"Bismillahirrahmanirrahim"

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software

semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin menerpanya

Tentu semua orang pernah mendengar kalimat peribahasa "semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin menerpanya", yang diartikan dengan "semakin tinggi nilai seseorang maka semakin besar hal yang akan menjatuhkannya". Dan biasanya peribahasa itu sering diartikan juga bahwa  "semakin tinggi derajat atau jabatan atau kedudukan seseorang, atau semakin sukses seseorang dalam usahanya dalam hidup.. maka semakin banyak orang yang ingin menjatuhkannya atau semakin besar rintangan yang akan dihadapinya tuk mempertahankan kedudukan atau kesuksesannya itu".

HUFFF.. Saya tidak setuju jika peribahasa itu hanya diartikan seperti itu. Rasanya terlalu sempit jika semua hal dinilai dari fisik dunia dan kacamata manusia saja. Apalagi semua hal mungkin akan nampak seperti peribahasa itu, jika manusia merasa seperti pohon yang tinggi karena merasa benar, merasa derajatnya di mata manusia berada di atas dll. Padahal bisa jadi manusia itu menapikkan kaca mata Allah SWT, serta menapikkan mana yang baik dan yang buruk, saat manusia itu hanya menilai semua hal dari padangannya dan fisik dunia semata. Dan bisa jadi sebagian hal itu hanyalah terjebaknya manusia pada prasangkanya sendiri saja.. ya ga? Prasangka merasa benar kepada hal yang salah, dan berprasangka buruk pada jalan lurus ajaran Agama dari Allah SWT. Misalnya ketika manusia menjadi besar dan sukses tetapi dengan usaha yang tidak diridhoiNya serta tidak baik, manusia itu malah merasa benar, lalu ketika ada kritik dan nasehat positif Allah SWT, yang menggoncangkan kesuksesannya, ia malah merasa seperti pohon tinggi yang diterpa angin, sehingga terus mempertahankan keyakinan (prasangka merasa benar)nya. Maka itu hanyalah terjebaknya manusia pada prasangkanya  sendiri semata.

Menurut saya peribahasa "semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin menerpanya", tidak bisa sembarangan dikaitkan dengan usaha dan daya manusia dalam hidup, serta kedudukan manusia dalam kaca mata manusia. Yang paling tepat dengan peribahasa itu hanyalah "Semakin tinggi Iman dan taqwa seseorang manusia pada Allah SWT, maka akan semakin besar hal yang akan menganggu keimanan dan ketaqwaan manusia itu". Atau " Semakin tinggi derajat iman dan taqwa manusia pada dan di mata Allah SWT maka semakin besar ujian yang harus dihadapinya untuk peningkatan derajat manusia itu dimata Allah SWT".

Dalam hal inipun, peribahasa "semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin menerpanya" itu seperti layaknya siswa yang belajar di sekolah formal, bahwa semakin tinggi tingkatan atau kelas siswa itu di sekolah maka soal ujian yang harus diselesaikannya untuk naik kelas atau tingkatan pendidikan itu akan semakin sulit atau sesuai dengan tingakatan pendidikannya itu. Masa siswa SMP ingin dapat soal untuk anak SD, atau masa anak kuliah ingin mendapatkan soal anak SMU, atau malah ingin mendapatkan soal anak TK? WKHA.. Tidak naik tingkat dunk klu begitu...

Dan begitu juga dengan derajat manusia di mata Allah SWT yang seperti saya tulis diatas, semakin tinggi derajatnya di mata Allah SWT maka ujian hidup akan semakin sulit. Dengan ujian hidup itu manusia dapat naik tingkat derajat iman dan taqwanya pada dan di mata Allah SWT. Ujian hidup itu pula yangkan meningkatkan kualitas diri, kualitas keimanan dan ketaqwaan , dan kedewasaan akhlak di hadapanNya. Dan tentu hanya manusia yang mampu meneguhkan keImanan dan ketaqwaan pada Allah SWT-lah yang mendapatkan kenaikkan derajat itu. Seperti kokohnya pohon yang diterpa angin yang kencangnya angin sesuai ketinggiannya, begitu pula seharusnya Iman dan taqwa manusia padaNya, harus tetap kokoh tertanam dalam jiwa, dan berdiri menjulang dalam perilaku walau diterpa ujian sesuai kualitas tingkat Imannya.

