"Bismillahirrahmanirrahim"

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software

5 Cara Mengatasi Writer's Block - Sadari Penyebabnya!

     Blog ilmair jarang di update lagi nih! Ya Allah, diantara sedikit kesibukan diri dan banyaknya kesibukkan pikiran ini ternyata saya itu lagi mengalami yang namanya writer's block!

    Ah, sahabat pernah mengalami writer's block juga?

    Saat saya lagi mengalami writer block tuh mau nulis rasanya buntu, susah fokus dan semangat pun jadi menurun. Saat di depan laptop, lalu buka weblog atau aplikasi office enggak tahu apa yang mau ditulis, ide seperti menghilang, pikiran blank. Dan pas sudah ada ide di kepala, eh tapi kok ya enggak mengalir tulisannya ya? Duuuh ...

    Buat seorang saya yang merupakan penulis pemula ini, kalau lagi dihinggapi writer's block alias kebuntuan menulis pastinya enggak nyaman banget, membuat produktifitas menulis pun jadi tersendat.

Writer's Block alias Kebuntuan Menulis adalah sebuah keadaan ketika penulis merasa kehilangan kemampuan menulis atau tidak menemukan gagasan baru untuk tulisannya - by wikipedia.

    Enggak mau berlama-lama bergumul dengan si writer's block, saya pun segera mencari cara untuk mengatasinya. Setelah membaca ke sana ke mari ditambah dengan beberapa lintasan nasehat yang muncul di kepala, akhirnya dapat juga saya tips untuk mengatasi writer's block ini. 

    Hummm ... bismillah saya coba sedikit-sedikit praktekkan dan mengalir juga tulisan di blog ini kan ya.

    Saya share di blog ilmiar ya, tentang Writer's Block untuk sahabat semua, semoga bermanfaat dan menginspirasi ya ...

Sadari penyebabnya

    Saat masalah datang, salah satu yang harus dilakukan tentu mencari tahu dan menyadari apa penyebabnya ya. Begitu pula ketika kita mengalami kebuntuan menulis, harus segera di cek nih apa yang menjadi penyebabnya.

    Hayoo segera sadar, kamu lagi kenapa ya diri? Sedetik kemudian tangan ini pun menampar pipi, 'plak'. Duuuh enggak begitu juga ya adegannya :)

     Ya, identifikasi diri pokonya, jadi dokter buat diri sendiri, periksa diri secara keseluruhan dari urusan pikiran, badan dan hati. Apa ada beberapa hal seperti di bawah ini yang jadi penyebabnya? 

  • Terlalu Perfeksionis

    Sifat ingin semuanya serba sempurna alias perfeksionis bisa dimiliki juga ya oleh seorang penulis. Humm ... biasanya orang yang perfeksionis itu standarnya tinggi, dorongan agar dirinya bisa melakukan yang terbaik juga kuat, jadi bisa dibilang sifat ini memiliki hal yang positif ya jika dimiliki seseorang. 

    Walau begitu sifat ini nyatanya juga bisa membuat susah orang yang dihinggapinya ya. Untuk seorang penulis misalnya, khususnya yang masih pemula, ketika ia terlalu perfeksionis, maka akan timbul banyak kekhawatiran dalam dirinya saat akan berkarya. Tulisannya harus sempurna dan tanpa cacat, padahal ia masih belajar. Ketakutan akan pandangan buruk orang terhadap karyanya juga bisa begitu mengganggu, padahal ia belum mulai menulis.

    Hingga akhirnya ide pun jadi enggak mudah untuk dikembangkan, karena rasa khawatir berlebihan akibat sifat terlalu perfeksionisnya itu, writer's block deh jadinya.

    Waduh, kalau diri punya sifat seperti itu, hayuu segera diubah, SADAR DIRI kalau masih belajar menulis dan enggak ada yang sempurna di dunia ini. Ingat juga kalau kesuksesan pasti butuh proses.

  • Insecure dan Tidak Percaya Diri
    Kalau diri lagi merasa insecure dan tidak percaya diri pun bisa ya membuat writer's block ini datang. Perasaan negatif ke diri sendiri itu membuat mood menulis jadinya menurun bahkan hilang.

    Ah melihat karya orang lain yang keren, terus baca tulisan sendiri kok jadi merasa jelek banget. Haduuuh, serupa dengan sifat perfeksionis, rasa khawatir pun berkumpul di dalam hati, ketakutan akan pandangan buruk orang lain terhadap karya juga menyergap, saat diri lagi dilanda insecure.

    Hayoo, segera sadar! Semua orang punya prosesnya masing-masing, orang yang tulisannya sudah bagus itu pasti juga melewati banyak kesalahan yang terus diperbaiki. 
  • Lelah dan Burnout

    Kelelahan fisik, pikiran, mental bahkan kombinasi ketiganya sekaligus alias burnout (stress berat), bisa jadi penyebab writer's block juga loh sahabat. Karena ketidaknyamanan yang berasal dari dalam diri pasti berdampak banget sama aktifitas kita ya, termasuk saat kita menulis.

    Ya, badan sudah lemas dan mengantuk, bagaimana bisa fokus untuk menulis? Begitu pun ketika pikiran dan mental kita sedang punya banyak beban, ya melayang jauhlah moodnya buat menulis.

    Ayo SADAR sama keadaan diri sendiri! Jangan terlalu memforsir tubuh, pikiran dan mental kita ya. Jangan sampai memaksakan diri sehingga drop kesehatannya, stress dan juga brain fog (otak berkabut alias ngeblank - sebuah gejala yang dapat memengaruhi kemampuan dalam berpikir, membuat diri jadi kebingungan, sulit fokus dan kacau ketika tidak dapat menyebutkan hal yang ingin diucapkan. Seperti kabut, kondisi ini hanya muncul sesaat lalu kemudian hilang).

  • Pikiran Terdistraksi (Fokus Terganggu)

    Pikiran yang terdistraksi tentu saja bisa membuat kita mengalami writer's block, ide yang sudah ada di kepala jadi enggak mudah untuk mengalir, karena fokus terpecah kemana-mana atau terganggu. Entah  itu terdistraksinya oleh gadget, beragam masalah, lingkungan yang enggak nyaman serta hal lainnya.

    Sadari, apa nih yang memuat pikiran terdistraksi.


    Kalau kita sudah tahu apa yang menyebabkan writer block, baru deh kita bisa mengambil langkah yang tepat untuk menghasilkan solusi. Ini dia 5 Cara Mengatasi Writer's Block

1. Istirahat Sejenak

    Beristirahat sejenak merupakan salah satu cara untuk mengatasi writer's block. Ya duduk dulu sebentar jangan berjalan terus kalau lagi terasa berat, buat diri merasa nyaman dahulu, kembalikan lagi moodnya untuk menulis.

    Istirahat sejenak ini bisa dilakukan dengan tidur, melakukan aktifitas yang diri sukai alias me time atau pun jalan-jalan dan refreshing.

    Pokoknya sadar diri deh, jangan terlalu memaksakan diri. Terima kondisi diri juga dan jangan menampik atau terlalu menyalahkan diri ketika misalnya dead line menulis jadinya tertunda atau tertinggal diri dengan orang-orang yang sudah berjalan cepat mengejar mimpi-mimpinya.

    Tapi sebentar saja ya istirahatnya, jangan biarkan rasa malas yang justru jadi mendera, lalu beragam alasan pun muncul untuk berdiam diri terlalu lama. Tetap saja kita harus bergerak kembali, meneruskan langkah untuk mengejar mimpi dan meraih goals.


2. Cari Inspirasi, Gali Ide dan Lengkapi Riset

    Setelah melepas lelah dengan beristirahat sejenak, segera cari inspirasi, gali ide dan lengkapi riset lagi agar kita bisa terlepas dari si writer's block, hingga menulis pun jadi lancar.

    Hal itu bisa kita lakukan dengan membaca buku dan artikel yang sesuai dengan tema tulisan kita, mendengarkan cerita teman dan menonton tv yang mungkin bisa jadi sumber inspirasi, atau datangi tempat-tempat yang memberikan inspirasi, mengalirkan ide dan melengkapi riset tulisan kita.

Ya, tetap kembalikan lagi ke diri, lakukan apa yang bisa dijadikan solusi.

3. Ingat Kembali Tujuan Kita Menulis (Goals)

    Masih belum bisa juga mengalir tulisannya? Hayo ingat-ingat kembali dengan tujuan kita menulis. SADAR akan goals kita dalam menulis bisa juga mendorong semangat kembali tumbuh ya. 

