"Bismillahirrahmanirrahim"

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software

My Goals, Kamu Dimana? part 6

    Posting lanjutan kisah "My Goals, Kamu Dimana?" lagi ini ya ... Yuhuuu ... udah part 6 aja ya sekarang. Sebenarnya  saya lagi agak bingung sama update postingan ilmair, ada beberapa tulisan di draft yang belum tuntas tulisannya, mau lanjut nulis juga masih agak nge-blank, jadi lanjut pos cerbung inspiratif ini dulu aja ya. Semoga ada inspirasi yang mengalir ke sahabat semua ya ... Untuk sahabat yang belum baca dari awal bisa ke "My Goals, Kamu Dimana? part 1", "My Goals, Kamu Dimana? part 2",  "My Goals, Kamu Dimana? part 3", "My Goals, Kamu Dimana? part 4", "My Goals, Kamu Dimana? part 5" ya.

    Sekarang selamat membaca part 6 nya, share kritik dan sarannya di kolom komentar juga dipersilahkan ...

 


    Ada satu hari dimana aku merasa begitu lelah, hingga aku pun berteriak dalam bisikan, 'Ah Allah kenapa menjemput rezeki-Mu sesulit ini? Aku kan sudah berusaha Allah, semampu aku bisa, berdiri di atas kaki sendiri, tak meminta-minta atau bermaksud menyusahkan siapapun!'

    Saat itu tubuh ini terguyur hujan di atas motor, dinginnya tetes air pun terasa seperti menusuk kulit. Hari itu aku lupa membawa jas hujan, hingga kuyup hampir seluruh badan tak bisa dihindarkan. Kupacu motor semakin kencang, karena magrib hampir segera datang, hingga enggan diri untuk menepikan motor, meneduh walau sebentar.

    Dari pagi aku telah berkeliling seperti biasanya, berkunjung ke beberapa tempat untuk mencari nasabah, namun lagi-lagi yang kudapat hanya penolakan dan penolakan. Bahkan hari itu tak ada sesi curhat seperti biasanya, berkali-kali wajah tak bersahabat justru yang aku temukan.

    Hujan saat itu menjadi tumpahan rasa kesal, tetesan air yang tak bersalah itu pun berkali-kali menerima gerutuan dari mulut ini. Padahal jika kuingat, sudah beberapa kali aku berkeliling ditemani hujan selama ini, yang terkadang justru membuat pertemuan dengan prospek di tempat berteduh terjadi.

    Namun sepertinya hari itu aku begitu lelah, energi tubuh pun seakan melemah, harapan yang aku genggam saat berangkat tadi seakan menjadi serpihan yang kemudian terbang terbawa angin, lalu tersapu hujan.

    Hummm … apa kabar dengan semua motivasi perjuangan yang aku dapatkan selama ini? Memang masih menempel di kepala, bahkan bagai slide video satu persatu bergantian terbayang di pikiran saat itu. Baik itu motivasi yang kudapat saat mengikuti training, kata-kata Mbak Tifani yang selalu menyemangati, cerita teman satu tim di agency hingga sesi curhat yang selama ini aku dengar. 

    Tapi di saat perjalanan berjuangku rasanya belum juga mendapatkan hasil, sementara pikiran ini mulai membandingkan diri dengan kesuksesan orang-lain, diri ini tiba-tiba jadi merasa kecil, tertinggal jatuh dan gagal.

    Ah, semua motivasi perjuangan yang aku dapat pun seakan hilang tak berarti, tak memberi tambahan energi semangat saat dibutuhkan. Diri ini seakan tersudut oleh pikiran negatif yang berkumpul di kepala, tak punya harapan rasanya bahkan hampir putus asa.

    Lalu ‘goals’ku kemana? Entah, belum juga rasanya aku temukan di sini, tak mampu aku mencarinya pada sudut hati dan pikiranku. Perjalanan berjuang yang tanpa energi maksimal ini memang terasa begitu sia-sia.

    Hingga akhirnya arah langkahku pun kemudian seakan di buat berubah oleh Sang Pemilik skenario kehidupan. Ya … di hari-hari berikutnya aku tak lagi punya waktu banyak untuk berkeliling mencari prospek, karena aku diminta mengantar dan menunggui Faya, keponakanku, pergi ke sekolah. Kebetulan Mbak Giya, mamanya, yang biasanya mengatarnya lagi perlu banyak istrirahat, karena gelaja penyakit types yang dideritanya.

    Tapi … keadaan itu justru jadi sebuah peluang bagiku, karena di TK tempat Faya sekolah aku bertemu dengan ibu-ibu yang juga menunggui anaknya sekolah.

***

    Aku duduk di ruang kelas mendampingi Faya yang tak mau ditinggal, memperhatikan bagaimana sang guru paud itu mengajar. Dari mengajak bermain sambil menghafal doa dan hadist, serta melatih motorik halus anak-anak didiknya. Terkadang sang guru pun bercerita, disamping kesigapannya mendengarkan celoteh anak-anak yang selalu maunya diperhatikan.

    Saat jam istirahat tiba aku pun mulai beraksi, dari mulai lirik kanan dan kiri sambil menebar senyum, kemudian duduk merapat di antara barisan ibu-ibu … ‘pdkt’ ceritanya. Begitu pun saat pulang sekolah, aksi ‘pdkt’ itu pun berlanjut. 

Bersambung ...  ke "My Goals, Kamu Dimana? part 7"


    Part 6 nya sampai di sini dulu aja, nggak panjang-panjang ya, soalnya kisah "My Goals, Kamu dimana?" nantinya mau saya revisi juga, mengikuti masukkan kurator di sebuah kelas online yang pernah saya ikuti.

    Ah iya bagi sahabat yang mau join kelas menulis online dan naskahnya di kurasi, boleh langsung kontak "chat sama admin ilmair" (<< langsung di klik aja) ya. 

0 sharing inspirasi :

Posting Komentar

Silahkan share saran, kritik, ilmu, inspirasi positifmu di ilmair. Berkomentarlah dengan bijak. Spam akan saya hapus..
Terimakasih..

Translate