Jadi, apapun yang dipandang manusia atau penilaian manusia pada manusia lain atau bahkan penilainnya pada dirinya sendiri tidak akan menentukkan tinggi rendahnya padangan Allah SWT terhadapnya, dan tidak akan menentukkan angin ujian yang menerpanya. Orang yang tidak pernah dipandang penuh hormat derajatnya oleh manusia, mungkin saja ia adalah pohon yang menjulang tinggi di mata Allah SWT, dalam hal iman dan taqwa-nya, dan justru padangan rendah manusia itu bisa jadi adalah angin ujian yang menerpa keimanannya itu. Sebalikknya  orang yang merasa hidup bergelimang sambutan, kehormatan, pujian, dan di pandang tinggi derajatnya oleh manusia, bukanlah manusia yang seperti pohon tinggi ketika ia meraih semua itu dengan menapikkan akhlak yang baik serta keimanan dan ketaqwaan pada Allah SWT. Dan justru apa yang datang padanya kemudian juga bukanlah angin yang menerpanya untuk kokoh pada perilakunya, tetapi sentilan Allah SWT akan kesalahannya. Wallahualam bishawab...

Saya mungkin masih jauh dari sempurnanya kekokohan pohon iman dan taqwa pada dan dalam kaca mata Allah SWT, dan entah seberapa kencang Dia berikan ujian atau bahkan mungkin kritik dalam hidup saya.. Bagaimanapun itu, semoga Allah SWT menjadikan diri saya dan semua manusia lainnya menjadi pribadi yang baik dan dapat seperti pohon yang kokoh kala diterpa angin dalam hal imtaq padaNya.. amin..  Bagaimana menurut pendapatmu tentang peribahasa "semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin menerpanya"? share ilmu, inspirasi hidup positifmu ya...

2 sisi yang beriringan dalam hidup manusia yaitu masalah dan anugerah

Dalam hidup itu selalu ada dua sisi yang beriringan, ada yang bertolak belakang, ada pula yang sejajar. Seperti ada siang pasti ada malam, ada kanan pasti ada kiri, ada laki-laki dan ada perempuan, ada masalah dan ada anugerah serta lainnya. Saya kali ini tidak ingin membahas panjang lebar tentang dua sisi yang selalu ada dalam hidup manusia secara utuh. Tetapi hanya, memetik sejumput dari sekian hal di dua sisi itu.Apakah itu? Saya awali dengan sebuah pertanyaan, "Pernahkah manusia mendapatkan 2 sisi yang beriringan dalam hidup itu secara bersamaan?" Yang pasti bukan siang dan malam dalam satu waktu, bukan kanan dan kiri pada satu tempat, bukan pula ngumungin tentang laki-laki dan perempuan dalam satu tubuh (bayi kembar dalam kandungan atau kelainan dsj ) bukanlah pastinya… Tapi.. tentang sebuah pertanyaan : Apakah pernah Tuhan memberikan 2 sisi yang beriringan dalam hidup manusia yaitu masalah dan anugerah? Maksudnya disini adalah masalah dan anugerah dalam satu waktu, pada satu orang hambaNya… Rasanya pernah, bahkan mungkin setiap manusia bisa saja mengalaminya, dan mungkin juga sering...

Misalnya : manusia mendapatkan rizqi halal di satu sisi dan masalah lain di sisi lainnya, atau saat di satu sisi seseorang manusia mempunyai masalah, di sisi lain mengalir sebuah inspirasi yang membuatnya mampu berkarya, atau contoh lainnya seorang pelajar yang mendapatkan juara kelas namun disaat bersamaan ia punya masalah dengan temannya, atau seorang perempuan atau laki-laki mempunyai masalah dalam pernikahannya namun di sisi profesi profesionalnya ia mendapatkan hasil yang baik dan lain-lain. Jikalau hal itu pernah Tuhan berikan pada hambaNya… walllahualam maksud dari 2 sisi itu.. kebenaran sejatinya mungkin masih menjadi rahasia Ilahi atas apapun dibalik semua hal yang Dia berikan pada hambaNya. Tapi jika ingin dikembalikan pada kesadaran diri, yang pastinya apapun yang Tuhan berikan pasti ada hikmah, teguran, nasehat, dan kritik positif, atau kasih sayangNya tanpa secuilpun Tuhan berniat menganiaya hambaNya… setuju?