    Kemalasan yang sempat hinggap, bisa diberantas dengan adanya goals sebagai penguat untuk memotivasi diri bergerak. Perlahan coba kembali gerakan jemari di atas keyboard, setelah hilang atau berkurang rasa lelahnya, lebih lengkap sumber referensi tulisan kita (riset), biasanya akan berhamburan deh ide dan inspirasi di kepala kita, writer's block pun bisa diruntuhkan.


4. Ikuti Kelas Menulis

    Selain cara di atas, mendapatkan ilmu menulis dari ahlinya atau pun penulis profesional tentu bisa menjadi solusi untuk mengatasi writer's block. Ya, belajar bersama di kelas menulis itu selayaknya kita men-charge energi diri dengan ilmu dan motivasi.

    Materi kepenulisan yang didapat di kelas menulis itu bisa jadi pencerah ya bagi pikiran yang sedang buntu. Selain itu kepercayaan diri untuk menulis pun akan tumbuh setelah kita mendapatkan asupan ilmu. 

    Apalagi kalau di kelas menulisnya ada sesi pendampingan dan latihan ya, wah asyik tuh bisa praktek menulis langsung dan dapat masukan. Kita jadi tahu kesalahan dalam menulis dan memperbaikinya. Jadi bisa lebih kuat lagi dorongan diri untuk merubuhkan si writer's block, semangat menghasilkan karya pun turut mencuat.

    Eiya, pengalaman itu pernah saya dapatkan di Kelas Menulis Novel batch 9 dan juga Kelas Menulis Jago Bikin Artikel batch 4 KMO Indonesia loh! Iya, dapat ilmu menulis novel dari Bunda Asma Nadia dan ilmu menulis artikel dari Pak Irwan Kelana, Redaktur Senior Republika, serta bisa belajar bersama peserta lainnya itu menyenangkan banget. 

    Apalagi setelah materi, naskah faksi saya mendapatkan kurasi, wah senangnya bisa dapat masukan yang positif untuk meningkatkan kualitas tulisan saya. Di kelas jago bikin artikel pun peserta diberikan tugas untuk praktek langsung bikin artikel loh! Pokoknya mengikuti kelas menulis tuh bisa ikut membantu mengatasi masalah writer's block.

    Kalau sahabat ada yang mau ikut kelas menulis juga, kebetulan nih, ada kelas KMO Indonesia, info lengkapnya bisa dicek langsung ke:



5. Berdoa dan Minta Dimudahkan Sama Allah

    Poin ini saya taruh terakhir bukan berarti ini cara yang paling akhir ya pastinya. Karena mengingat Allah itu dilakukan bukan pada saat-saat terakhir kita sudah buntu banget, atau ketika sudah enggak ada solusi lagi ya. Justru sebaliknya, harus setiap saat ya.

    Apalagi kita itu memang selalu membutuhkan Allah ya dan cuma Allah juga yang bisa menyelesaikan semua masalah, termasuk jika kita mengalami writer's block.

    Jadi poin ini sebenarnya cara utama yang harus kita lakukan dibandingkan yang lainnya, dari awal kita mendapat masalah, saat kita bergerak cari penyebab dan juga solusi, hingga saat kita menghadapi masalah itu sendiri, full kita butuh Allah.

    Ah, pokonya berharap sama Allah takkan kecewa ya, yakin dengan iman bahwa setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan, semua penyakit ada obatnya, semua masalah ada solusinya, termasuk si writer's block tadi, in syaa Allah bisa dilewati.

    Alhamdulillah, postingan di ilmair pun ter-update kan sekarang, semoga tulisan ini bermanfaat dan menginspirasi ya sahabat.

Mari kita semangat menulis lagi, happy blogging ๐Ÿ˜Š



Berusaha Produktif di Masa Pandemi Lahirlah Buku Antologi

    Masa pandemi covid-19 seperti sekarang ini, aktifitas kita semua selama berbulan-bulan jadi dipaksa untuk berubah ya sahabat?  Jadi lebih sering di rumah aja, nggak bisa bebas pergi keluar rumah. Hummm ... rasanya gimana? Pasti beragam rasa nggak nyaman numpuk juga ya di hati.

    Nggak mau berlama-lama bergelung dengan emosi negatif, saya pun akhirnya lebih banyak menulis, biar lebih produktif. Nggak cuma menulis di blog atau menyimpannya di arsip laptop seperti biasanya, saya mendorong diri untuk mengikuti beberapa kelas menulis online selama psbb, biar semangat di dalam diri ini mencuat. Alhamdulillah hasil dari belajar itu, lahirlah beberapa buku antologi saya dan teman-teman.

    Setelah awal tahun lalu buku antologi pertama lahir, disusul kemudian dengan buku antologi ke dua beberapa bulan setelahnya. Saya sempat seakan duduk diam sebentar, walau dibalik layar sebenernya ada kelas online juga yang saya ikuti.

    Belum bisa seproduktif sahabat-sahabat lain yang udah pada keren tentunya, karena rasanya masih banyak hal di dalam diri ini yang harus ditata lagi. Apalagi soal manajemen waktu, waduuuhh, "mager" dalam diri ini harus segera ditendang nih, jangan dibiarkan ia dengan manja meluk diri lama-lama. Begitu pun dengan sampah pikiran dan hati, nggak baik dibiarkan menumpuk, agar bisa jalan lebih tenang dalam meraih masa depan.

    Sambil berjalan tertatih-tatih, saya merasa dipeluk Allah sebenarnya. Di saat ada sedikit masalah yang datang tanpa diundang, ditambah insecure yang sempat juga ikutan nempel, eh jemari ini justru bisa terus bergerak menautkan kata demi kata. Hingga tertuanglah sedikit kisah perjalanan hidup saya, bersama ragam kalimat juga tentang kasih sayang-Nya.




    Sampai akhirnya lahirlah lagi  buku antologi saya yang ke 3,4 dan 5 bareng teman-teman penulis di akhir bulan September sampai awal bulan Oktober kemarin. Alhamdulillah 3 buku antologi open PO sekaligus! Yaitu "Menabung Sabar dan Ikhlas" dan "Jomblo Kaya Karya" yang diterbitkan oleh Motivaksi Inspira serta "Pandemi Menghampiri Berkarya Tanpa Henti" terbitan KMO Indonesia. 

    Bersyukur sekaligus nggak menyangka sebenarnya saya aslinya. Ya ... diantara mager dan sedikit disibukkan oleh pergulatan dengan diri sendiri, saya memang nggak menyangka kalau sekarang sudah jadi kontributor dari 5 buku antologi.  Padahal awal mulanya, saya mengikuti kelas menulis online itu hanya untuk self healing,  namun ternyata ada proyek buku antologi juga di dalamnya.

   Ya ... tulisan saya di buku "Self Talk" (antologi pertama dari kelas nulisyuk) berjudul "Terus Melangkah dan Tersenyum" memang sebenarnya salah satu upaya saya untuk mengobati luka batin. Ada tangisan saya di sana, baik itu dalam kata-katanya maupun dalam proses menulisnya. Duuuh ... mengandung bawang deh pokoknya, alias ada air mata saya yang mengalir di sana.

    Terus dari satu buku itu, saya ketagihan juga ikut kelas menulis lainnya, hingga lahirlah buku antologi "Muslimah Zaman Now". Kalau di buku ini tulisan saya memang nggak lolos secara full dalam satu judul, tapi saya tetap mau bersyukur dan appreciate diri, dengan memasukkannya ke dalam list setetes karya saya. Apalagi kalau ingat usaha jemari ini dalam mengejar dead line, duuuh proses yang nggak mudah untuk dilupakan itu.

    Hihi ... iya saya ini memang si pejuang dead line, yang tulisannya sering mengalir kalau sudah deket-deket batas akhir. Hampir semua tulisan saya di buku antologi ya mendekati dead line banget terciptaya. Humm ... mungkin itu terbentuk dari habbits kali ya, jadi bukan untuk ditiru ya itu :D tapi tetap mau saya syukuri, sambil terus berbenah diri.

    Humm ... kayanya postingan ilmair kali ini jadi sesi curhat saya ya, 3 minggu nggak update artikel di blog ini, keluar-keluar malah curhat :D. Semoga sahabat yang baca mendapat inspirasi, semangat, motivasi dan manfaat lainnya ya. Intinya, tetap produktif yuk walau pun kondisinya lagi seperti ini.

