"Bismillahirrahmanirrahim"

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software

My Goals, Kamu Dimana? Part 1

    "Kamu harus punya goals dong Nay! Sesuatu yang akan mendorong kamu untuk bergerak dan lakuin yang terbaik. Bukan cuma mimpi loh ya, kalau cuma mimpi sambil tidur juga semua orang bisa. Goals Nay ... goals! Coba tentukan goals kamu, baik itu jangka pendek dan juga jangka panjangnya. Tulis di buku Nay keinginanmu apa aja, pingin dapet penghasilan berapa sebulan misalnya. Terus tentuin berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai goals kamu itu, untuk kamu usahain nantinya. Ya bayanginnya sambil di hitung ya Nay, bukan asal-asal aja. Coba hitung, untuk meraih goals itu kamu perlu closingkan berapa orang dalam satu bulan, terus hitung juga kira-kira harus berapa kali kamu menemui prospek dalam satu hari untuk kejar closingan sebulan itu," ucap Mba Tifani sambil sesekali melirik ke arahku, walau fokus pandangannya pada jalanan di depan juga tetap tak terpecah, tangannya itu sudah cukup terampil memegang kemudi mobilnya.
 
    Aku yang duduk disampingnya hanya diam, mendengarkan dan mencerna dengan baik kata-kata yang diucapkannya. Walau belum bisa rasanya kubayangkan tentang "goals" yang ia maksud itu mampu membuat diri bergerak.


    "Jangan cuma bengong dong Nay, ambil buku dan pulpenmu sekarang! Jangan ditunda nanti!" Kali ini ucapan Mbak Tifani membuat aku bergerak mengambil buku dan pulpen dari dalam tas.

    "Kamu yakin mau terus hidup dengan aliran airmu itu Nay? Hum ... ya itu terserah kamu, tapi mestinya kamu pikirin, apa yang dilakukan hari ini akan berpengaruh dengan masa depanmu loh Nay. Pikirin juga Ibumu Nay, yang sekarang lagi kerepotan ngurusin Ayahmu yang lagi sakit stroke itu kan katamu? Kamu pasti senang kan kalau bisa meringankan bebannya karena udah bisa ngurus masa depanmu sendiri, malah mungkin nantinya bisa ikut ngebantu pengobatan Ayah juga kan Nay?" Mbak Tifani mengatakan itu ketika melihatku hanya menuliskan beberapa kata di dalam buku sambil tampak termenung kemudian.

    Ah tak mudah rasanya menuliskan berapa nilai yang aku inginkan, lalu menghitung rumus seperti yang Mbak Tifani jelaskan tadi. Kalau hanya menuliskan beberapa angka saja mungkin mudah, tapi ketika meraba rasa yakin pada diri sendiri, aku seakan kehilangan angka-angka itu, jari tangan ini seakan kaku dan tak bisa digerakkan.

    Mbak Tifani yang baru kukenal selama 5 bulan ini sepertinya sudah menangkap salah satu kelemahanku. Ah iya … seorang Nayla yang tak lulus kuliah ini memang ditemukannya dalam keadaan gamang tentang masa depan, seperti seseorang yang tak tahu ingin mengejar apa dalam hidupnya dan tak cukup punya kepercayaan akan kemampuan diri.

    Aku bertemu Mbak Tifani di ruang tunggu salah satu Rumah Sakit swasta, di saat aku dan ibu mengantar ayah pergi berobat. Mbak Tifani dengan gaya supelnya saat itu menyapaku, lalu si pendiam ini pun dengan mudahnya dibawa dalam obrolan yang cukup menyenangkan, hingga sebuah kertas pun disodorkannya kepadaku …

    “Business Opportunity” deretan kata itu terbaca oleh dua mataku ...

    Mbak Tifani lalu menjelaskan sepintas tentang sebuah bisnis yang dia jalani, bisnis yang bisa membuat aku sukses di masa depan katanya, jika aku menekuninya dengan baik.

