"Bismillahirrahmanirrahim"

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software

My Goals, Kamu Di Mana? part 7

    Cerita "My Goals, Kamu Di Mana?" udah sampai part 7 ya. Semoga sahabat semua suka bacanya, bermanfaat dan menginspirasi ya, aamiin. Oiya, setelah ini part 8-nya nggak akan dilanjut posting dulu ya di ilmair , karena seperti saya bilang di postingan "My Goals, Kamu Di Mana? part 6"  kalau cerita faksi saya ni masih banyak yang perlu diedit dan rombak lagi.

    Ok, langsung aja ya ke ceritanya, selamat membaca ...



Sehari, dua hari hingga sampai berhari-hari, akhirnya si satu-satunya gadis ini pun bisa membaur dengan para ibu. Ah, rasanya sungguh menyenangkan, karena silaturahmi itu mengalir saja tanpa dipaksa untuk terjalin, hingga ada banyak tawa dan canda yang mewarnai hubungan antara aku dan para ibu.

Ya … aku memang mencari peluang di sana, tapi tujuanku ‘pdkt’ tentu saja bukan hanya sebatas mencari target prospek atau mendekat karena ada ‘modus’. Melainkan untuk berteman, dengan atau tanpa ‘closing-an’ pun tak apa.

Walaupun begitu ada juga beberapa ibu yang akhirnya memberikan data diri dan keluarganya, untuk aku buatkan ilustrasi manfaat asuransi dan investasi. Ah, senang rasanya, karena itu berarti mereka mempunyai kepercayaan padaku untuk melayani pengelolaan keuangan dan kesehatan mereka.

Mulanya aku begitu bersemangat, hingga kata-kata yang begitu mengejutkan pun aku dengar kemudian ...

“Asuransi itu kan riba Mbak, ada unsur ghoror dan maisir-nya di sana. Ada ketikdakpastian, ketidakjelaskan dan spekulasi kan Mbak. Bayar premi setiap bulan, uang akan cair kalau kita sakit, kecelakaan atau meninggal dunia, yang sifatnya nggak pasti kemungkinan terjadinya, lalu kalau nggak? Uangnya hangus? Kalaupun ada uang yang diinvestasikan, itu juga jadi dua bagian yang terpisah kan ya? Bagian yang diasuransikannya tetap saja mengandung unsur riba,” ucap salah satu guru yang sempat kutawarkan membuka polis asuransi dan investasi.

Aku terdiam dan tak tahu harus berkata apa, karena mendengar pernyataan itu rasanya seakan ditampar.

'Ah benarkah yang kujalani selama ini adalah riba?' pertanyaan itu mencuat di benakku, membuat keraguan mengikat di hati ini bersama gelisah. 

Karena riba yang aku tahu selama ini hanya sebatas bunga bank, kartu kredit dan uang berlebih pada pinjaman. Aku benar-benar tak tahu kalau asuransi itu juga termasuk ke dalam riba, apalagi banyak juga teman muslimku yang berkecimpung di dalamnya, bahkan sampai memiliki polis.

[Kita kan ada produk syariahnya Nay, coba kamu pelajari lagi di training pusat …] jawab Mbak Tifani menanggapi cerita ku melalui pesan singkat.

Sejak saat itu aku terus berusaha mencari beragam informasi, tentang riba dan juga asurransi. Aku benar-benar gelisah, hingga bertanya-tanya apa perjalanan berjuangku selama ini telah salah jalan? Ah dunia asuransi ini rasanya seperti sebuah kesempatan yang datang di saat aku butuhkan, dengan beberapa kemudahan dan ragam nasehat kehidupan yang baik di dalamnya.

****

Di saat hati ini sedang dilanda galau, kepanikan pun datang tanpa diundang. Ayah mengalami serangan stroke ke tiganya, seluruh tubuhnya lumpuh total, untuk berbicara beliau tak bisa, bahkan pandangan matanya pun hanya bisa melihat pada satu arah saja, aku dan Ibu yang hanya berdua saja meghadapi kondisi Ayah begitu panik, dengan segera kami pun membawa Ayah ke rumah sakit.

Ayah diangkat dari tempat tidurnya oleh beberapa orang ke dalam taksi, karena aku dan Ibu tak mampu untuk memapahnya.

Tangisku tak bisa dibendung sama sekali, mengalir saja air mata ini melihat kondisi Ayah, dari sepanjang perjalanan ke rumah sakit hingga beliau diperiksa oleh dokter jaga di ruang UGD.

“Ayah Mbak sudah mendapat pertolongan pertama, sepertinya ada pembuluh darah yang pecah di kepalanya, harus masuk ruang ICU …” kata dokter memberi tahu.

Hati ini semakin digelayuti rasa sedih, dengan segera kuhubungi Mas Dion yang saat itu sedang berkerja, memintanya untuk segera datang menyusul kami. Mbak Giyapun kuhubungi, walau kondisinya tak memungkinkan untuk segera menyusul ke Rumah Sakit.

“Silahkan diurus di depan dulu ya Mbak, ke ruang pendaftaran rawat inap,“ kata seorang suster kepadaku sambil menyerahkan selembar kertas. Aku kemudian bergegas melangkah menuju ruangan yang ditunjukkan.

“Ada asuransinya Mbak? Atau bayar pribadi?” tanya seseorang di meja pendaftaran.

Segera kuambil kartu Askes milik Ayah yang dipegang Ibu. Ayah merupakan seorang pensiunan pegawai negeri sipil golongan atas, Askes Ayah termasuk  kelas atas, hingga kupikir semuanya akan mudah untuk diurus.

Satu jam, dua jam, sampai beberapa jam kemudian aku dan Ibu hanya diminta untuk menunggu, kata pihak rumah sakit ruangan ICU nya sedang penuh. Kami lalu duduk di ruang tunggu umum yang jaraknya tak terlalu jauh dari ruang UGD, tak bisa berlama-lama menunggu Ayah di dalam, karena ruangan sudah penuh dengan pasien dan tempat tidurnya di dalam.

“Mbak kenapa Ayahnya?” tanya seseorang yang baru saja keluar dari ruang UGD dan duduk disebelahku, sepertinya ia juga sedang menunggu keluarganya yang sedang sakit.

“Kena serangan stroke Mbak …” jawabku.

“Ah kasihan, ini Ibu saya juga udah seminggu di sini, susah dapat ruang rawat inapnya Mbak, kata pihak rumah sakit ruangannya penuh. Tapi ya gitu, saya nggak ngerti juga sistem disini  gimana, karena ada juga beberapa pasien yang baru dateng, masuk ke UGD sebentar terus kayanya langsung dipindah dapet ruangan.” kali ini ucapannya membuatku semakin gelisah. Kutatap ruangan UGD Rumah Sakit umum dari balik pintu kacanya, tampak sekali kalau ruangan itu begitu tak layak untuk Ayah berlama-lama ada di sana.