    Ah iya saya kutip juga motivasi semangat dari buku-buku antologi saya untuk sahabat, semoga kebaikkan tercurah ya untuk semua aamiin.

    "Pandemi jangan dihadapi dengan galau atau gelisah, tak boleh juga dengan abai dan terserah. Tapi hadapilah dengan senyum dan semangat untuk terus melangkah, tanpa lupa untuk selalu bergantung kepada Allah." (Pandemi Menghampiri Berkarya Tanpa Henti)

    "Jomblo itu pilihan yang asyik dan sungguh memuliakan. Karena tak mengumbar cinta sesaat yang nyatanya hanyalah buaian syetan, hingga bisa merusak masa depan." (Jomblo Kaya Karya)
    
    “Peluk erat sabar dan ikhlas dalam setiap gerak langkah kakimu, yakini dengan iman bahwa Allah takkan membiarkan perjuangan hidupmu sia-sia. Terus berbenah dan melangkah, lalu temukan kebahagianmu di ujung jalan.” (Menabung Sabar dan Ikhlas)

    "Muslimah… pakaianmu adalah takwa, mahkotamu adalah rasa malu dan kecantikanmu ada dalam akhlakmu" (Muslimah Zaman Now)

    "Teruslah melangkah karena Allah selalu punya cara untuk menghapus lukamu dan menggantinya dengan senyum." (Self Talk)


    

8 Cara Memulai Bisnis dan Bertumbuh Untuk Sukses

    Kali ini ilmair ingin sharing tulisan tentang "8 cara memulai bisnis dan bertumbuh untuk sukses", sebuah tips untuk sahabat semua yang baru ingin atau bahkan sudah mulai berbisnis di masa pandemi covid ini.

    Mulai melangkah di dunia bisnis tentu bukanlah hal yang mudah, biasanya ada saja hambatannya ketika kita ingin melakukan langkah pertama, baik itu dari diri sendiri yang masih suka ragu-ragu dan takut salah langkah, maupun hambatan dari luar diri, seperti tak ada dukungan dari orang terdekat atau sulitnya mencari yang kita inginkan untuk mewujudkan ide.

    Begitupun saat kita sudah menjalani bisnis dan berusaha bertumbuh untuk sukses, pasti akan ada ujian-ujian yang menghadang langkah ini, masalah yang datang menggoyahkan mental. Semua itu harus bisa kita hadapi dengan baik jika kita mau sukses dalam berbisnis.

    Admin ilmair sendiri sebenarnya bukanlah seorang pembisnis yang sudah sukses saat ini. Tapi hanya ingin berbagi pengalaman saja tentang bagaimana memulai bisnis, sambil terus belajar juga dari kesalahan-kesalahan yang pernah diri lakukan di dunia bisnis dan berharap bisa bertumbuh hingga mencapai sukses dalam berbisnis.

    Semoga tulisan ini jadi tempat belajar buat semuanya (terutama saya sendiri), menginspirasi dan selamat membaca ...

 8 Cara Memulai Bisnis dan Bertumbuh Untuk Sukses

1. Jangan Ragu-Ragu, Yakinlah!

    Ketika kita akan memulai bisnis, hal nomer satu yang harus diperhatikan adalah kita harus yakin dengan apa yang akan kita jalani. Ya ... jangan sampai ada keraguan, jangan kebanyakan galau, baik itu terhadap diri sendiri (pesimis dan merasa tak mampu) maupun dalam memutuskan produk apa yang ingin kita jual. Jangan hanya terus bertanya, "bisnis apa yang yang bagus untuk dijalani?" "produk apa yang paling laris di pasaran dan bisa bikin aku sukses?" "bisnis apa yang cocok denganku?" tapi kemudian hanya diam di tempat tak mulai-mulai untuk melangkah, hanya menghabiskan waktu.

    Bob Sadino Rahimahumullah saja pernah berpesan, ketika ada orang yang bertanya, "bisnis apa yang
BAGUS?" jawabannya, "bisnis yang DIBUKA bukan yang ditanyakan terus."

    Maka untuk memulai bisnis, kita harus yakin, segera putuskan apa yang mau kita jual, jangan terlalu banyak mikir tapi nggak jalan-jalan.

    Perkuat keyakinan itu juga dengan DUIT dan S2 (Doa, Usaha, Ikhlas dan Tawakal - Sabar dan Syukur), agar sukses bisnisnya

2. Pilih Produk Yang Dekat Dengan Diri

   Saat memustuskan untuk menjual produk, pilihlah produk yang dekat dengan diri. Maksudnya adalah produk yang kita jual itu sebaiknya produk yang kita sukai atau diri mau untuk memakainya, bahkan sudah terbiasa untuk menggunakannya. Tips kedua ini bisa juga dibilang "cintailah produk yang kita jual".

    Ya ... kalau kita menjual  produk yang kita pakai, sukai dan cintai, maka ikatan dengan produk akan terjalin lebih kuat, terasa lebih mudah juga kita untuk menawarkannya. Selain itu akan terdorong dari hati juga diri untuk berbagi manfaatnya, bahkan ada testimoni pribadi yang akan memperkuat dan meyakinkan hati pembeli.

    Jangan sampai kita menjual produk yang bertentangan dengan hati atau diri sendiri tak suka untuk memakainya. Karena hal itu akan menjadi beban dan hambatan nantinya saat kita menawarkan produk. Mental kita ketika ditolak pembeli pun akan jatuh ketika ikatan hati dengan produk tak kuat.

3. Jadilah Solusi dan Lihatlah Peluang

    Masih seputar memilih produk, saat akan memulai bisnis sebaiknya kita pintar-pintar melihat peluang. Ya ... jualah produk yang bisa menjadi solusi bagi orang lain, produk yang sedang dibutuhkan orang banyak, produk yang disukai pasar.

    Kalau kita mau sukses dalam berbisnis, ya ... kita harus bisa peka, buka mata, lihat ke sekeliling produk apa yang bisa kita jual untuk membantu kebutuhan orang lain, segera tarik ide lalu jalankan segera dan jangan menunda.

    Bisa juga kita jual produk yang sedang viral, asal jangan sekedar ikut-ikutan tanpa perencanaan yang matang. Karena produk viral itu tentu banyak pesaingnya dan terkadang hanya berlangsung sesaat kemudian tenggelam.

    Atau sering-seringlah bertemu dengan teman alias menjalin ukhuwah, karena bisa jadi kita mendapatkan kesempatan dan inspirasi dari pertemuan yang terjadi.

    Ya apapun yang penting satu, harus selalu jadikan niat di hati bahwa tujuan kita berjualan adalah untuk membantu orang lain, tentu saja karena Allah agar berkahnya sampai ke akhirat.

4. Belajar dan Jangan Banyak Alasan

    Jika mau bertumbuh dan sukses berbisnis kunci utamanya adalah kita harus mau belajar dan jangan banyak alasan.

    Misalnya jangan bilang tak ada modal saat kita baru mau mulai berbisnis, karena kalau kita mau belajar dan lihat kesekeliling, banyak juga orang yang awalnya jualan tanpa modal. Cukup jadi reseller produk teman aja dulu, modalnya hanya kuota internet untuk promosi, atau modal dengkul untuk jalan tawarin produk.

    Atau ketika ingin jualan secara online, lalu merasa diri gaptek, jangan terus mundur dan jadi malas-malasan melakukan promosi online karena merasa tak bisa. Tapi segeralah belajar! Bisa dimulai dengan memperhatikan bagaimana orang lain berjualan secara online, bertanya pada teman yang tahu ilmunya, atau bisa juga cari ilmunnya dengan browsing  di internet dan baca buku-buku bisnis, bahkan kalau mau lebih mantap lagi ya ikuti kelas-kelas belajar berbisnis dengan ahlinya (investasi leher ke atas).    

