semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin menerpanya
Menurut saya, peribahasa "semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin menerpanya", tidak bisa sembarangan dikaitkan dengan usaha dan daya manusia dalam hidup, serta kedudukan manusia dalam kaca mata manusia. Karena yang paling tepat dengan peribahasa itu hanyalah, "semakin tinggi iman dan taqwa seseorang manusia kepada Allah, maka akan semakin besar hal yang akan menganggu keimanan dan ketaqwaan manusia itu." Atau "semakin tinggi derajat iman dan taqwa manusia pada dan di mata Allah, maka semakin besar ujian yang harus dihadapinya untuk peningkatan derajat manusia itu dimata Allah."
Dalam hal inipun, peribahasa "semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin menerpanya" itu seperti layaknya siswa yang belajar di sekolah forma. Ketika semakin tinggi tingkatan atau kelas siswa itu di sekolah, maka soal ujian yang harus diselesaikannya untuk naik kelas atau tingkatan pendidikan itu akan semakin sulit atau sesuai dengan tingakatan pendidikannya itu. Masa siswa SMP ingin dapat soal untuk anak SD, atau masa anak kuliah ingin mendapatkan soal anak SMU, atau malah ingin mendapatkan soal anak TK? Yaa, tidak naik tingkat dunk klu begitu...
Begitu juga dengan derajat manusia di mata Allah yang seperti saya tulis di atas, semakin tinggi derajatnya di mata Allah maka ujian hidup akan semakin sulit. Dengan ujian hidup itu manusia dapat naik tingkat derajat iman dan taqwanya pada dan di mata Allah. Ujian hidup itu pula yangkan meningkatkan kualitas diri, kualitas keimanan dan ketaqwaan , serta kedewasaan akhlak di hadapan-Nya. Tentu hanya manusia yang mampu meneguhkan keImanan dan ketaqwaan pada Allah-lah yang mendapatkan kenaikkan derajat itu. Seperti kokohnya pohon yang diterpa angin yang kencangnya angin sesuai ketinggiannya, begitu pula seharusnya Iman dan taqwa manusia pada-Nya, harus tetap kokoh tertanam dalam jiwa, dan berdiri menjulang dalam perilaku walau diterpa ujian sesuai kualitas tingkat Imannya.
Jadi apapun yang dipandang manusia atau penilaian manusia pada manusia lain atau bahkan penilainnya pada dirinya sendiri tidak akan menentukkan tinggi rendahnya padangan Allah terhadapnya, dan tidak akan menentukkan angin ujian yang menerpanya. Orang yang tidak pernah dipandang penuh hormat derajatnya oleh manusia, mungkin saja ia adalah pohon yang menjulang tinggi di mata Allah, dalam hal iman dan taqwa-nya, dan justru padangan rendah manusia itu bisa jadi adalah angin ujian yang menerpa keimanannya itu.
Saya mungkin bulanlah seorang hamba yang sudah sempurna kekokohan pohon iman dan taqwa saya, dan seberapa kencang juga Dia berikan ujian atau bahkan mungkin kritik dalam hidup saya. Bagaimana pun itu, semoga Allah menjadikan diri saya dan kita semua menjadi pribadi yang baik dan dapat seperti pohon yang kokoh kala diterpa angin dalam hal imtaq pada-Nya, aamiin.

mantab nih tulisannya
BalasHapusbagus niy..
BalasHapushmm,, ga bisa dikasih "jempol" ya? #FB mode on.. :D
hhmm betul3....baru dapat pemahaman lain ttg peribahasa itu saat ini...sukron mbk..:-)
BalasHapusMasyaAllah, indahnya.. Izin share ukhti :)
BalasHapussilahkan akhi atau ukhti.. :)
Hapuspas sekali..., ini baru terasa kata2 surgawi.., buat hati sejuk damai... AMIN maju trus sobat, BERKAT ALLAH KIRANYA ADA DI ATASMU
BalasHapusSuper " Arif dan bijaksana ,,,😍😍👍👍👍
BalasHapusTerimakasih telah berkunjung ke web ilmair Pa :)
Hapus