    Ayah yang saat itu ikut mendengarkan obrolan kami dan sesekali menimbrung juga langsung menyatakan persetujuannya, ketika kemudian Mbak Tifani menanyakan boleh tidaknya anak bungsunya ini di bawa ke sebuah seminar di Jakarta Pusat keesokkan harinya. Begitupun dengan Ibu, tanpa banyak bertanya beliau pun mengiyakan saja.

    Walau begitu tetap saja rasa khawatir dari keduanya terhadapku begitu tampak, karena ketika aku akhirnya pergi bersama Mbak Tifani keesokan harinya, Ibu selalu berusaha menghubungi dan menanyakan keberadaanku, baik dengan menelepon langsung, mengirimkan pesan atau melalui Mas Dion, kakak laki-lakiku, yang dimintanya juga mengontakku sesering mungkin pada saat itu.

    “Humm … katanya kemarin boleh pergi sama Mbak Tifani ke Jakarta, tapi kenapa tiap satu jam sekali Nayla selalu di telepon sih Bu? Kaya Ayah tuh, adem ayem aja, cuma sms satu kali aja,” protesku sesampainya di rumah.

    “Eh … siapa bilang ayahmu itu adem ayem Nay, nah itu yang minta ibu dan Mas Dion hubungi kamu terus dari tadi itu siapa? Ya Ayah … Bahkan Ayahmu itu sampai bilang, gimana kalau anak gadisnya yang pendiam ini sampai diculik, dibawa ke negeri orang, seperti gadis desa yang sedang mencari pekerjaan di kota Jakarta lalu ditipu orang,” jawab ibu.

    “Ah … ayah, ada-ada aja, biar gini-gini juga anak bungsu ayah ini bisa jaga diri atuh. Lagian dulu Nayla kuliah di Bogor pulang pergi juga nggak apa-apa, ini nggak sampai seharian pergi aja segitunya.” Ayah hanya tersenyum saja di tempat tidurnya saat aku menyampaikan protesku.

    “Nay, Ayah itu lagi stroke, lagi banyak pikiran, lagian Ayah begitu juga karena sayang sama kamu kan, sebegitu khawatirnya Ayah sama kamu,” kata Mbak Giya, kakak perempuanku yang membuatku akhirnya mengerti dan tak menggerutu lagi.

***
    Pertemuanku dengan Mbak Tifani saat itu memang menjadi sebuah pintu kesempatan yang membuat hidupku berubah. Dan pertemuan itu pasti merupakan salah satu skenario dari-Nya, tak pernah direncanakan, bahkan seperti sebuah kesempatan yang datang tepat disaat aku membutuhkannya.

    Ya... terkadang dalam hidup ini memang ada banyak kesempatan yang tak pernah kita duga datangnya, secara tiba-tiba saja rasanya Allah hantarkan, bahkan seperti seolah tak pernah kita upayakan ataupun pinta. Humm … bisa saja begitu, jika Allah memang maunya begitu. Tapi salah jika kita bilang semua itu terjadi begitu saja, karena bisa jadi apa yang kita terima itu merupakan hasil dari proses-proses yang telah kita lalui sebelumnya, walau mungkin tak akan selalu sama jalannya.

    “Proses? Humm… proses apa ya yang ku lalui hingga bisa berada di titik menemukan kesempatan itu?” Pertanyaan itu sempat terlintas juga dibenakku, karena nyatanya seorang Nayla ini memang benar-benar sedang berjalan mengikuti aliran air saja, melakukan usaha-usaha kecil yang tanpa ambisi akan mimpi besar di depan, tanpa goals, setelah beberapa tahun sebelumnya berhenti kuliah karena suatu masalah yang tak bisa diatasi.

Bersambung.... (selanjutnya di My Goals Part 2)

Mencoba menuliskan cerbung di ilmair, semoga menginspirasi

0 sharing inspirasi :

Posting Komentar

Silahkan share saran, kritik, ilmu, inspirasi positifmu di ilmair. Berkomentarlah dengan bijak. Spam akan saya hapus..
Terimakasih..

Translate