkannya.
Ya .. terkadang dalam hidup ini memang ada banyak kesempatan yang tak pernah kita duga datangnya, secara tiba-tiba saja rasanya Allah hantarkan, bahkan seperti seolah tak pernah kita upayakan ataupun pinta. Humm … bisa saja begitu, jika Allah memang maunya begitu. Tapi salah jika kita bilang semua itu terjadi begitu saja, karena bisa jadi apa yang kita terima itu merupakan hasil dari proses-proses yang telah kita lalui sebelumnya, walau mungkin tak akan selalu sama jalannya.
Proses? Lalu proses apa ya yang ku lalui hingga bisa berada di titik menemukan kesempatan itu? Pertanyaan itu sempat terlintas juga dibenakku, karena nyatanya seorang Nayla ini memang benar-benar sedang berjalan mengikuti aliran air saja, melakukan usaha-usaha kecil yang tanpa ambisi akan mimpi besar di depan, tanpa goals, setelah beberapa tahun sebelumnya berhenti kuliah karena suatu masalah yang tak bisa diatasi.
bersambung ...

Translate