"Bismillahirrahmanirrahim"

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software

Keutamaan Bulan Dzulhijjah - Raih Cinta Allah

Bulan Dzulhijjah merupakan bulan yang istimewa ya sahabat, ia termasuk diantara 4 Bulan yang disebutkan dalam Al Quran surat At Taubah ayat 36 sebagai bulan haram (suci). Dan diantara hari di Bulan Dzuhijjah itu, ada 10 hari terbaik yang dipilihkan Allah untuk kita, dimana kita bisa meraih cinta-Nya dengan melakukan amalan yang bahkan nilainya bisa setara dengan jihad.


Sesuai sabda Rasulullah Shallallahi Alaihi Wa Salam

  ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر. قالوا ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذالك بشيء. (رواه

“Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Apakah lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah ?” Beliau bersabda, “Iya. Lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid).” (HR. Al Bukhari)

Diantara semua amal sholeh, puasa adalah amalan yang diutamakan untuk dilakukan di hari-hari awal bulan Dzulhijjah ini (tanggal 1-9 Dzulhijjah, utamanya adalah hari arafah yaitu tanggal 9 Dzulhijjah), karena dengan berpuasa akan terdorong diri untuk melakukan amal-amal sholeh lainnya.

Wah ini sudah masuk hari ke 7 di bulan Dzulhijjah ya Sahabat, belum terlambat, masih ada waktu beberapa hari lagi. Optimalkan waktu yuk untuk melakukan amal sholeh. Jangan kita sia-siakan waktu, sayang jika hari yang istimewa ini kita lewatkan. Raih cinta Allah, maka semua dosa kita akan dihapuskan. Dalam hadistpun disebutkan puasa arafah akan menghapuskan dosa 1 tahun yang lalu, dan 1 tahun kemudian (menjaga kita dari perbuatan dosa).

Lakukan amalan yang dicintai Allah yaitu semua amalan yang sesuai dengan tuntunan (yang dilakukan) Rasulullah. Bukan hanya ibadah tapi semua aktifitas kita dalam hidup, seperti menjaga pandangan, lisan, telinga, hati, pikiran dan semua perbuatan kita. Berusahalah untuk bertakwa secara kaffah. Ah Allah mampukan kami 😭😭.

Menulis masih dengan segala kerumitan diri, ada nasehat untuk diri, semoga bermanfaat.

Sumber: Video kajian Ustad Adi Hidayat dan situs muslim,id

Mendahulukan Puasa Syawal dari Qadha Puasa, Bolehkah?

Mendahulukan Puasa Syawal dari Qadha Puasa, Bolehkah? - Pertanyaan ini tentu banyak dipertanyakan saat bulan Syawal tiba, dimana di bulan ini umat muslim di sunnahkan untuk menunaikan puasa Syawal.

Namun khususnya bagi wanita yang mengalami haid di bulan Ramadhan, ia memiliki kewajiban untuk  mengqhada puasanya. Lalu dilema yang dihadapinya adalah akan terpotong masa haid juga bulan Syawal ini. Lalu sebaiknya ia mendahulukan puasa syawal dahulu atau qadha puasanya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, memang ada perbedaan pendapat di kalangan Ulama, dari dibolehkannya menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu, makruh hingga haram hukumnya, dengan dalil-dalilnya masing-masing.



Namun pendapat terkuat dalam masalah ini berdasarkan hadist yang sahih adalah bolehnya menunaikan puasa sunnah sebelum mengqadha puasa Ramadhan, selama waktu mengqhada masih longgar. Jadi jika seseorang menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu, lalu qadha puasa ditunaikan kemudian, maka puasanya sah dan ia tidak berdosa.

Mengingat Keutamaan Puasa Syawal
Diluar dari pernyataan tentang sah atau tidaknya mendahulukan puasa sunnah dari qadha puasa Ramadhan, yang perlu diingat kemudian adalah keutamaan dari puasa Syawal itu sendiri. Dimana menurut hadist, Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalan bersabda