6. Harus Punya Mental Preparation dan Bermental Baja
    
    Dalam berjualan atau berbisnis itu kita harus punya persiapan mental (mental preparation), karena rintangan dan hambatan di depan itu pastilah akan ada,

    Salah satu pesan dari Kang Rendy Saputra tentang mental untuk para saudagar (pembisnis), juga bisa jadi pegangan untuk kita yang baru memulai bisnis ...
Mentalmu seperti apa Saudagar? Apakah mentalmu bisa membuat dunia berpihak padamu? Keruwetan pasti akan datang dalam perjalanan bisnis setiap saudagar, tapi saat ditengah keruwetan itu kita memutuskan untuk tidak berhenti, jalani terus, jalani terus, maju terus, akhirnya kita bisa menjadi luar biasa. Seperti orang-orang yang telah lebih dahulu menjadi luar biasa karena tidak mau berhenti dalam langkahnya. Hantu dan tantangannya pengusaha kecil adalah mental, maka dari itu seharusnya kita punya mental preparation (persiapan mental), yaitu mental yang siap ditolak, siap tidak laku, siap diremehkan, dan mental menerima sesuatu yang tidak diharapkan. Taapi dengan mental preparation kita juga akan siap untuk tak berhenti hingga sukses menghampiri."

    Humm ... saya pun teringat pesannya Coach DR. Imam Muhajirin El Fahmi tentang mental yang mengatakan bahwa “Jadilah baja, jangan jadi kayu yang mudah patah, jangan jadi kertas yang mudah sobek. Walau selalu ada rasa sakit, tapi itu tidak akan mematikan. Rasa sakit untuk belajar bertumbuh, rasa sakit yang tidak akan membuatmu menyesal, rasa sakit karena mengejar impianmu, memperjuangkan cita-cita yang besar dan layak untuk kamu perjuangkan." 

    Ya ... memang dalam perjalanannya, bertumbuh dalam berbisnis juga pasti akan banyak rintangan dan hambatannya, dari menerima penolakkan saat kita menawarkan produk, nyinyiran orang-orang yang tak suka, komplainan dari pembeli dan masalah-masalah lainnya. Semua hal itu harus bisa kita lalui dengan baik, jangan membuat diri menyerah dan berhenti melangkah.

    Kita harus punya persiapan mental yang kuat seperti baja yang takkan mudah patah seperti kayu, tak mudah sobek seperti kertas. Sehingga kita akan berjalan terus menekuni bisnis kita, menghadapi masalah dalam bisnis kita, bertumbuh dan sukses.
   
7. Fokus, Tekun dan Konsisten
    
    Saat menjalani bisnis kita harus bisa fokus, tekun dan konsisten menjalaninya, jangan setengah-setengah apalagi bermalas-malasan.  Ketika kita sudah memutuskan untuk menjual produk apa, jalani dan pelajari dengan baik agar bisa terus bertumbuh, fokus pada apa yang kita lakukan, buat target, lalu tekun dan konsisten dalam menjalaninya.

    Sekali lagi, jangan mudah menyerah dan harus punya mental preparation yang baik, mental baja dalam menggapai kesuksesan.

    Untuk masalah fokus, ada yang bilang bahwa saat menjadi penjual pemula sebaiknya fokus pada satu produk dulu aja, jangan menjual produk 'palugada' (apa lu minta gua ada, alias banyak produk yang kita jual). Fungsinya selain agar kita lebih mudah menjalaninya dan bisa menguasai produk dengan mantap, fokus pada satu produk pun bisa membuat pembeli lebih mudah mengingat kita. Sehingga kita bisa bangun personal branding melalui produk dan ketika ada orang yang butuh produknya bisa langsung ingat kita.

    Itu cocok sekali jika kita ingin membuat personal branding dari produk yang kita jual, dikenal sebagai si penjual produk A misalnya, jadi ahli yang sesuai dengan produk.

    Tapi tak salah juga nyatanya kalau kita jual produk 'palugada', asalkan kita bisa memegang semua produk itu dengan baik dan tetap fokus menjalankan bisnis yang kita jalani. Lalu buat seperti halnya warung  atau minimarket dan suermarket, lalu branding nya bisa dari toko atau dari keahlian kita dalam menjual seperti halnya dewa selling (Kang Dewa Eka Prayoga).

    Ya ... apapun itu tergantung bagaimana kita bisa menjalaninya, yang penting tetap fokus, tekun dan konsisten.


8 . Jangan Sombong, Jangan Merasa Sudah Di Atas dan Harus Mau Dikritik

    Dalam menjalankan bisnis kita harus menjalin hubungan dengan orang lain, masuk ke komunitas dan juga berukhuwah. Di sini kita harus bisa menjadi orang yang menyenangkan, rendah hati, tidak merasa diri di atas dan memandang rendah orang lain. Ya ... jangan sombong! Sikap kita terhadap orang lain akan berpengaruh pada proses perjalanan memulai bisnis, belajar pun akan lebih mudah dilakukan dengan sikap yang merasa bodoh, sebaliknya orang yang merasa sudah tahu dan sombong akan sulit menerima ilmu.

    Ketika sudah menjalankan bisnis pun jangan mudah puas dengan pencapaian yang kita, jangan merasa bahwa bisnis kita sudah cukup baik saat ini, lalu menutup mata dan telinga hingga tak mau mendengar masukkan yang datang, enggan melihat kesalahan karena merasa diri telah sempurna menjalaninya. Jangan meremehkan apapun! Jangan sombong! 

    Karena dalam bisnis itu pasti ada masa naik dan turunnya, takkan selalu kosisten perjalanan kita. Akan selalu ada kemungkinan yang tak bisa kita duga terjadi di depan. Seperti saat pandemi covid-19 ini misalnya, sebuah keadaan yang tiba-tiba saja datangnya, membuat banyak bisnis di negeri ini, bahkan dunia jatuh.

    Maka dari itu jangan terlena dengan pencapaian bisnis kita, harus punya pegangan, utamanya tentu saja berpegang kepada Allah.

    Begitu ada masalah dalam bisnis segera cari solusi, segera liat apa yang salah dan apa yang bisa dilakuakan. Selalu siap juga terima kritik dari siapapun, lalu segera berbenah untuk kembali bertumbuh. 

Hummm ... apalagi ya tips cara untuk memulai bisnis dan bertumbuh untuk sukses? Sahabat semua boleh tambahin inspirasinya di kolom komentar bawah ya buat sharing. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah aamiin. Selalu semangat!!

My Goals, Kamu Di Mana? part 3

Melanjutkan tulisan cerbung saya berjudul "My Goals, Kamu Dimana?", sahabat bisa baca tulisan sebelumnya "My Goals, Kamu Di Mana? part 1" dan "My Goals, Kamu Dimana? part 2", semoga menginspirasi, selamat membaca

    Acara hari itu pun akhirnya di tutup dengan tepukan semangat dari semua yang datang, diiringi dengan musik serta tampilan video tentang bonus tahunan, trip ke beberapa Negara jika para agen mampu mencapai target yang telah ditentukan.

    “Ayooo Nay, jadikan itu goalsmu, semangat mencari prospek nasabah dan rekrut agen baru Nay! Ayooo masih ada waktu sampai akhir tahun,” suara Mbak Tifani terdengar setengah berteriak, karena suasana di ruangan itu masih begitu riuh.

    Aku hanya menjawabnya singkat, “hummm … iya Mbak in syaa Allah, semangat!”

    Kami keluar dari ruangan itu lalu berjalan menuju kantin di lantai dasar, bersama beberapa teman satu timnya Mbak Tifani. Energi di dalam tubuh ini rasanya memang terisi penuh, terbayang di kepala berderet rencanaku ke depan untuk mencari prospek. Yah … walau itu masih sebuah rencana yang semoga mampu aku jalankan, bukan hanya sekedar jadi wacana yang kemudian terlupakan.

    Usai makan siang aku ijin ke mushola, Mbak Tifani pun ikut beranjak dari duduknya, lalu pamit pada semua.

    “Nay, kamu pulangnya naik ‘cummuter line’ aja ya, Mbak ada perlu ini, nggak apa-apa kan?” ucap Mbak Tifani saat hampir tiba di area parkiran.

    “Ah iya nggak apa-apa Mbak duluan aja, iya gampang nanti aku pulang naik commuter line aja,” kami pun berpisah setelah ‘bercipika-cipiki’.

    Selesai sholat aku langsung berjalan ke arah jalan raya, kemudian menyetop metromini yang akan membawaku ke Stasiun KRL Sudirman.



    Hari ini merupakan hari kerja, hingga suasana siang hari di stasiun tidaklah terlalu padat. Aku duduk di kursi tunggu stasiun, karena jadwal kereta yang akan kunaiki baru akan tiba sekitar 20 menit lagi. Tepat di sebelahku duduk seorang Ibu, yang sedang asik memainkan handphonenya.