Bersambung ...

Yaa ... sampai di sini dulu aja ya sahabat. Cerita selanjutnya gimana?  In syaa Allah nanti akan saya sambung lagi ya, entah dalam bentuk postingan lagi atau buku (*aamiinin dulu aja hihi, ini juga masih banyak yang perlu dibenahi dulu buat sampai menjadi buku :D ).

Oiya kalau ada kritik dan sarannya silahkan di kolom komentar ya sahabat

My Goals, Kamu Di Mana? part 6

    Posting lanjutan kisah "My Goals, Kamu Di Mana?" lagi ini ya ... Yuhuuu ... udah part 6 aja ya sekarang. Sebenarnya  saya lagi agak bingung sama update postingan ilmair, ada beberapa tulisan di draft yang belum tuntas tulisannya, mau lanjut nulis juga masih agak nge-blank, jadi lanjut pos cerita inspiratif ini dulu aja ya. Semoga ada inspirasi yang mengalir ke sahabat semua ya ... Untuk sahabat yang belum baca dari awal bisa ke "My Goals, Kamu Di Mana? part 1", "My Goals, Kamu Di Mana? part 2",  "My Goals, Kamu Di Mana? part 3", "My Goals, Kamu Di Mana? part 4", "My Goals, Kamu Di Mana? part 5" ya.

    Sekarang selamat membaca part 6 nya, share kritik dan sarannya di kolom komentar juga dipersilahkan ...

 


    Ada satu hari dimana aku merasa begitu lelah, hingga aku pun berteriak dalam bisikan, 'Ah Allah kenapa menjemput rezeki-Mu sesulit ini? Aku kan sudah berusaha Allah, semampu aku bisa, berdiri di atas kaki sendiri, tak meminta-minta atau bermaksud menyusahkan siapapun!'

    Saat itu tubuh ini terguyur hujan di atas motor, dinginnya tetes air pun terasa seperti menusuk kulit. Hari itu aku lupa membawa jas hujan, hingga kuyup hampir seluruh badan tak bisa dihindarkan. Kupacu motor semakin kencang, karena magrib hampir segera datang, hingga enggan diri untuk menepikan motor, meneduh walau sebentar.

    Dari pagi aku telah berkeliling seperti biasanya, berkunjung ke beberapa tempat untuk mencari nasabah, namun lagi-lagi yang kudapat hanya penolakan dan penolakan. Bahkan hari itu tak ada sesi curhat seperti biasanya, berkali-kali wajah tak bersahabat justru yang aku temukan.

    Hujan saat itu menjadi tumpahan rasa kesal, tetesan air yang tak bersalah itu pun berkali-kali menerima gerutuan dari mulut ini. Padahal jika kuingat, sudah beberapa kali aku berkeliling ditemani hujan selama ini, yang terkadang justru membuat pertemuan dengan prospek di tempat berteduh terjadi.

    Namun sepertinya hari itu aku begitu lelah, energi tubuh pun seakan melemah, harapan yang aku genggam saat berangkat tadi seakan menjadi serpihan yang kemudian terbang terbawa angin, lalu tersapu hujan.

    Hummm … apa kabar dengan semua motivasi perjuangan yang aku dapatkan selama ini? Memang masih menempel di kepala, bahkan bagai slide video satu persatu bergantian terbayang di pikiran saat itu. Baik itu motivasi yang kudapat saat mengikuti training, kata-kata Mbak Tifani yang selalu menyemangati, cerita teman satu tim di agency hingga sesi curhat yang selama ini aku dengar. 

    Tapi di saat perjalanan berjuangku rasanya belum juga mendapatkan hasil, sementara pikiran ini mulai membandingkan diri dengan kesuksesan orang-lain, diri ini tiba-tiba jadi merasa kecil, tertinggal jatuh dan gagal.

    Ah, semua motivasi perjuangan yang aku dapat pun seakan hilang tak berarti, tak memberi tambahan energi semangat saat dibutuhkan. Diri ini seakan tersudut oleh pikiran negatif yang berkumpul di kepala, tak punya harapan rasanya bahkan hampir putus asa.

    Lalu ‘goals’ku kemana? Entah, belum juga rasanya aku temukan di sini, tak mampu aku mencarinya pada sudut hati dan pikiranku. Perjalanan berjuang yang tanpa energi maksimal ini memang terasa begitu sia-sia.

    Hingga akhirnya arah langkahku pun kemudian seakan di buat berubah oleh Sang Pemilik skenario kehidupan. Ya … di hari-hari berikutnya aku tak lagi punya waktu banyak untuk berkeliling mencari prospek, karena aku diminta mengantar dan menunggui Faya, keponakanku, pergi ke sekolah. Kebetulan Mbak Giya, mamanya, yang biasanya mengatarnya lagi perlu banyak istrirahat, karena gelaja penyakit types yang dideritanya.

    Tapi … keadaan itu justru jadi sebuah peluang bagiku, karena di TK tempat Faya sekolah aku bertemu dengan ibu-ibu yang juga menunggui anaknya sekolah.

***

    Aku duduk di ruang kelas mendampingi Faya yang tak mau ditinggal, memperhatikan bagaimana sang guru paud itu mengajar. Dari mengajak bermain sambil menghafal doa dan hadist, serta melatih motorik halus anak-anak didiknya. Terkadang sang guru pun bercerita, disamping kesigapannya mendengarkan celoteh anak-anak yang selalu maunya diperhatikan.

    Saat jam istirahat tiba aku pun mulai beraksi, dari mulai lirik kanan dan kiri sambil menebar senyum, kemudian duduk merapat di antara barisan ibu-ibu … ‘pdkt’ ceritanya. Begitu pun saat pulang sekolah, aksi ‘pdkt’ itu pun berlanjut. 

Bersambung ...  ke "My Goals, Kamu Di Mana? part 7"


    Part 6 nya sampai di sini dulu aja, nggak panjang-panjang ya, soalnya kisah "My Goals, Kamu Di Mana?" nantinya mau saya revisi juga, mengikuti masukkan kurator di sebuah kelas online yang pernah saya ikuti.

    Ah iya bagi sahabat yang mau join kelas menulis online dan naskahnya di kurasi, boleh langsung kontak ilmair ya, di halaman kontak.