Dari tulisan di atas saya justru baru merasa ngeh dengan sebuah kalimat "dibalik kekurangan akan ada kelebihan" begitupun sebaliknya.. Dan kekurangan atau kelebihan ini bukan terbatas pada kekurangan atau kelebihan fisik tubuh ataupun kemampuan dan bakat/ talenta manusia. Tapi lebih luas lagi, yaitu pada kehidupan manusia secara utuh. Dari bagamana manusia melalui hidupnya, yangkan menghadapi masalah ataupun anugerah. Bahwa di balik sebuah masalah dalam hidup seorang manusia akan ada anugerah dalam hal yang lain padanya. Ada 2 sisi yang beriringan dalam hidup manusia yaitu masalah dan anugerah….

Atau kalimat yang lebih mendekati lagi di sini adalah "dibalik kesukaran pasti ada kemudahan", dan hal itu bukan terbatas pada masalah yang sama, bisa jadi di saat yang bersamaan manusia itu memiliki masalah atau kesukaran di suatu hal, maka mungkin ada kemudahan baginya di hal lainnya. Dan begitupun jika manusia menempatan pada keadaan sebaliknya, bahwa di saat ia mendapatkan kemudahan di sebuah hal maka mungkin ada juga kesukaran dan masalah yang harus dihadapi di hal lainnya.

Dari semua hal itu, maka manusia harus selalu menyadari bahwa manusia dan kehidupan di dunia itu tidaklah sempurna. Tidak ada kebahagiaan yang sempurna, kesedihan sempurna, kemudahan sempurna, kesukaran sempurna, kebaikkan sempurna, keburukkan sempurna, kebenaran yang sempurna, yang dimiliki manusia di dunia. Yang sempurna hanya Allah SWT bersama semua kasih sayangNya, kehendakNya, ciptaanNya dan semua yang ada dan milikNya. Termasuk pada 2 sisi yang beriringan dalam hidup manusia yaitu masalah dan anugerah, yang Dia berikan dan yang pasti sempurna dengan segala rahasia keindahan untuk menjadikan makhlukNya begitu special dimataNya.

Bagaimana menurut pendapatmu tentang tulisan di postingan blog Ilmair kali ini? Share ilmu, pendapat dan inspirasi hidup positifmu yupz...

Penghargaan (award) dan bahasa

Kali ini ilmu_air ingin memposting artikel tentang penghargaan (award) dan bahasa, sebenarnya postingan ini terinspirasi dari award yang blog ilmu_air dapatkan dari teman blogger asal Malaysia, yaitu sister seri , pemilik blog seri bahasa.. Sebelumnya blog ilmu_air juga ingin ucapkan terimakasih pada sister seri atas awardna, semoga tali silahturahmi antar sesama blogger dapat selalu terpatri apik ya… amin…

Oya, ini dia award dari blog seri bahasa:


Dan ini tulisan sis seri di shoutcamp saya tentang penyerahan award ^_^ :


Ngumungin tentang blogger award, blog ilmu inspirasi air sebenarnya sudah beberapa kali membicarakan tentang penghargaan (award), yang tentu saja bertepatan dengan didapatkannya award blog dari teman-teman blogger. Kali inipun blog ilmu inspirasi air ingin membahas tentang penghargaan (award) yaitu penghargaan (award) dan bahasa.