    Saat ibu itu melirik ke arahku dan tersenyum, jiwa marketingku pun mencuat, ada gerakan dari dalam diri untuk mengajaknya berbicara,

    “Keretanya lama juga ya Bu datengnya, tadi denger-denger masih beberapa stasiun lagi dari sini,” suaraku langsung meluncur ketika mata kami beradu untuk kesekian kalinya.

    “Eh iya nih dek, mana panas banget juga ya cuacanya, Ibu pingin buru-buru sampai rumah ini, mana kaki Ibu juga udah pegel lagi.” jawab Ibu itu, sambil menyeka peluh di keningnya dengan tisu.

    “Tapi bagusnya ini mah jamnya sepi ya dek, jadi pasti kebagian tempat duduk,” sambung ibu itu kembali.

    Dari obrolan pembuka itu pun kemudian mengalir obrolan-obrolan lainnya, baik itu seputar commuter line, macetnya Ibu kota, juga seputar belanjaan dan perbandingan baju-baju di Thamcit serta Tanah Abang.

    Ah, aku sendiri tak menyangka bisa sebegitu lancarnya kata demi kata ini megalir dari mulutku, walau dari obrolan yang terjadi, aku lebih banyak mendengarkan si ibu bercerita.

    “Eh adek kerja atau kuliah?” tanya ibu itu kemudian.

    “Ting” akupun langsung menemukan sebuah peluang. Ku keluarkan buku dan pulpen dari dalam tas, ku tawarkan untuk membantunya mengikuti program investasi yang menguntungkan, bersama kelebihannya yang bisa menjamin kesehatan di masa depan.

    “Ah iya dek, itu bagus banget, tapi kalau Ibu tuh nggak terlalu suka sama yang namanya investasi, bisnis aja sukanya langsung terjun jalaninnya. Nah ini, kaya bisnis kecil-kecilan ibu dek, jualan baju yang kaya gini ini, jalanin sendiri itu lebih jelas Dek uang kita larinya kemana. Kan kalau investasi itu kita kasih kepercayaan ke orangkan ya? Yang ngelola dan jalanin kan orang lain, kita cuma tahu beresnya aja. Dan ah itu juga nggak berasa perjuangannya Dek,” jawab ibu itu sambil menunjukkan bungkusan plastik yang berada di bawah kursinya.

    Baru saja bibir ini akan bergerak merespon ucapannya, kereta yang akan kami tumpangi pun akhirnya datang. Kami memilih duduk di gerbong kereta khusus wanita, dan seperti dugaan kami sebelumnya, gerbong itu begitu lenggang, hanya ada segelintir orang saja yang menempati kursi-kursinya.

    “Coba sini Dek, Ibu liat catatan Adek tadi … “ Kusodorkan buku yang berisi tulisanku.

    “Oh, ini ada investasi untuk kesehatanya juga ya dek, seperti a**ran*si gitu ya dek? Bagus programnya …” sambung ibu itu lagi.

    “Iya Bu, jadi ini seperti kita investasi buat kesehatan juga Bu, buat jaga-jaga, kalau kata orang mah seperti sedia payung sebelum hujan. Walau preminya baru dibayar selama tiga bulan tapi fasilitas kesehatannya udah bisa di klaim loh Bu! Daripada misalnya cuma nabung aja Bu, bisa lebih repot dong kalau ada masalah kesehatan mendadak dan uangnya belum terkumpul, iya nggak Bu?” kujabarkan penjelasan itu padanya, berharap Sang Ibu tertarik membuka premi.

    “Adek ini bisa aja … Humm … Iya sih ya Dek betul juga, kita ini memang harus sedia payung sebelum hujan, mempersiapkan masa depan ya Dek? Tapi maaf kalau Ibu boleh bilang, bahkan dibandingkan dengan nabung, ibu lebih suka investasi lain buat kesehatan dan kehidupan Ibu dan keluarga di masa depan Dek, lebih menguntungkan dan yang menjaminnya pun lebih bisa dipercaya …”

    “Eh … ada ya Bu?” tanyaku sedikit penasaran, hatiku pun lalu mulai gamang. "Hummm .. rasanya hari ini aku salah membaca orang … Ah salah menyasar prospek nih!" pikirku. 

    Energi dari dalam diri yang semula mencuat pun rasanya sedikit demi sedikit mulai meredup.

    “Investasi buat masa depan yang paling menguntungkan itu ya sedekah Dek. Dengan sedekah kita bukan hanya dapat untung di dunia aja, tapi sampai ke akhirat juga kan Dek, kalau niatnya Lillahita’ala. Kalau dihitung dengan rumus biasa mungkin nggak akan ketemu ya nilai untungnya segimana, keluarin aja uang, dititipin ke orang yang bahkan mungkin kita nggak kenal. Tapi kan udah ada yang nyatetin dan udah dijanjiin juga kalau sedekah itu seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Belum lagi banyak kebaikkan dari sedekah yang diantaranya bisa menyembuhkan penyakit juga, iya nggak Dek?”

    “Jleeb …” penjelasan Ibu itu pun membuat aku serasa di ‘skak-matt’, hilang rasanya semua kata-kata yang telah kupelajari dalam menghadapi ragam pertanyaan prospek. Bibir ini tiba-tiba terasa kelu, benar-benar tak bisa mengucap satu kata pun, hingga aku pun akhirnya hanya mengangguk saja sambil tersenyum.

Bersambung, selanjutnya di "My Goals, Kamu Di Mana? Part 4

    

Virus Corona (Covid-19) dan Takut Sama Allah

Covid-19 sekarang sudah jadi pandemi. Makhluk sekecil itu bisa membuat manusia seluruh dunia menjadi resah, bahkan mungkin dilanda rasa takut
Takut? Humm ya rasa itu memang wajar ada ya karena kita manusia. Tapi kita kan punya Allah, semua di dunia ini ada dalam kuasa-Nya. Dan memang benar solusi masalah hidup kita sungguh sesuai dengan janji-Nya, bertaqwa pada Allah. Begitu kan ya?


Ya ... menjaga setiap amanah dalam hidup ini, bukankah itu juga bagian dari taqwa, iya kan?
Pemimpin yang bertaqwa sudah pasti bisa menjaga amanah yang diembannya, menghadapi tha'un Umar Bin Khatab pun dahulu sigap mengikuti sabda Rasul, menerapkan LOCK DOWN dan mengikuti saran Amru Bin Ash melakukan SOCIAL DISTANCING, tentu telah siap juga menjaga keadaan agar kebutuhan umat terpenuhi.

Sekarang ... sudahkah itu dilakukan? Tak ingin bahas panjang, entah bagaimana pemerintah di sistem kapitalis negeri ini mengatasi masalah "covid-19", biar berita yang mengabarkannya, kita yang merasakan kebijakkannya humm ... Dan kita, harus tetap berusaha bukan? Menjaga amanah hidup, melakukan SOCIAL DISTANCING - menjaga jarak, menjauhi kerumunan, bahkan menetap di rumah.

Walau nyatanya tak semua orang bisa lakukan itu, orang-orang yang tiap harinya bergelut dijalanan atau perlu keluar rumah menjemput rezeki, termasuk pedagang kaki lima, buruh harian, pencari ronsokkan dan lainnya apa bisa di suruh diam di rumah dengan tanpa solusi? Siapa yang mau menanggung hidup mereka?

Jadi ... ya tentu aja hidup harus terus dijalani, menjaga amanah hidup juga pasti, semampu kita bisa, saling peduli juga semestinya. Itupun bagian dari taqwa bukan?

Menghadapi virus corona

Tidak panik, tapi juga tak abai ...
Bukan sekedar berdoa, karena perlu juga berusaha.
Saling perduli, itu pasti lebih baik

Covid-19 membuat kita semakin sadar, kita ini lemah dan pasti butuh Allah. Kita ini pelu berbenag mencari ridho-Nya apalagi kematian bisa datanga kapan saja. Kita ini tak boleh terpecah karena satu sama lain saling butuh dan berpengaruh.

Salut sama tim medis yang sudah berusaha sepenuh hati, juga sama orang-orang yang bergerak untuk peduli dengan sesama.