My Goals, Kamu Di Mana? part 5

    Ilmair sambung lagi cerita My Goals, Kamu Di Mana? Udah sampai part 5 ya (sebelumnya My Goals, Kamu Di Mana? part 4), semoga menginspirasi sahabat pembaca ilmair semua ya aamiin. Humm ... sebenernya ini naskah cerita faksi (campuran fiksi dan non fiksi) saya, tertulis di facebook saya sekitar 1 tahun lalu, saat rutin menulis setiap hari sebagai tugas komunitas menulis online. Baru dapat kurasi dari kakak editor kelas menulis juga, dapat kritik serta masukan yang banyak banget, tentu aja perlu perombakan lagi biar lebih menarik ceritanya. Hihi ... iya saya berharapnya cerita ini bisa di bukukan, ah masih perlu banyak belajarlah untuk saya nerbitin buku solo.

    Eiya buat sahabat yang mau ikut kelas menulis online cerita fiksi, non fiksi, artikel, copywriting, skenario dan lain-lain bisa kontak admin ilmair aja ya.

    Etsss sekarang kita langsung lanjutin tulisan "My Goals, Kamu Dimana? part 5" nya ya. Eh sahabat juga boleh share pendapat, kritik dan nasehatnya ya di kolom komentar, amat sangat senang saya kalau ada yang mau kritik tulisan ini :) Selamat membaca ...



    Ah, sayangnya pintunya baru kubuka sedikit saja, karena kata-kata itu belum terasa tepat menyentuh bongkahan beku di dalam hati. Hanya seperti mengambang walau tersimpan dalam ingatan, dan sebatas membuat aku mengerti tentang keadaan Pak Ardian.

    Aku pamit pulang ketika adzan ashar berkumandang, bukan dengan tangan kosong walau tanpa closing-an, karena dari pertemuan itu aku menerima semangat dan juga nasehat baik dari Pak Ardian. Apalagi beliau juga masih membuka peluang untuk bisa aku follow up di kemudian hari, “ya … masih ada kesempatan closing di hari nanti,” pikirku dengan percaya diri. 

****

    Hari-hariku berikutnya masih diisi dengan kegiatan mencari prospek. Mengunjungi toko, pasar dan juga mall, menyapa orang-orang baru, memperkenalkan diri serta menjelaskan produk.

    Ah, sungguh kegiatan ini tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku, seorang Nayra yang pendiam ini sedikit demi sedikit bisa belajar juga untuk membuka diri, berbicara dengan orang-orang baru.

    Secara teori aku mungkin belajar hal itu di beberapa training yang aku ikuti, tapi secara prakteknya aku belajar langsung dari Mbak Tifani. Ya … sudah beberapa kali Mbak Tifani mengajakku untuk mencari prospek di tempat-tempat umum, dari berbasa-basi, berkenalan, hingga bertukar nomor handphone dan juga kartu nama.
    
    Tapi menjalani bisnis ini memang bukanlah suatu hal yang mudah, karena bisa dibilang seribu penolakkanlah yang aku terima di sini. Dari muka masam yang tampak saat aku mulai memperkenalkan diri, sampai penjelasan panjang lebar yang berakhir dengan jawaban “tidak” walau diawali dengan alasan “tanya istri atau suami dulu” serta “saya pikir-pikir dulu”. Ada juga prospek yang sampai minta dibuatkan ilustrasi perhitungan premi dan manfaat, tapi setelah aku “follow up” kesekian kalinya tetap saja berujung gagal “closing”dengan berbagai alasanya.

    Berbulan-bulan aku lakukan rutinitas itu, kupelajari juga bagaimana cara menghadapi keberatan calon nasabah dengan mengikuti training yang diadakan kantor agency maupun kantor pusat. Tapi entah kenapa begitu sulit rasanya untuk aku “pecah telor” mendapatkan nasabah.

    “Usaha kamu belum maksimal Nay! Kamu belum menemukan goals kamu kan Nay? Perhitungan yang Mbak pernah ajarin itu belum kamu bikin kan? Masih prospek mengikuti kata hati? Kalau hampir seharian hujan, kamu nggak berangkat keluar untuk cari prospekkan? Ah, masih mengikuti aliran air mu itu ya Nay?” Mbak Tifani justru mencecar dengan rentetan pertanyaan saat aku mengeluhkan susahnya mendapatkan nasabah.

    Ah, mungkin Mbak Tifani benar, karena memang selama ini aku menjalani bisnis ini masih dengan energi yang setengah-setengah, tidak seratus persen jiwaku berada di sini, terkadang masih ada juga alasan-alasan untuk tidak melakukan prospek dalam satu hari. Walau kata ‘menyerah’ tak pernah tersebut juga dalam ucapan, selalu ada saja dorongan untuk mengangkah, selemah apapun aku bergerak.

    “Kamu juga, jangan sering-sering habisin waktumu itu untuk dengerin curhat prospek dong, segera pamit pulang, batasi waktu follow up-mu itu Nay! Untuk pendekatan boleh, tapi liat kondisi juga, kalau sekiranya nggak mengarah pada closing ya lewatin aja Nay …” sambung Mbak Tifani.

    Ah iya, diantara kegiatan mencari prospek ini, cukup sering juga aku mendengar curahan hati dari para calon nasabah, baik itu prospek yang sudah kesekian kalinya aku temui maupun orang baru. Entah kenapa, mungkin memang karena pada dasarnya aku ini suka mendengarkan, hingga perbincangan yang semula bertujuan untuk menghasilkan ‘closing’-an itu pun berubah menjadi sesi ‘curhat’.

    Cerita yang aku dengar tentu saja beragam, dari mulai keluhan seputar klaim asuransi, kenakalan beberapa oknum agennya, hingga masuk ke ranah pribadi.

    Di sini mataku seperti seolah dibuat terbuka, melihat luasnya kehidupan yang dilalui beragam manusia. Jika selama ini aku sering mengeluh seakan diri sendirilah yang paling menderita, nyatanya setiap orang pun dalam hidupnya pernah memiliki rasa yang sama, ya … sama-sama beranggapan bahwa masalah hidupnyalah yang paling besar. Walau diantaranya ada juga yang berhasil keluar dari rasa itu, lalu menggantikannya dengan rasa syukur, ketika mereka mampu mengambil hikmah dari semua hal yang telah dilaluinya, serta mampu berempati dengan masalah-masalah orang lain.

    Selain itu aku juga mendapatkan banyak nasehat dan pelajaran di sini, utamanya adalah tentang perjuangan hidup. Ya … nyatanya hidup itu memang sebuah perjuangan bukan? Semua orang memiliki masalah dan semua itu dihadapi dengan berjuang, semua orang punya mimpi juga harapan, lalu menggapainya dengan berjuang.