Bahasa merupakan alat komunikasi manusia, tanpa bahasa maka tidak akan ada komunikasi dan interaksi. Bahasa itu merupakan salah satu bentuk penghargaan juga, karena dengan menggunakan bahasa, manusia menghargai komunikasi dengan manusia lainnya. Bahasa itu sendiri beragam jenisnya, tidak identik dengan bahasa lisan atau ucap, karena ada pula bahasa gerak, bahasa tubuh, bahasa fikiran, bahasa hati.. ya kan? Orang yang tuna rungu dan tuna wicara dapat berkomunikasi dengan bahasa gerak, hal ini juga menunjunkkan adanya bentuk penghargaan pada hidup yang mesti tetap ada komunikasi walau fisik memiliki keterbatasan dalam hal berbahasa dengan ucap.  Orang normal sekalipun mungkin saja punya bahasa gerak yang dipelajarinya atau mungkin dibuatnya bersama manusia lainnya, seperti bahasa isyarat yang ada di Pramuka (apa itu namanya, saya lupa.. seperti morse bendera bukan ya? ^^)- Disinipun ada penghargaan pada interaksi yang diluar jangkauan yang membutuhkan bahasa gerak morse misalnya- apalagi bahasa gerak morse ini dipelajari, berarti ada bentuk penghargaan akan ilmu bahasa gerak morse. Tubuh manusia-pun bisa menjadi alat komunikasi penyampaian yang alamiah maupun yang dibentuk oleh manusia itu sendiri, seperti ketika kedinginan misalnya, maka tubuh akan berbahasa dengan menggigil, dalam hal inipun reaksi menggigil menunjukkan adanya penghargaan terhadap tubuh, karena mungkin ada proses penyesuaian suhu dari luar dan dalam tubuh. Selain itu fikiran dan hati manusiapun dapat berbahasa, orang yang berfikir tentu berbahasa dengan fikirannya, dan manusiapun tentu punya hati yangkan berbahasa, baik saat bahagia maupun sedih akan ada semburat dari dalam hati yang menunjukkan adanya bahasa hati, atau bahkan ketika cinta bersemi, maka hatikan berbahasa… ^^ Dan pastinya dari dalam hati manusia ini ada banyak bentuk penghargaan(award) dan bahasa, tentu jika hati bersih dari kekotoran penyakit hati…

Diantara semua bahasa, menurut saya bahasa yang paling penting adalah bahasa hati, karena berawal dari hati, ketulusan berbahasa lisan dan gerak itu ada. Dan dari bahasa hati pula semua bentuk penghargaan (saya sebut juga award hidup) di awali. Ketika manusia menghargai karunia Allah SWT, misalnya, maka hati manusiakan berbahasa syukur, yang syukur tulus dari hati ini akan terealisasi juga ke sikap manusia itu. Manusia yang menghargai seluruh anugerah cinta Ilahi juga hatinya kan berbahasa, dengan makin teguhnya IMTAQ dalam hatinya, lalu hatikan berkomunikasi dengan bahasa cinta manusia pada Tuhannya, dan kemudian hati kan berkomunikasi dengan bahasa seluruh gerak tubuh dan realisasi sikapnya. Dari sinipun lahirlah cinta pada sesama manusia, pada makhluk lainnya, pada hidup dan seluruh alam, dan tentu lahir realisasi dari cinta-cinta itu sendiri dengan bahasa-bahasanya yang indah. Dengan bahasa hati pula manusia bisa menghargai manusia lainnya dan berbahasa lisan atau gerak yang baik dengan manusia lainnya.

Rasanya tidak mudah berbahasa yang baik secara sempurna (terutama mengerahkan seluruh kebaikkan bahasa hati dan cinta) hingga mampu mencipta sebuah penghargaan terbesar terutama penghargaan pada kehidupan dan Penciptanya yaitu Allah SWT. Maka dalam hal ini penghargaan (award) dan bahasapun tak mudah di eratkan dengan sempurnanya kebaikkan dalam hidup manusia… Tak mudah memang, tetapi mesti ada ikhtiar (usaha yang baik) yang berjalan selalu bukan? Bagaimana menurut pendapatmu tentang postingan penghargaan (award) dan bahasa ini? Share ilmu dan inspirasi hidup positifmu yupz.. ^^

Ikhtiar menjaga kesehatan dan menjemput rizqi

Setiap manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia tentu mesti melakukan ikhtiar (usaha yang baik), karena hidup itu memang butuh usaha (seperti huruf “U” dalam rumus butuh DUIT di postingan saya terdahulu), dan tentu saja usaha yang paling dibutuhkan adalah usaha yang baik atau ikltiar. Tanpa ikhtiar maka tidak akan mungkin kehidupan itu berjalan, meningkat, berkembang, dan tercapai asa, impian, dan harapan manusia. Dari berbagai macam ikhtiar manusia di dunia, ikhtiar menjaga kesehatan dan menjemput rizqi tentu termasuk dalam hal penting yang harus manusia lakukan. Dan keduanya tentu merupakan faktor penting dalam hidup yang saling beriringan, karena untuk hidup tentu manusia perlu menjemput semua rizqi yang telah Tuhan limpahkan untuk manusia di dunia, namun tentu saja dengan fisik dan batin yang sehat.