Ah aku ... ini tulisan bahkan nasehat untuk diri. Sudah melakukan apa aku sampai hari ini? Sudahkah menjalani amanah hidup dengan baik? Atau menjadi bagian dari solusi dan bertaqwa pada-Nya secara kaffah? ๐Ÿ˜ถ

Ya Allah mampukan kami melewati ini semua aamiin.
Postingan ini memotong postingan "Goals" di ilmair, ah nanti kita sambung ya Goals part 2 nya ke part 3, potong dulu dengan postingan tentang covid-19

My Goals, Kamu Dimana? Part 2

    Melanjutkan tulisan cerbung saya berjudul "My Goals, Kamu Dimana?", sahabat bisa baca tulisan sebelumnya "My Goals, Kamu Di Mana? Part 1 semoga menginspirasi, selamat membaca.

    Selama beberapa bulan sebelumnya aku memang hanya seorang pencari receh di dunia maya, menulis di blog pribadiku hingga kemudian menemukan beberapa peluang yang bisa menghasilkan uang. Aku juga sempat membuat kue dan roti, lalu menjualnya dengan cara konsinyasi, tapi bisa dibilang tak seberapa juga hasilnya, karena aku menjalaninya tanpa keseriusan dan ketekunan.

    Disaat penjual kue lainnya mungkin bisa bangun lebih pagi, membuat kue yang lebih banyak lalu menitipkannya di beberapa tempat, aku hanya baru mencoba-coba resep lalu menjualnya. Untuk proses yang satu itu memang tak sebaiknya kupelihara, karena keseriusan dan ketekunan itu seharusnya memang masuk ke dalam lembar ikhtiar dalam hidup. Walau pada akhirnya tetap Allah-lah yang menentukan hasilnya, apa yang terbaik bagi-Nya, itulah yang akan datang menghampiri diri.

    Ya … memang kemudian skenario Allah mempertemukan aku dengan sebuah kesempatan, bahkan beberapa kemudahan, tapi mungkin hasilnya akan jauh berbeda jika aku melakukan ikhtiar yang lebih baik lagi.


    Humm … proses, rasanya kurang tepat ya jika ikhtiar yang tak seberapa itu ku sebut sebagai sebuah proses yang membawaku pada sebuah kesempatan. Nyatanya Allah itu memang terlalu baik, karena ketika aku menelaah semua hal yang telah dihantarkan-Nya di dalam hidup, sungguh rasa malu pada-Nya pun akan hinggap di hati ini.

    Apalagi keluh kesah pada-Nya sering kali mencuat saat masalah hidup menghampiri, hingga terkadang aku pun bertanya-tanya, “kenapa sih Allah kasih masalah yang berat di dalam hidup? Kenapa harus aku yang menghadapi masalah seperti ini? Bosan aku dengan masalah, lelah rasanya Allah …”

    Di titik ini … aku memang belum bisa menemukan jawaban yang tepat untuk sebuah “proses”, apalagi jika aku hanya mencarinya di dalam teori dunia, kata “tak layak mendapat kesempatan” pasti tertunjuk tepat ke arahku.

    Tapi mungkin nanti … akan ada kepingan-kepingan puzzle jawaban yang aku temukan di perjalanan ini. Mungkin saat itu aku telah menemukan “goals” ku di depan, mungkin ....

    “Nay … hayuu turun! Kamu lagi mikirin apa sih? Humm … bagusnya sih kalau omongan Mbak tadi ya yang dipikirin. Tapi … jangan cuma disimpan di dalam kepala juga ya Nay, coba dilakuin dong Nay. Mbak mau ngomong berjuta kata motivasi dan semangat juga nggak akan jadi apa-apa Nay, kalau kamunya sendiri nggak mau menemukan “goals”mu itu,” suara Mbak Tifani menyadarkanku, segera ku masukkan buku dan pulpen yang sepanjang perjalanan tadi hanya sempat bertautan melalui jemari ini sesaat, kemudian sisanya hanya duduk manis terdiam di pangkuan, kontras dengan pikiran ini yang sedari tadi malah asik dengan ragam kata dan ingatan.

    Aku berjalan mengikuti langkah Mbak Tifani, memasuki Gedung berlantai 20 yang sudah kesekian kalinya kami kunjungi.

    “Kita charge lagi semangat kita disini ya Nay, kamu dengerin sharing temen-temen yang udah bisa mencapai targetnya bulan ini,” ucap Mbak Tifani ketika kami sampai di depan pintu lift.

    “Ah iya Mbak,”jawabku singkat sambil tersenyum.

    Suara musik dengan alunan yang menggelegar dan membangkitkan semangat terdengar saat pintu lift terbuka di lantai 20, energi di tubuhku pun terasa mengalir deras. Di dalam ruangan tempat asal suara musik itu tampak sudah dipenuhi dengan banyak orang, dengan wajah yang cerah dan penuh semangat.

    "Semangat Pagi.... Apa kabar Anda hari ini?" Sapa MC acara hari itu, yang dijawab dengan serempak oleh semua yang ada di dalam ruangan,
    
    "Luar biasa Dahsyat ...."
    Aku dan Mbak Tifani kemudian masuk dan duduk di kursi deretan tengah, sempat juga kami berpapasan dengan beberapa teman satu timnya Mba Tifani dan saling bersapa hangat.

    “Gimana nih closingannya orang sukses bulan ini?” tanya Mbak Pradita, leader satu tingkat di atas Mbak Tifani. Pertanyaan yang sebenarnya membuat aku sedikit minder, karena sejak lulus ujian lisensi keagenan tiga bulan yang lalu, aku belum juga bisa membawa data nasabah ke sini.

    “Ayoooo semangat! Harus optimis dan percaya diri kalau kamu pasti bisa Nay! Nggak boleh menyerah sama penolakkan ya, belajar terus dan kejar prospek terus Nay!” sambung Mbak Pradita saat melihat aku hanya tersenyum tegang mendengar pertanyaannya tadi, kemudian menepuk pelan lenganku dan duduk disamping Mbak Tifani.

    “Ah iya Mbak … “ jawabku .

    Beberapa orang kemudian di panggil ke depan oleh MC, mereka adalah teman-teman satu agency yang berhasil mengejar target closing lebih dari dua nasabah bulan ini. Secara bergantian teman dengan nilai tertinggi maupun agen baru yang sudah berprestasi itu berbagi cerita tentang pengalaman sukses mereka.

    Mataku merekam dengan apik cerita mereka, tentang rasa syukur dan juga kisah perjuangan mereka. Latar belakang orang-orang yang berbagi itu sungguh tak sama, dari yang kutangkap kesuksesan yang didapat itu bukanlah soal berapa banyak teman dan saudara yang mereka punya, juga bukan soal dari kalangan berada atau tidaknya meraka. Tapi tentu saja itu semua soal bagaimana tekun dan gigihnya mereka berusaha dalam mengejar goalsnya masing-masing.

    Mbak Tifani melirik ke arahku, saat seorang Ibu berbagi kisah di depan,
    “Nay, kamu dengar kan cerita ibu itu, dia itu hanya seorang Ibu rumah tangga loh tadinya, bukan dari kalangan berada bahkan. Saudaranya mungkin banyak yang punya cukup uang untuk bisa dia closingkan menjadi nasabah, tapi tak satu pun dari orang terdekatnya itu yang menerimanya sebagai financial planner. Ditolak, diacuhkan bahkan sampai disepelekan tak membuatnya gentar, hingga akhirnya dia mampu closingkan orang-orang yang baru dia kenal. Eh … ibu rumah tangga loh Nay, nggak pernah punya background apapun di bisnis kita ini, bahkan belum pernah juga jadi marketing apapun sebelumnya. Jadi jangan beralasan ya Nay, semua orang pasti bisa sukses kalau ada kemauan Nay, dan harus punya goals …” ucap Mbak Tifani.

    Sebuah video tentang perjuangan dan kesuksesan pun di putar di depan, mata ku tak berhenti merekam setiap adegannya disana.

Bersambung.... (selanjutnya di goals part 3)

My Goals, Kamu Di Mana? Part 1

    "Kamu harus punya goals dong Nay! Sesuatu yang akan mendorong kamu untuk bergerak dan lakuin yang terbaik. Bukan cuma mimpi loh ya, kalau cuma mimpi sambil tidur juga semua orang bisa. Goals Nay ... goals! Coba tentukan goals kamu, baik itu jangka pendek dan juga jangka panjangnya. Tulis di buku Nay keinginanmu apa aja, pingin dapet penghasilan berapa sebulan misalnya. Terus tentuin berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai goals kamu itu, untuk kamu usahain nantinya. Ya bayanginnya sambil di hitung ya Nay, bukan asal-asal aja. Coba hitung, untuk meraih goals itu kamu perlu closingkan berapa orang dalam satu bulan, terus hitung juga kira-kira harus berapa kali kamu menemui prospek dalam satu hari untuk kejar closingan sebulan itu," ucap Mba Tifani sambil sesekali melirik ke arahku, walau fokus pandangannya pada jalanan di depan juga tetap tak terpecah, tangannya itu sudah cukup terampil memegang kemudi mobilnya.
 