    “Ah Dek nasib Adek jangan seperti saya ya, jangan sampai Adek salah dalam memilih pasangan hidup. Cari pasangan yang sholeh, yang paham agama dan mampu menghargai wanita,” salah satu pesan seorang Ibu yang kata-katanya selalu melekat di kepala ini. Seorang Ibu yang pernah mengalami kekerasan di dalam rumah tangganya, mendapat pelakuan kasar secara fisik dan psikis dari sang suami yang kini telah menjadi mantannya.
    “Saya mah sekarang fokus ngurusin malaikat-malaikat kecil saya aja Dek, biar bisa mengantarkan Ibunya ini ke syurga. Walau nggak mudah juga berjuang sendirian Dek, tapi ya harus bisa, lagipula Allah nggak akan kasih ujian melebihi batas kemampuan hamba-Nya bukan? Jadi in syaa Allah saya pasti bisa,” ucap Ibu itu dengan mata berkaca-kaca.

    Aku yang duduk di depanya hanya bisa terdiam dengan genangan air di kedua mata ini, sungguh tak tahu harus berucap apa untuk meresponnya. Karena rasanya di sesi curhat ini, akulah yang diberi nasehat dan juga hikmah, bukan sebaliknya. Seorang Ibu dengan segala masalah hidupnya itu telah menemukan sendiri kekuatan dan kebijaksanaan dalam dirinya, yang tentu saja itu berdasarkan pada iman kepada-Nya.

    Ya … memang seringnya begitu, setiap kali aku memasuki sesi curhat dari para calon nasabah, nyatanya diri inilah yang mendapatkan sesuatu, entah itu berupa hikmah, pelajaran dan juga nasehat. Telinga ini memang hanya cukup medengarkan saja, mulutku pun hanya mampu memberikan sedikit semangat dan juga berberapa kalimat empati, tapi selebihnya mereka semualah yang nyatanya berbagi kebaikkan kepadaku.

    Itulah salah satu hal yang aku sukai saat menjadi seorang agen asuransi, bisa bertemu banyak orang, kenal dengan orang-orang baru, mendapatkan berbagai cerita pengalaman dan juga motivasi kehidupan secara nyata. Walau disamping itu ada juga ketidaknyamanan yang aku dapat ketika berkenalan dengan beberapa orang baru, terutama karena aku merupakan seorang perempuan yang masih single, modus pendekatan yang kulakukan demi untuk mengejar target closing-an terkadang mendapat sambutan modus juga dari beberapa pria yang mengakunya masih single, ya… tak tahu juga kenyataannya dibelakang seperti apa.

My Goals, Kamu Di Mana? part 4

    Melanjutkan kisah faksi saya berjudul "My Goals, Kamu Di Mana?", sahabat bisa membaca tulisan sebelumnya di "My Goals, Kamu Di Mana? part 1", "My Goals, Kamu Di Mana? part 2" dan "My Goals, Kamu Di mana? part 3". Semoga menginspirasi dan selamat membaca.

    Sepanjang sisa perjalanan siang itu pikiran ini pun menerawang, sedikit terpikirkan juga ucapan sang ibu calon prospek yang gagal ku closingkan. Walau akhirnya kata-katanya itu hanya mengambang, tersudutkan oleh banyak alasan di dalam pikiranku sendiri. Berbagai kata “tapi” menumpuk di kepala, hingga nasehat sang ibu itu pun tertolak, karena aku masih yakin bahwa apa yang kutawarkan ini merupakan kebutuhan bagi banyak orang. Ya bagaimana tidak, kepala ini masih dipenuhi dengan ragam informasi yang baru saja ku pelajari selama 5 bulan terakhir ini, tentang dunia investasi dan asuransi.

    Kejadian di commuter line siang itu pun akhirnya hanya kuanggap sebagai ujian, sesuatu yang harus ku cari solusinya, bagaimana agar aku bisa menghadapi calon prospek yang memiliki pemikiran yang sama dengan Sang Ibu tadi di kemudian hari.



    Mbak Tifani yang ku ceritakan lewat pesan singkat pun langsung menanggapi,
[Nay bagus itu, kalau kamu punya masalah, itu artinya kamu udah berusaha Nay. Semangat ya Nay! Jangan menyerah hadapin prospek yang seperti itu! Kalau kasus kaya gitu Mbak nggak paham Nay … coba kamu ikut training di pusat aja ya Nay, nanti Mbak cariin jadwal training untuk produk syariah kita ya, terus kamu tanyain deh nanti ke trainernya, ok Nay. Semangat terus, sukses Nay!]

    Semangatku pun kembali tumbuh setelah membaca pesan dari Mbak Tifani, hingga tak sabar rasanya ku nanti training produk syariah yang Mbak Tifani maksudkan.

    Ah iya, Mbak Tifani dan aku memang berbeda keyakinan, jadi pertanyaan seputar prospek dan produk yang berkaitan dengan agama takkan bisa kutanyakan padanya.
****

Keesokkan harinya …

    Ada sederet daftar yang telah ku tulis dari semalam, daftar rencana untuk mencari prospek hari ini. Pagi ini cuaca cukup cerah, tapi rasa tak percaya diri muncul disaat diri ini akan pergi keluar rumah.
“Hufft … ada beberapa wajah baru lagi yang akan ku jumpai hari ini, tak boleh gugup aku nanti. Semua data tentang produk juga harus sudah bisa ku ingat dengan baik, ” ucapku pada diri sendiri.

    Sesaat rasa malas pun datang menghampiri, menyergap tubuh ini, hingga akhirnya aku memilih untuk berangkat di siang hari.

    Kupacu motor di jalanan siang itu, berkelilling mengikuti jalur yang telah terpikirkan untuk jadi tujuan mencari prospek. Satu, dua dan tiga toko pun akhirnya ku datangi, tapi yang kudapat adalah penolakkan. Ah semangat mencari prospek di hari itu pun lambat laun semakin menurun.

    Hingga gerimis pun datang saat diri ini tiba di sebuah rumah, rumah seseorang yang sebelumnya pernah aku datangi.

    “Assalamu’alaikum …” sapaku, setelah memarkiran motor lalu mengetuk pintu.
    
    “Wa’alaikumsalam … Eh Mbak Nay, silahkan masuk Mbak,” jawab seorang Bapak setelah membuka pintu rumahnya.
    
    “Ah gimana kabanya Pak? Sehat semua kan ya Bapak sekeluarga?” tanyaku.
 
   “Alhamdulillah baik Mbak … Gimana - gimana ada yang bisa saya bantu? Hehe … ya mungkin aja Mbak Nay punya informasi pelanggan gitu untuk saya. Eh atau Mbak Nay mau jelaskan produk baru ya kali ini?“ jawab Sang Bapak.