Kalau berbicara tentang rizqi dan kesehatan, sesungguhnya 2 kata itu memang sudah menyatu, karena kesehatan yang baik adalah salah satu rizqi yang Tuhan berikan pada manusia diantara berbagai macam rizqi lainnya, seperti rizqi dalam perekonomian hidup, rizqi jodoh, rizqi ilmu pengetahuan dan lain-lain. Dan kesemua rizqi itu tentu sudah Allah SWT karuniakan pada seluruh hambaNya termasuk juga sebagai amanah yang mesti dijaga, dan manusia harus menjemput rizqi itu dengan berikhtiar, termasuk yang terpenting adalah berikhtiar menjemput rizqi dalam hal menjaga kesehatan.

Kalau kita renungkan masalah dan peristwa yang begitu beragam di dunia ini, tentu kita dapat lihat permasalahan manusia dalam hal kesehatan itu banyak sekali. Beragam macam penyakit telah menjagkiti fisik bahkan batin manusia dari zaman batu hingga zaman globalisasi sekarang ini. Dari tahun demi tahun perkembangan penyakitpun selalu meningkat, satu demi satu viruspun lahir, di zaman kini saja virus sudah beragam jenisnya, dari virus influenza, virus HIV-AIDS (yang kini bahkan ada hari aids sedunia 1 desember), virus H1N1 (atau disebut juga penyakit swine flu, ada pula virus A-H1N1 atau A.K Swine flu), virus H5N1(disebut juga flu burung) dan lain-lain. Begitupun dengan bakteri jahat dan jamur beragam juga jenisnya. Dan banyak pula penyakit lainnya selain yang disebabkan oleh virus, bakteri dan jamur, seperti penyakit pada organ-organ tubuh manusia yang juga beragam penyebabnya, dari karena bawaan lahir (seperti yang dialami BILQIS dengan penyakit yang berhubungan dengan livernya) dan keturunan, karena gaya hidup yang tidak sehat (seperti sakit paru-paru karena merokok, sakit diabetes dan kolesterol karena pola makanan tidak sehat), dan lain-lain.

Semua manusia tentu tidak menginginkan penyakit bernaung di fisik dan kehidupannya, dan pasti memilih untuk selalu sehat, dijauhkan dari segala macam penyakit termasuk penyakit-penyakit seperti diatas. Sakit itu selain tiada menyenangkan dan menggagu aktifitas kehidupan, tentu juga mengganggu ekonomi hidup, karena pemulihan dari sakit itu juga pasti membutuhkan biaya. Dan iktiar menjemput rizqi-pun akhirnya akan menjadi dua kali lipat untuk manusia di kala sakit, yaitu rizqi untuk memulikan sakit dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Maka penting sekali tentu ikhtiar menjaga kesehatan itu, penting berikhtiar menjaga amanah dan salah satu curahan kasih sayang Tuhan berupa kesehatan itu. Dan karena kesehatan juga merupakan salah satu rizqi yang diberikan Tuhan untuk manusia, maka ada ikhtiar menjemput rizqi dalam menjaga kesehatan, yaitu menjemput dicurahkannya kesehatan yang selalu baik.

Terkadang tidak mudah berikhtiar menjaga kesehatan dan mejemput rizqi itu, namun selama darah masih mengalir, nafas masih terhembus, ruh masih dijasad, sebagai manusia yang masih menjalani kehidupan di dunia, maka ikhtiar menjaga kesehatan dan menjemput rizqi itu harus selalu di tempuh oleh manusia.. iya kan? bagaimana dengan ikhtiarmu? Share pendapat, inspirasi dan ilmu-mu dib log ilmu inspirasi air kali ini ya…

Nol, angka kosong dan tiada, yang begitu tidak kosong pentingya untuk ada

Kali ini blog ilmu_air ingin membahas tentang angka nol, angka kosong dan tiada, yang begitu tidak kosong pentingnya untuk ada. Oya, sudah lama rasanya ya blog ilmu air ga ter-update postingannya. Setelah rehat sejenak dari dunia blogging, sekaranglah akhirnya saya hadir kembali diblog ini. Tulisan ilmu inspirasi air kali ini sebenernya terinspirasi dari tulisan saya sebelumnya di Tag Food For Soul pada huruf N, bagi reader ilmu inspirasi air yang pernah berkunjung ke postingan tersebut tentu tidak asing lagi dengan bahasan angka nol.