    Aku yang duduk disampingnya hanya diam, mendengarkan dan mencerna dengan baik kata-kata yang diucapkannya. Walau belum bisa rasanya kubayangkan tentang "goals" yang ia maksud itu mampu membuat diri bergerak.


    "Jangan cuma bengong dong Nay, ambil buku dan pulpenmu sekarang! Jangan ditunda nanti!" Kali ini ucapan Mbak Tifani membuat aku bergerak mengambil buku dan pulpen dari dalam tas.

    "Kamu yakin mau terus hidup dengan aliran airmu itu Nay? Hum ... ya itu terserah kamu, tapi mestinya kamu pikirin, apa yang dilakukan hari ini akan berpengaruh dengan masa depanmu loh Nay. Pikirin juga Ibumu Nay, yang sekarang lagi kerepotan ngurusin Ayahmu yang lagi sakit stroke itu kan katamu? Kamu pasti senang kan kalau bisa meringankan bebannya karena udah bisa ngurus masa depanmu sendiri, malah mungkin nantinya bisa ikut ngebantu pengobatan Ayah juga kan Nay?" Mbak Tifani mengatakan itu ketika melihatku hanya menuliskan beberapa kata di dalam buku sambil tampak termenung kemudian.

    Ah tak mudah rasanya menuliskan berapa nilai yang aku inginkan, lalu menghitung rumus seperti yang Mbak Tifani jelaskan tadi. Kalau hanya menuliskan beberapa angka saja mungkin mudah, tapi ketika meraba rasa yakin pada diri sendiri, aku seakan kehilangan angka-angka itu, jari tangan ini seakan kaku dan tak bisa digerakkan.

    Mbak Tifani yang baru kukenal selama 5 bulan ini sepertinya sudah menangkap salah satu kelemahanku. Ah iya … seorang Nayra yang tak lulus kuliah ini memang ditemukannya dalam keadaan gamang tentang masa depan, seperti seseorang yang tak tahu ingin mengejar apa dalam hidupnya dan tak cukup punya kepercayaan akan kemampuan diri.

    Aku bertemu Mbak Tifani di ruang tunggu salah satu Rumah Sakit swasta, di saat aku dan ibu mengantar ayah pergi berobat. Mbak Tifani dengan gaya supelnya saat itu menyapaku, lalu si pendiam ini pun dengan mudahnya dibawa dalam obrolan yang cukup menyenangkan, hingga sebuah kertas pun disodorkannya kepadaku …

    “Business Opportunity” deretan kata itu terbaca oleh dua mataku ...

    Mbak Tifani lalu menjelaskan sepintas tentang sebuah bisnis yang dia jalani, bisnis yang bisa membuat aku sukses di masa depan katanya, jika aku menekuninya dengan baik.

    Ayah yang saat itu ikut mendengarkan obrolan kami dan sesekali menimbrung juga langsung menyatakan persetujuannya, ketika kemudian Mbak Tifani menanyakan boleh tidaknya anak bungsunya ini di bawa ke sebuah seminar di Jakarta Pusat keesokkan harinya. Begitupun dengan Ibu, tanpa banyak bertanya beliau pun mengiyakan saja.

    Walau begitu tetap saja rasa khawatir dari keduanya terhadapku begitu tampak, karena ketika aku akhirnya pergi bersama Mbak Tifani keesokan harinya, Ibu selalu berusaha menghubungi dan menanyakan keberadaanku, baik dengan menelepon langsung, mengirimkan pesan atau melalui Mas Dion, kakak laki-lakiku, yang dimintanya juga mengontakku sesering mungkin pada saat itu.

    “Humm … katanya kemarin boleh pergi sama Mbak Tifani ke Jakarta, tapi kenapa tiap satu jam sekali Nayra selalu di telepon sih Bu? Kaya Ayah tuh, adem ayem aja, cuma sms satu kali aja,” protesku sesampainya di rumah.

    “Eh … siapa bilang ayahmu itu adem ayem Nay, nah itu yang minta ibu dan Mas Dion hubungi kamu terus dari tadi itu siapa? Ya Ayah … Bahkan Ayahmu itu sampai bilang, gimana kalau anak gadisnya yang pendiam ini sampai diculik, dibawa ke negeri orang, seperti gadis desa yang sedang mencari pekerjaan di kota Jakarta lalu ditipu orang,” jawab ibu.

    “Ah … ayah, ada-ada aja, biar gini-gini juga anak bungsu ayah ini bisa jaga diri atuh. Lagian dulu Nayra kuliah di Bogor pulang pergi juga nggak apa-apa, ini nggak sampai seharian pergi aja segitunya.” Ayah hanya tersenyum saja di tempat tidurnya saat aku menyampaikan protesku.

    “Nay, Ayah itu lagi stroke, lagi banyak pikiran, lagian Ayah begitu juga karena sayang sama kamu kan, sebegitu khawatirnya Ayah sama kamu,” kata Mbak Giya, kakak perempuanku yang membuatku akhirnya mengerti dan tak menggerutu lagi.

***
    Pertemuanku dengan Mbak Tifani saat itu memang menjadi sebuah pintu kesempatan yang membuat hidupku berubah. Dan pertemuan itu pasti merupakan salah satu skenario dari-Nya, tak pernah direncanakan, bahkan seperti sebuah kesempatan yang datang tepat disaat aku membutuhkannya.

    Ya... terkadang dalam hidup ini memang ada banyak kesempatan yang tak pernah kita duga datangnya, secara tiba-tiba saja rasanya Allah hantarkan, bahkan seperti seolah tak pernah kita upayakan ataupun pinta. Humm … bisa saja begitu, jika Allah memang maunya begitu. Tapi salah jika kita bilang semua itu terjadi begitu saja, karena bisa jadi apa yang kita terima itu merupakan hasil dari proses-proses yang telah kita lalui sebelumnya, walau mungkin tak akan selalu sama jalannya.

    “Proses? Humm… proses apa ya yang ku lalui hingga bisa berada di titik menemukan kesempatan itu?” Pertanyaan itu sempat terlintas juga dibenakku, karena nyatanya seorang Nayra ini memang benar-benar sedang berjalan mengikuti aliran air saja, melakukan usaha-usaha kecil yang tanpa ambisi akan mimpi besar di depan, tanpa goals, setelah beberapa tahun sebelumnya berhenti kuliah karena suatu masalah yang tak bisa diatasi.

Bersambung.... (selanjutnya di My Goals, Kamu Di Mana Part 2)

Mencoba menulis novelet di ilmair, semoga menginspirasi

Belajar dari Metamorfosis Ulat Menjadi Kupu-Kupu

Menulis di lembaran elektrik via blog ilmair sudah beberapa bulan terlewati, sampai Idul Fitri-pun turut lewat dan tak sempat saya berucap salam disini. Bersama tulisan tentang "Belajar dari Metamorfosis Ulat Menjadi Kupu-Kupu" ini saya ingin tuturkan salam: "Happy Eid Mubarak 1436H.. Taqabalallahu Minna wa Minkum, Shiyamana wa Shiyamakum" (Ups walau sekarang sudah masuk bulan Dzulqadah ^_^ ).

Umm.. Manusia dalam menjalani kehidupannya tentu mengalami proses, seperti juga makhluk-makhluk ciptaanNya yang lain. Dengan melewati proses itu maka akan ada perubahan, ya sebuah proses itu tentu merubah sesuatu, jika itu proses kehidupan manusia, maka akan merubah kehidupan manusia itu juga. Dan berbicara tentang proses dan perubahan, maka bisa juga dihubungkan dengan istilah metamorfosis. Metamorfosis sendiri asal katanya adalah methamorphoo (artinya: "saya berubah") adalah akar dari kata 'change' atau 'perubahan' atau 'pembaharuan'.

Metamorfosis begitu identik dengan berubahnya ulat menjadi kupu-kupu. Dan proses perubahan dari ulat lalu kepompong hingga kupu-kupu ini merupakan keagungan Allah SWT yang begitu inspiratif. Ya.. Allah memang menciptakan semua hal di dunia ini tidak dengan sisa-sia, selalu ada hikmah dan pelajaran dibalik setiap hal, termasuk juga dengan proses metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu.