    Mendapat sapaan hangat itu membuat hati terasa tenang, seperti angin sejuk yang mampu menghapus semua ketidaknyamanan, setelah beberapa kali tadi ku hadapi wajah penolakkan.

    Bapak Ardian Sudistira, beliau adalah seorang Bapak muda yang baru kukenal selama dua bulan terakhir ini. Jika ku hitung, ini adalah kali ke tiga aku berkunjung ke rumahnya. Sambutannya terhadapku tak pernah berubah dari sejak pertama aku bertamu, selalu saja ramah.

    “Kondisi keuangan saya rasanya belum mampu untuk rutin membayar preminya Mbak Nay, apalagi yang saya mau tiga anak saya juga bisa dimasukkan Mbak, tapi biayanya pasti besar itu ya Mbak Nay?” katanya ketika obrolan kami sudah masuk pada inti kedatanganku.

    “Ah Bapak mau saya buatkan ilustrasinya dulu Pak? Saya bisa hitungkan berapa biayanya untuk semua keluarga Bapak,” aku pun lalu mengeluarkan pulpen dan buku, siap untuk mencatat beberapa data yang diperlukan.

    “Eh nanti aja dulu Mbak, belum terpikir dalam waktu dekat saya buka polisnya. Nanti kasihan Mbak Nay, pasti itu perlu di print kan ya? Berlembar-lembar juga kertasnya, nantilah kalau sudah pasti saya akan minta Mbak untuk buatkan, tenang saja Mbak, saya sudah simpan nomor Mbak Nay, dan ini kartu nama Mbak Nay juga ada di dompet saya,” ucapan Pak Ardian itu membuatku sedikit lemas. Ya … hari ini Sang Bapak pemilik usaha jual beli mobil kredit ini belum juga bisa aku closingkan.

    “Semangat ya Mbak, sudah bagus itu pantang menyerahnya. Saya udah berapa kali ya Mbak  Nay tawarkan membuka polis? Hehe … yah tapi gimana Mbak kondisinya belum memungkinkan,” sambungnya lagi.

    Lalu telinga ini pun lagi-lagi jadi pendengar tumpahnya sedikit cerita, karena Bapak Ardian akhirnya bertutur tentang kondisi bisnisnya yang saat ini sedang jatuh.

    “Ah … kalau saya ingat beberapa bulan lalu, lebih berat dari sekarang Mbak. Yang saya ingat saat bisnis saya jatuh itu cuma satu, dosa saya, terutama sama Ibu. Pasti Mbak Nay juga pernah dengar kan ya, masalah yang datang dalam hidup itu terjadi pasti karena kesalahan kita sendiri, bukan hanya kesalahan pada keadaan yang kita hadapin saat itu aja, tapi bisa juga karena tumpukkan dosa di masa lalu. Yah kaya kita lagi di sentil aja sama Allah, supaya inget lagi untuk segera berbenah diri,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

    “Saya datangi ibu, lalu minta maaf sama beliau dan minta didoakan supaya bisa lancar semua urusan Mbak. Ya … ibadah dan sedekah juga pastinya nggak lupa dibenahi, cari ridho Allah,” sambungnya.

    “Tok … tok … tok … “ hati ini sepertinya sedang diketuk lagi, dengan nasehat yang datangnya dari sebuah pertemuan.

My Goals, Kamu Di Mana? part 3

Ilmair lanjutkan sharing tulisan, cerita faksi berjudul "My Goals, Kamu Dimana?", sahabat bisa baca tulisan sebelumnya "My Goals, Kamu Di Mana? part 1" dan "My Goals, Kamu Dimana? part 2", semoga menginspirasi, selamat membaca. 

    Acara hari itu pun akhirnya di tutup dengan tepukan semangat dari semua yang datang, diiringi dengan musik serta tampilan video tentang bonus tahunan, trip ke beberapa Negara jika para agen mampu mencapai target yang telah ditentukan.

    “Ayooo Nay, jadikan itu goalsmu, semangat mencari prospek nasabah dan rekrut agen baru Nay! Ayooo masih ada waktu sampai akhir tahun,” suara Mbak Tifani terdengar setengah berteriak, karena suasana di ruangan itu masih begitu riuh.

    Aku hanya menjawabnya singkat, “hummm … iya Mbak in syaa Allah, semangat!”

    Kami keluar dari ruangan itu lalu berjalan menuju kantin di lantai dasar, bersama beberapa teman satu timnya Mbak Tifani. Energi di dalam tubuh ini rasanya memang terisi penuh, terbayang di kepala berderet rencanaku ke depan untuk mencari prospek. Ya, walau itu masih sebuah rencana yang semoga mampu aku jalankan, bukan hanya sekedar jadi wacana yang kemudian terlupakan.

    Usai makan siang aku ijin ke mushola, Mbak Tifani pun ikut beranjak dari duduknya, lalu pamit pada semua.

    “Nay, kamu pulangnya naik ‘cummuter line’ aja ya, Mbak ada perlu ini, nggak apa-apa kan?” ucap Mbak Tifani saat hampir tiba di area parkiran.

    “Ah iya nggak apa-apa Mbak duluan aja, iya gampang nanti aku pulang naik commuter line aja,” kami pun berpisah setelah ‘bercipika-cipiki’.

    Selesai sholat aku langsung berjalan ke arah jalan raya, kemudian menyetop metromini yang akan membawaku ke Stasiun KRL Sudirman.



    Hari ini merupakan hari kerja, hingga suasana siang hari di stasiun tidaklah terlalu padat. Aku duduk di kursi tunggu stasiun, karena jadwal kereta yang akan kunaiki baru akan tiba sekitar 20 menit lagi. Tepat di sebelahku duduk seorang Ibu, yang sedang asik memainkan handphonenya.

    Saat ibu itu melirik ke arahku dan tersenyum, jiwa marketingku pun mencuat, ada gerakan dari dalam diri untuk mengajaknya berbicara,

    “Keretanya lama juga ya Bu datengnya, tadi denger-denger masih beberapa stasiun lagi dari sini,” suaraku langsung meluncur ketika mata kami beradu untuk kesekian kalinya.

    “Eh iya nih dek, mana panas banget juga ya cuacanya, Ibu pingin buru-buru sampai rumah ini, mana kaki Ibu juga udah pegel lagi.” jawab Ibu itu, sambil menyeka peluh di keningnya dengan tisu.

    “Tapi bagusnya ini mah jamnya sepi ya dek, jadi pasti kebagian tempat duduk,” sambung ibu itu kembali.