“N = Nol adalah angka kosong dan tiada, tapi tanpa nol tiada akan ada seratus, seribu, sejuta dan setriliun.” Yupz… nol itu memang terkadang tidak bernilai alias kosong. Nol bila dikalikan dengan angka berapapun hasilnya akan nol. Bila sebuah angka berapapun ditambahkan dengan nol tidak akan merubah nilai angka, begitupun bila sebuah angka di kurang nol, dan jika nol dikurangi sebuah angka maka nilai angkanya menjadi negatif atau min. Nolpun tidak bisa menjadi angka pembagi. Nol itu terkadang memang tidak berarti, namun tanpa nol tidak akan ada angka sepuluh dan puluhan lainnya, seratus dan ratusan lainnya, seribu dan ribuan lainnya dan seterusnya, hingga tidak akan ada setriliun dan triliunan lainnya. Angka nol itu adalah angka awal dari bilangan bulat, tentu tanpa nol tidak akan ada 1, 2, 3, 4, dan seterusnya. Dan tanpa nol tidak akan ada suhu dingin alias suhu minus derajat Celsius, karena angka minus berada di bawah angka nol, dan angka minus juga dapat ada saat angka nol dikurangi. Dari sekilas pembahasan mengenai nol dapat ditarik kesimpulan bahwa Nol itu angka yang kosong dan tiada tetapi nol itu begitu tidak kosong pentingnya untuk ada. Ya ga?

Selain dalam dunia angka, dalam dunia kehidupanpun, angka nol adalah angka kosong dan tiada, yang begitu tidak kosong pentingnya untuk ada. Karena semua hal dalam “hiduppun dimulai dan selalu beriringan dengan nol dan kosong”. Bumi ini dicipta dari ketiadaan, Nabi Adam lahir ke dunia dari ketiadaan, dan beliau menjalani hidup dari nol, nol ilmu dan nol pengetahuan. Bahkan yang namanya manusia itu berasal dari cairan yang tiada  berharga. Terkadang yang nol, yang tiada, yang kosong dianggap tidak berarti, karena tidak ada apapun dan tidak bernilai.. Tapi, bukankah dari ketiadaan semua hal itu dapat tumbuh? Dari kekosongan semua hal lalu akan terisi? Tidak akan ada yang tercipta tanpa dimulai dari kekosongan atau ketiadaan, karena suatu yang dicipta itu baru bisa dikatakan diciptakan karena sebelumnya tidak ada. Tidak akan ada yang dapat mengisi jika tidak ada yang kosong. Contohnya hati manusia, perlu ruang hati yang kosong untuk dapat saling mengisi dengan cinta, tanpa kekosongan ruang hati tidak akan ada cinta yang dapat mengisi, maka tanpa nol tiada akan ada hati yang menyatu mengisi yang kosong.. Begitupun dengan profesi dalam hidup, seorang sarjana yang membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidupnya, tentu perlu jabatan kosong di sebuah perusahaan, perlu peluang, dan peluang itu dalam hal pekerjaan adalah sebuah kekosongan tempat yang dapat ditempati. Lebih luasnya lagi tentang peluang adalah bahwa semua manusia membutuhkan kekosongan untuk dimasuki, di isi, di jalani, di penuhi, di tempati, yaitu peluang yang juga berarti kesempatan. Dan dari semua contoh itupun tetap tidak dapat terbantahkan bahwa semua hal memerlukan nol, dan nol adalah angka yang tidak kosong pentingnya untuk ada walaupun nol adalah angka kososng dan tiada.

Dari angka nol ini tentu seharusnya dapat ditarik inspirasi hidup positifnya, bahwa sebagai manusia haruslah mampu menjadi angka nol. Walaupun sebagai manusia terkadang dianggap tiada berarti atau kosong dan nol dalam kaca mata manusia namun seharusnya memiliki nilai penting untuk kebaikkan dan kebesaran hidup dalam pandangan Allah SWT utamanya. Kulit luar bisa saja dianggap tiada berarti atau nol nilainya, atau mugkin hanya sebuah fisik yang dapat luntur oleh waktu, namun hati manusia itu haruslah tidak kosong nilai keindahannya, atau bahkan harus nol dari kekeruhan hati, nol dari keburukan. Ya ga? Menurutmu gimana? Share ilmu inspirasimu dib log ilmu inspirasi air yupz.. ^^

Translate