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Disini Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa mempunyai qodho’ puasa di bulan Ramadhan, lalu ia malah mendahulukan menunaikan puasa sunnah enam hari Syawal, maka ia tidak memperoleh pahala puasa setahun penuh. Karena keutamaan puasa Syawal (mendapat pahala puasa setahun penuh) diperoleh jika seseorang mengerjakan puasa Ramadhan diikuti puasa enam hari di bulan Syawal. Dalam kondisi tadi, ia tidak memperoleh pahala tersebut karena puasa Ramadhannya belum sempurna.”
Ibnu Rajab rahimahullah kembali menjelaskan, “Barangsiapa mendahulukan qodho’ puasa, setelah itu ia melakukan puasa enam hari Syawal setelah ia menunaikan qodho’, maka itu lebih baik. Dalam kondisi seperti ini berarti ia telah melakukan puasa Ramadhan dengan sempurna, lalu ia lakukan puasa enam hari Syawal. Jika ia malah mendahulukan puasa Syawal dari qodho’ puasa, ia tidak memperoleh keutamaan puasa Syawal. Karena keutamaan puasa enam hari Syawal diperoleh jika puasa Ramadhannya dilakukan sempurna.”
Jadi lebih baiknya tentu kita menunaikan qadha puasa Ramadhan terlebih dahulu, jika kita ingin mendapatkan keutamaan puasa Syawal, yaitu pahala puasa setahun penuh. Karena jika kita mendahulukan puasa Syawal, maka kita tidak akan mendapatkan pahala tersebut.
Lalu bagaimana dengan siklus haid yang wanita alami, dimana ada kemungkinan puasa Syawalnya tidak bisa dijalankan dengan sempurna 6 hari, karena ia telah mendahulukan mengqadha puasa Ramadhan, dan waktu di bulan itu terpotong masa haid.
Ada hadist Nabi Sallahu Alaihi Wassalam yang bisa diambil untuk masalah ini
Dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَرِضَ العَبْدُ أَوْ سَافَرَ كَتَبَ اللهُ لَهُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْماً صَحِيْحاً
Jika seseorang sakit atau bersafar, maka akan dicatat baginya pahala seperti saat ia mukim (tidak bepergian) dan sehat.” (HR. Bukhari dalam kitab shahihnya)
Jadi, seorang wanita yang punya hutang puasa Ramadhan tidak perlu khawatir ketika ia luput dari puasa Syawal karena ada udzur, termasuk jika masa puasanya terpotong karena haid. Ia bisa melakukan puasa Syawal semampu ia bisa, walaupun sehari dua hari saja, ketika memang ada udzur. Tapi tentu disini bukan berarti menunda-nunda waktu puasa di awal Syawal bisa disamakan dengan kasus ini, tentu kita mengusahakannya dengan sebaiknya jika amalannya ingin dicatat sebagai pahala yang sempurna, semoga Allah ridhoi ...
Semoga Artikel tentang Puasa Syawal dan Qadha Puasa ini bermanfaat yang sahabat ... aamiin.
Sumber: Rumahsho

Ramadhan Akan Segera Pergi

Aku tertunduk, air mata ini menetes, ada rasa gelisah dan tak nyaman lainnya di hati. Waktu yang berjalan ini terasa berlalu begitu cepat, hingga langkah ini tiba di penghujung jalan di bulan yang penuh kemuliaan ini. Ingin rasanya aku menggenggam waktu, lalu menghentikannya, atau memintanya berputar kembali ... namun tentu saja itu tak bisa.



Ah jika ada tanya yang tercuat, sedih karena apa aku ini? Apakah karena rasa cinta yang begitu mendalam telah tumbuh di hati pada bulan penuh kemuliaan ini? Karena iman di hati telah penuh meningkat pada-Nya? Pertanyaan itu justru kini menamparku, tak sakit ke kulit, tapi semakin terasa tak nyaman di hati.

Aku bahkan tak tahu apakah pantas bisa kusebut diriku mencinta, setidaknya mencintai bulan ini saja, dimana Sang Maha Cinta itu telah memberi banyak cinta pada semua hamba dengan kemaha murnian cinta-Nya. Dia telah memberi hamparan luas rahmat-Nya di bulan ini, dari pintu ampunan dan diijabahnya doa terbuka dengan lebar, hingga beramal dan beribadah dengan pahala yang berlipatpun ada dalam janji-Nya yang pastikan ditepati.

Lalu ... apa yang telah aku lakukan selama hampir sebulan ini? Kemana saja aku selama hampir sebulan ini? Amal dan ibadah apa yang mampu menunjukkan cintaku? Seberapa banyak diriku bergerak dalam khusuk dan ikhlas?

Ya Allah ... aku sungguh tak mampu menjawab pertanyaan itu, hati ini semakin gelisah, melihat Ramadhan yang semakin bergerak untuk segera pergi.

Terduduk lalu diam? Tentu saja bukan itu jawabannya, waktu yang tersisa ini masih ada, kesempatan dari-Nya masih terbuka ...

Secercah cahaya itu membuka mata, deretan hadist tampak oleh mata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175).
Harus terdorong semangat dari dalam diri untuk bergerak, bergerak semampu yang diri bisa, lakukan yang terbaik tentu seharusnya. Jika diawal perjalanan ini diri tertatih, atau bahkan terbawa lalai, maka sekarang waktunya untuk bangkit, bahkan harus bisa diri berjalan lebih cepat dari sebelumnya, setidaknya berusaha. Jangan pernah menyerah, jangan pernah berhenti melangkah atau bahkan berbalik arah, sebelum ada perhentian langkah dari-Nya.

Ya diwaktu Ramadhan yang tersisa ini, perbanyaklah beribadah kepada-Nya, seperti yang dilakukan Rasulullah sallahu 'alahi wassalam, dalam hadist ‘Aisyah mengatakan,


كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). 
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71)

Jangan sia-siakan waktu untuk bertemu dengan malam penuh kemulian yang ada di 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.

Mari kita hidupkan malam Lailatul Qadar sahabat, yang dapat dilakukan dengan mendirikan sholat, berdzikir dan tilawah Al Qur'an.

Walau amalan shalat itu lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar, seperti yang tertera dalam hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901).

Hentakan nasehat ini pada diri dengan penuh, bukan sekedar untuk ditulis lalu dibaca, tapi untuk menggerakkan diri untuk segera melakukannya.

Dalam untaian kata di ujung akhir tulisan ini, ingin pula kusebutkan doa "Semoga Allah meridhoi kita semua bertemu dengan malam penuh kemuliaan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik seribu bulan, saat pintu-pintu langit dibuka, doa-doa dikabulkan aamiin"

Translate