    Dari obrolan pembuka itu pun kemudian mengalir obrolan-obrolan lainnya, baik itu seputar commuter line, macetnya Ibu kota, juga seputar belanjaan dan perbandingan baju-baju di Thamcit serta Tanah Abang.

    Ah, aku sendiri tak menyangka bisa sebegitu lancarnya kata demi kata ini megalir dari mulutku, walau dari obrolan yang terjadi, aku lebih banyak mendengarkan si ibu bercerita.

    “Eh adek kerja atau kuliah?” tanya ibu itu kemudian.

    “Ting” akupun langsung menemukan sebuah peluang. Ku keluarkan buku dan pulpen dari dalam tas, ku tawarkan untuk membantunya mengikuti program investasi yang menguntungkan, bersama kelebihannya yang bisa menjamin kesehatan di masa depan.

    “Ah iya dek, itu bagus banget, tapi kalau Ibu tuh nggak terlalu suka sama yang namanya investasi, bisnis aja sukanya langsung terjun jalaninnya. Nah ini, kaya bisnis kecil-kecilan ibu dek, jualan baju yang kaya gini ini, jalanin sendiri itu lebih jelas Dek uang kita larinya kemana. Kan kalau investasi itu kita kasih kepercayaan ke orangkan ya? Yang ngelola dan jalanin kan orang lain, kita cuma tahu beresnya aja. Dan ah itu juga nggak berasa perjuangannya Dek,” jawab ibu itu sambil menunjukkan bungkusan plastik yang berada di bawah kursinya.

    Baru saja bibir ini akan bergerak merespon ucapannya, kereta yang akan kami tumpangi pun akhirnya datang. Kami memilih duduk di gerbong kereta khusus wanita, dan seperti dugaan kami sebelumnya, gerbong itu begitu lenggang, hanya ada segelintir orang saja yang menempati kursi-kursinya.

    “Coba sini Dek, Ibu liat catatan Adek tadi … “ Kusodorkan buku yang berisi tulisanku.

    “Oh, ini ada investasi untuk kesehatanya juga ya dek, seperti a**ran*si gitu ya dek? Bagus programnya …” sambung ibu itu lagi.

    “Iya Bu, jadi ini seperti kita investasi buat kesehatan juga Bu, buat jaga-jaga, kalau kata orang mah seperti sedia payung sebelum hujan. Walau preminya baru dibayar selama tiga bulan tapi fasilitas kesehatannya udah bisa di klaim loh Bu! Daripada misalnya cuma nabung aja Bu, bisa lebih repot dong kalau ada masalah kesehatan mendadak dan uangnya belum terkumpul, iya nggak Bu?” kujabarkan penjelasan itu padanya, berharap Sang Ibu tertarik membuka premi.

    “Adek ini bisa aja … Humm … Iya sih ya Dek betul juga, kita ini memang harus sedia payung sebelum hujan, mempersiapkan masa depan ya Dek? Tapi maaf kalau Ibu boleh bilang, bahkan dibandingkan dengan nabung, ibu lebih suka investasi lain buat kesehatan dan kehidupan Ibu dan keluarga di masa depan Dek, lebih menguntungkan dan yang menjaminnya pun lebih bisa dipercaya …”

    “Eh … ada ya Bu?” tanyaku sedikit penasaran, hatiku pun lalu mulai gamang. "Hummm .. rasanya hari ini aku salah membaca orang … Ah salah menyasar prospek nih!" pikirku. 

    Energi dari dalam diri yang semula mencuat pun rasanya sedikit demi sedikit mulai meredup.

    “Investasi buat masa depan yang paling menguntungkan itu ya sedekah Dek. Dengan sedekah kita bukan hanya dapat untung di dunia aja, tapi sampai ke akhirat juga kan Dek, kalau niatnya Lillahita’ala. Kalau dihitung dengan rumus biasa mungkin nggak akan ketemu ya nilai untungnya segimana, keluarin aja uang, dititipin ke orang yang bahkan mungkin kita nggak kenal. Tapi kan udah ada yang nyatetin dan udah dijanjiin juga kalau sedekah itu seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Belum lagi banyak kebaikkan dari sedekah yang diantaranya bisa menyembuhkan penyakit juga, iya nggak Dek?”

    “Jleeb …” penjelasan Ibu itu pun membuat aku serasa di ‘skak-matt’, hilang rasanya semua kata-kata yang telah kupelajari dalam menghadapi ragam pertanyaan prospek. Bibir ini tiba-tiba terasa kelu, benar-benar tak bisa mengucap satu kata pun, hingga aku pun akhirnya hanya mengangguk saja sambil tersenyum.

Bersambung, selanjutnya di "My Goals, Kamu Di Mana? Part 4

    

My Goals, Kamu Dimana? Part 2

    Ilmair lanjutkan sharing tulisan, cerita faksi berjudul "My Goals, Kamu Dimana?", sahabat bisa baca tulisan sebelumnya "My Goals, Kamu Di Mana? Part 1 semoga menginspirasi, selamat membaca.

    Selama beberapa bulan sebelumnya aku memang hanya seorang pencari receh di dunia maya, menulis di blog pribadiku hingga kemudian menemukan beberapa peluang yang bisa menghasilkan uang. Aku juga sempat membuat kue dan roti, lalu menjualnya dengan cara konsinyasi, tapi bisa dibilang tak seberapa juga hasilnya, karena aku menjalaninya tanpa keseriusan dan ketekunan.

    Di saat penjual kue lainnya mungkin bisa bangun lebih pagi, membuat kue yang lebih banyak lalu menitipkannya di beberapa tempat, aku hanya baru mencoba-coba resep lalu menjualnya. Untuk proses yang satu itu memang tak sebaiknya kupelihara, karena keseriusan dan ketekunan itu seharusnya memang masuk ke dalam lembar ikhtiar dalam hidup. Walau pada akhirnya tetap Allah-lah yang menentukan hasilnya, apa yang terbaik bagi-Nya, itulah yang akan datang menghampiri diri.

    Ya, memang kemudian skenario Allah mempertemukan aku dengan sebuah kesempatan, bahkan beberapa kemudahan, tapi mungkin hasilnya akan jauh berbeda jika aku melakukan ikhtiar yang lebih baik lagi.


    Humm ... proses, rasanya kurang tepat jika ikhtiar yang tak seberapa itu ku sebut sebagai sebuah proses yang membawaku pada sebuah kesempatan. Nyatanya Allah itu memang terlalu baik, karena ketika aku menelaah semua hal yang telah dihantarkan-Nya di dalam hidup, sungguh rasa malu pada-Nya pun akan hinggap di hati ini.

    Apalagi keluh kesah pada-Nya sering kali mencuat saat masalah hidup menghampiri, hingga terkadang aku pun bertanya-tanya, “kenapa sih Allah kasih masalah yang berat di dalam hidup? Kenapa harus aku yang menghadapi masalah seperti ini? Bosan aku dengan masalah, lelah rasanya Allah …”

    Di titik ini, aku memang belum bisa menemukan jawaban yang tepat untuk sebuah “proses”, apalagi jika aku hanya mencarinya di dalam teori dunia, kata “tak layak mendapat kesempatan” pasti tertunjuk tepat ke arahku.

    Tapi mungkin nanti, akan ada kepingan-kepingan puzzle jawaban yang aku temukan di perjalanan ini. Mungkin saat itu aku telah menemukan “goals”-ku di depan, mungkin ....

    “Nay … hayuu turun! Kamu lagi mikirin apa sih? Humm … bagusnya sih kalau omongan Mbak tadi ya yang dipikirin. Tapi … jangan cuma disimpan di dalam kepala juga ya Nay, coba dilakuin dong Nay. Mbak mau ngomong berjuta kata motivasi dan semangat juga nggak akan jadi apa-apa Nay, kalau kamunya sendiri nggak mau menemukan “goals”-mu itu,” suara Mbak Tifani menyadarkanku, segera ku masukkan buku dan pulpen yang sepanjang perjalanan tadi hanya sempat bertautan melalui jemari ini sesaat, kemudian sisanya hanya duduk manis terdiam di pangkuan, kontras dengan pikiran ini yang sedari tadi malah asik dengan ragam kata dan ingatan.

    Aku berjalan mengikuti langkah Mbak Tifani, memasuki Gedung berlantai 20 yang sudah kesekian kalinya kami kunjungi.

    “Kita charge lagi semangat kita disini ya Nay, kamu dengerin sharing temen-temen yang udah bisa mencapai targetnya bulan ini,” ucap Mbak Tifani ketika kami sampai di depan pintu lift.

    “Ah iya Mbak,” jawabku singkat sambil tersenyum.

    Suara musik dengan alunan yang menggelegar dan membangkitkan semangat terdengar saat pintu lift terbuka di lantai 20, energi di tubuhku pun terasa mengalir deras. Di dalam ruangan tempat asal suara musik itu tampak sudah dipenuhi dengan banyak orang, dengan wajah yang cerah dan penuh semangat.

    "Semangat pagi, apa kabar Anda hari ini?" Sapa MC acara hari itu, yang dijawab dengan serempak oleh semua yang ada di dalam ruangan, "luar biasa dahsyat!"
    Aku dan Mbak Tifani kemudian masuk dan duduk di kursi deretan tengah, sempat juga kami berpapasan dengan beberapa teman satu timnya Mba Tifani dan saling bersapa hangat.

    “Gimana nih closingannya orang sukses bulan ini?” tanya Mbak Pradita, leader satu tingkat di atas Mbak Tifani. Pertanyaan yang sebenarnya membuat aku sedikit minder, karena sejak lulus ujian lisensi keagenan tiga bulan yang lalu, aku belum juga bisa membawa data nasabah ke sini.

    “Ayo semangat! Harus optimis dan percaya diri kalau kamu pasti bisa Nay! Nggak boleh menyerah sama penolakkan ya, belajar terus dan kejar prospek terus Nay!” sambung Mbak Pradita saat melihat aku hanya tersenyum tegang mendengar pertanyaannya tadi, kemudian menepuk pelan lenganku dan duduk disamping Mbak Tifani.

    “Ah iya Mbak, “ jawabku .

    Beberapa orang kemudian di panggil ke depan oleh MC, mereka adalah teman-teman satu agency yang berhasil mengejar target closing lebih dari dua nasabah bulan ini. Secara bergantian teman dengan nilai tertinggi maupun agen baru yang sudah berprestasi itu berbagi cerita tentang pengalaman sukses mereka.

    Mataku merekam dengan apik cerita mereka, tentang rasa syukur dan juga kisah perjuangan mereka. Latar belakang orang-orang yang berbagi itu sungguh tak sama, dari yang kutangkap kesuksesan yang didapat itu bukanlah soal berapa banyak teman dan saudara yang mereka punya, juga bukan soal dari kalangan berada atau tidaknya meraka. Tapi tentu saja itu semua soal bagaimana tekun dan gigihnya mereka berusaha dalam mengejar goalsnya masing-masing.

    Mbak Tifani melirik ke arahku, saat seorang Ibu berbagi kisah di depan,
    “Nay, kamu dengar kan cerita ibu itu, dia itu hanya seorang Ibu rumah tangga loh tadinya, bukan dari kalangan berada bahkan. Saudaranya mungkin banyak yang punya cukup uang untuk bisa dia closingkan menjadi nasabah, tapi tak satu pun dari orang terdekatnya itu yang menerimanya sebagai financial planner. Ditolak, diacuhkan bahkan sampai disepelekan tak membuatnya gentar, hingga akhirnya dia mampu closingkan orang-orang yang baru dia kenal. Eh, ibu rumah tangga loh Nay, nggak pernah punya background apapun di bisnis kita ini, bahkan belum pernah juga jadi marketing apapun sebelumnya. Jadi jangan beralasan ya Nay, semua orang pasti bisa sukses kalau ada kemauan Nay, dan harus punya goals …” ucap Mbak Tifani.

    Sebuah video tentang perjuangan dan kesuksesan pun di putar di depan, mata ku tak berhenti merekam setiap adegannya di sana.

Bersambung.... (selanjutnya di My Goals, Kamu Di Mana? part 3)

My Goals, Kamu Di Mana? Part 1

    "Kamu harus punya goals dong Nay! Sesuatu yang akan mendorong kamu untuk bergerak dan lakuin yang terbaik. Bukan cuma mimpi loh ya, kalau cuma mimpi sambil tidur juga semua orang bisa. Goals Nay ... goals! Coba tentukan goals kamu, baik itu jangka pendek dan juga jangka panjangnya. Tulis di buku Nay keinginanmu apa aja, pingin dapet penghasilan berapa sebulan misalnya. Terus tentuin berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai goals kamu itu, untuk kamu usahain nantinya. Ya bayanginnya sambil di hitung ya Nay, bukan asal-asal aja. Coba hitung, untuk meraih goals itu kamu perlu closingkan berapa orang dalam satu bulan, terus hitung juga kira-kira harus berapa kali kamu menemui prospek dalam satu hari untuk kejar closingan sebulan itu," ucap Mba Tifani sambil sesekali melirik ke arahku, walau fokus pandangannya pada jalanan di depan juga tetap tak terpecah, tangannya itu sudah cukup terampil memegang kemudi mobilnya.
 
    Aku yang duduk disampingnya hanya diam, mendengarkan dan mencerna dengan baik kata-kata yang diucapkannya. Walau belum bisa rasanya kubayangkan tentang "goals" yang ia maksud itu mampu membuat diri bergerak.


    "Jangan cuma bengong dong Nay, ambil buku dan pulpenmu sekarang! Jangan ditunda nanti!" Kali ini ucapan Mbak Tifani membuat aku bergerak mengambil buku dan pulpen dari dalam tas.

    "Kamu yakin mau terus hidup dengan aliran airmu itu Nay? Hum ... ya itu terserah kamu, tapi mestinya kamu pikirin, apa yang dilakukan hari ini akan berpengaruh dengan masa depanmu loh Nay. Pikirin juga Ibumu Nay, yang sekarang lagi kerepotan ngurusin Ayahmu yang lagi sakit stroke itu kan katamu? Kamu pasti senang kan kalau bisa meringankan bebannya karena udah bisa ngurus masa depanmu sendiri, malah mungkin nantinya bisa ikut ngebantu pengobatan Ayah juga kan Nay?" Mbak Tifani mengatakan itu ketika melihatku hanya menuliskan beberapa kata di dalam buku sambil tampak termenung kemudian.

    Ah tak mudah rasanya menuliskan berapa nilai yang aku inginkan, lalu menghitung rumus seperti yang Mbak Tifani jelaskan tadi. Kalau hanya menuliskan beberapa angka saja mungkin mudah, tapi ketika meraba rasa yakin pada diri sendiri, aku seakan kehilangan angka-angka itu, jari tangan ini seakan kaku dan tak bisa digerakkan.

    Mbak Tifani yang baru kukenal selama 5 bulan ini sepertinya sudah menangkap salah satu kelemahanku. Ah iya … seorang Nayra yang tak lulus kuliah ini memang ditemukannya dalam keadaan gamang tentang masa depan, seperti seseorang yang tak tahu ingin mengejar apa dalam hidupnya dan tak cukup punya kepercayaan akan kemampuan diri.

    Aku bertemu Mbak Tifani di ruang tunggu salah satu Rumah Sakit swasta, di saat aku dan ibu mengantar ayah pergi berobat. Mbak Tifani dengan gaya supelnya saat itu menyapaku, lalu si pendiam ini pun dengan mudahnya dibawa dalam obrolan yang cukup menyenangkan, hingga sebuah kertas pun disodorkannya kepadaku …

    “Business Opportunity” deretan kata itu terbaca oleh dua mataku ...

    Mbak Tifani lalu menjelaskan sepintas tentang sebuah bisnis yang dia jalani, bisnis yang bisa membuat aku sukses di masa depan katanya, jika aku menekuninya dengan baik.

    Ayah yang saat itu ikut mendengarkan obrolan kami dan sesekali menimbrung juga langsung menyatakan persetujuannya, ketika kemudian Mbak Tifani menanyakan boleh tidaknya anak bungsunya ini di bawa ke sebuah seminar di Jakarta Pusat keesokkan harinya. Begitupun dengan Ibu, tanpa banyak bertanya beliau pun mengiyakan saja.

    Walau begitu tetap saja rasa khawatir dari keduanya terhadapku begitu tampak, karena ketika aku akhirnya pergi bersama Mbak Tifani keesokan harinya, Ibu selalu berusaha menghubungi dan menanyakan keberadaanku, baik dengan menelepon langsung, mengirimkan pesan atau melalui Mas Dion, kakak laki-lakiku, yang dimintanya juga mengontakku sesering mungkin pada saat itu.

    “Humm … katanya kemarin boleh pergi sama Mbak Tifani ke Jakarta, tapi kenapa tiap satu jam sekali Nayra selalu di telepon sih Bu? Kaya Ayah tuh, adem ayem aja, cuma sms satu kali aja,” protesku sesampainya di rumah.

    “Eh … siapa bilang ayahmu itu adem ayem Nay, nah itu yang minta ibu dan Mas Dion hubungi kamu terus dari tadi itu siapa? Ya Ayah … Bahkan Ayahmu itu sampai bilang, gimana kalau anak gadisnya yang pendiam ini sampai diculik, dibawa ke negeri orang, seperti gadis desa yang sedang mencari pekerjaan di kota Jakarta lalu ditipu orang,” jawab ibu.

    “Ah … ayah, ada-ada aja, biar gini-gini juga anak bungsu ayah ini bisa jaga diri atuh. Lagian dulu Nayra kuliah di Bogor pulang pergi juga nggak apa-apa, ini nggak sampai seharian pergi aja segitunya.” Ayah hanya tersenyum saja di tempat tidurnya saat aku menyampaikan protesku.

    “Nay, Ayah itu lagi stroke, lagi banyak pikiran, lagian Ayah begitu juga karena sayang sama kamu kan, sebegitu khawatirnya Ayah sama kamu,” kata Mbak Giya, kakak perempuanku yang membuatku akhirnya mengerti dan tak menggerutu lagi.

***
    Pertemuanku dengan Mbak Tifani saat itu memang menjadi sebuah pintu kesempatan yang membuat hidupku berubah. Dan pertemuan itu pasti merupakan salah satu skenario dari-Nya, tak pernah direncanakan, bahkan seperti sebuah kesempatan yang datang tepat disaat aku membutuhkannya.

    Ya... terkadang dalam hidup ini memang ada banyak kesempatan yang tak pernah kita duga datangnya, secara tiba-tiba saja rasanya Allah hantarkan, bahkan seperti seolah tak pernah kita upayakan ataupun pinta. Humm … bisa saja begitu, jika Allah memang maunya begitu. Tapi salah jika kita bilang semua itu terjadi begitu saja, karena bisa jadi apa yang kita terima itu merupakan hasil dari proses-proses yang telah kita lalui sebelumnya, walau mungkin tak akan selalu sama jalannya.

    “Proses? Humm… proses apa ya yang ku lalui hingga bisa berada di titik menemukan kesempatan itu?” Pertanyaan itu sempat terlintas juga dibenakku, karena nyatanya seorang Nayra ini memang benar-benar sedang berjalan mengikuti aliran air saja, melakukan usaha-usaha kecil yang tanpa ambisi akan mimpi besar di depan, tanpa goals, setelah beberapa tahun sebelumnya berhenti kuliah karena suatu masalah yang tak bisa diatasi.

Bersambung.... (selanjutnya di My Goals, Kamu Di Mana Part 2)

Mencoba menulis novelet di ilmair, semoga menginspirasi

Translate