Metamorfosis ulat hingga menjadi seindah kupu-kupu adalah proses yang tidak sebentar, ulat mengalami pergantian kulit berkali-kali hingga di pergantian kulit terakhir ia menjadi kepompong, saat menjadi kepompong adalah masanya berpuasa dan di masa ini perlu waktu sekitar 7-20 hari hingga akhirnya terbentuk kupu-kupu yang sempurna. Dan keluarlah kupu-kupu yang cantik dari dalam kepompong ini

Bisa kita bayangkan bahwa keindahan kupu-kupu itu bisa terlahir setelah melewati proses yang cukup panjang, dan tentu penuh dengan usaha yang keras, apalagi dalam literatur disebutkan bahwa proses ulat menjadi kupu-kupu itu membutuhkan energi yang sangat besar, dan berarti tak mudah. Namun begitulah proses alamiah itu bisa terjadi, bahwa ulat bisa menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah karena kuasa Allah.

Kita bisa belajar dari metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu, dimana kita sebagai manusia itu haruslah berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi, setiap orangkan melewati jalan kehidupan dengan segala proses yang diijinkan oleh Allah terjadi. Dan tentu dibalik setiap proses itu akan membutuhkan banyak energi, energi dari ikhtiar yang dilakukan, energi tuk menetapi kesabaran, energi tuk lahirkan rasa syukur, yang semuanya tak lepas dari Iman dan Taqwa pada Allah SWT. Hingga setelah melewati semua proses itu, manusiakan menggapai keindahan akhlak yang diridhoiNya. Dan dengan keindahan akhlak itu kehidupan inipun akan terwarnai dengan eloknya pula.

Belajar dari metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu, bahwa kita sebagai manusia haruslah terus berubah, berubah menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Bercermin dalam muhasabah diri, lalu memperbaiki segala yang buruk yang ada pada diri, berubah menjadi pribadi yang lebih baik dalam kacamata Allah SWT. Dan kehidupan manusia itu sendiri juga pasti berubah, Allah ciptakan manusia untuk menjalani proses kehidupan dunia yang titik akhir tujuannya adalah keindahan hidup di akhirat.

Proses dalam hidup itu sendiri pasti tak mudah, pasti penuh dengan rintangan tuk mencapai indahnya bahagia. Masalah dalam hidup itu pasti selalu menghampiri setiap traffic kehupan manusia, karena memang hidup adalah perjalanan dari satu masalah ke masalah yang lain. Dan Allah SWT tentu tahu dengan kemampuan setiap hambaNya, takkan ia berikan kesulitan dan masalah melebihi batas kemampuan hambaNya, dan itu adalah salah satu janjiNya seperti yang termaktub dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 285-286 yang takkan diingkariNya:


ู„ุง ูŠُูƒَู„ِّูُ ุงู„ู„َّู‡ُ ู†َูْุณًุง ุฅِู„ุง ูˆُุณْุนَู‡َุง ู„َู‡َุง ู…َุง ูƒَุณَุจَุชْ ูˆَุนَู„َูŠْู‡َุง ู…َุง ุงูƒْุชَุณَุจَุชْ ุฑَุจَّู†َุง ู„ุง ุชُุคَุงุฎِุฐْู†َุง ุฅِู†ْ ู†َุณِูŠู†َุง ุฃَูˆْ ุฃَุฎْุทَุฃْู†َุง ุฑَุจَّู†َุง ูˆَู„ุง ุชَุญْู…ِู„ْ ุนَู„َูŠْู†َุง ุฅِุตْุฑًุง ูƒَู…َุง ุญَู…َู„ْุชَู‡ُ ุนَู„َู‰ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ِู†َุง ุฑَุจَّู†َุง ูˆَู„ุง ุชُุญَู…ِّู„ْู†َุง ู…َุง ู„ุง ุทَุงู‚َุฉَ ู„َู†َุง ุจِู‡ِ ูˆَุงุนْูُ ุนَู†َّุง ูˆَุงุบْูِุฑْ ู„َู†َุง ูˆَุงุฑْุญَู…ْู†َุง ุฃَู†ْุชَ ู…َูˆْู„ุงู†َุง ูَุงู†ْุตُุฑْู†َุง ุนَู„َู‰ ุงู„ْู‚َูˆْู…ِ ุงู„ْูƒَุงูِุฑِูŠู†َ
Artinya:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Seperti begitu pula Allah tahu bahwa ulat mampu berubah menjadi kupu-kupu yang cantik, Allahpun tahu kemampuan setiap makhluknya dalam menjalani setiap hal dalam kehidupan. Apapun yang Allah ijinkan terjadi dalam hidup takkan mungkin ada aniaya dariNya. Bahkan jika itu buruk bagi hambaNya, pasti ada maksud baikNya selalu, entah itu ujian, teguran, hikmah, pemberian yang lebih baik, atau pahala indah disisiNya.

Kita sebagai manusia perlu menjalani kehidupan yang telah digariskan olehNya dengan ikhtiar terbaik, lalu terus memperbaiki diri, berubah (metamorfosis) menjadi pribadi yang lebih baik hingga mendapatkan keindahan akhlak dan mendapat ridhoNya.

Bermetamorfosis selayaknya metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu tentu bukan hal mudah, apalagi yang tersulit dalam hidup adalah menghadapi diri sendiri, tempat dimana proses perubahan diri itu berada. Dan hanya dengan ridhoNya semua bisa menjadi mudah, karena Dialah Sang Kuasa. Betul ga bro dan sist?

Menurut broha dan sista gimana? Share ilmu, inspirasimu ya di blog ilmair ini..

Footer tulisan saya ini ditutup dengan do'a: "Ya Allah jadikanlah kami mampu bermetamorfosis menjadi hambaMu yang Kau Ridhoi aamiin.."

Yang Tak Mudah Dalam Hidup Itu Adalah Menghadapi Diri Sendiri

Apa yang tersulit dalam hidup bagi brotha dan sista semua? Tentu jawaban dari pertanyaan itu begitu beragam, karena masing-masing orang punya masalah hidup masing-masing, punya kekurangan masing-masing, punya rasa ketidakmampuan berbeda-beda. Rasa? Ya.. ketidakmampuan yang ada pada setiap orang itu kalau menurut saya hanya soal rasa.. alias perasaan diri masing-masing, yangkan mempengaruhi mindset diri sendiri. Karena yang paling tahu diri kita mampu atau tidak yang pasti adalah Allah SWT, sementara manusianya sendiri ya.. hanya merasa.. merasa tak mampu.. tak bisa.. jika mengahadapi masalah yang baginya sulit. Dan dari situ dapat tampak bahwa yang tak mudah (saya ganti konotasinya dari tersulit) dalam hidup itu adalah menghadapi diri sendiri, setuju ga? Setuju ga setuju.. saya akan tetap menulis di blog ilmair kali ini dengan tema itu... hehehe.. silahkan dibaca, dan dishare kritik dan komentarnya.. ~_^



Menghadapi diri sendiri itu jauh lebih tak mudah dari setiap masalah di luar diri, ya ga bro dan sist? Karena masalah apapun yang ada di luar diri takkan bisa teratasi jika di dalam diri kita saja berkecamuk rasa susah, takut, enggan, tak mampu atau rasa dan fikiran apapun yang negatif dalam menghadapi masalah. Dan sebaliknya jika diri mampu mengendalikan diri, mampu berfikir dengan positif dan bijaksana, memantapkan hati dengan keyakinan yang positif, menjaga emosi, berserah diri (kembali) pada Allah, apapun yang terjadi di luar diri akan bisa teratasi (dengan izin dan ridho Allah tentunya).

Yang tak mudah dalam hidup itu bukan apapun yang tampak dengan mata secara nyata, tapi apa yang seharusnya di lihat melalui cermin diri, yaitu sesuatu yang ada pada diri kita sendiri, di dalam diri. Karena sering sekali kita melihat keluar, menyalahkan apa yang ada di sekekeliling kita, jika kita menghadapi masalah yang sulit. Sementara itu kita menampik semua faktor yang mengarah pada diri sendiri. Ya... melihat semua kekurang orang lain itu begitu mudah, mengomentari setiap hal yang orang lakukan juga mudah tercuat. Tapi... tentu sungguh tak mudah jika kita bermuhasabah diri. Seperti peribahasa yang mengatakan: "Gajah dipelupuk mata tak terlihat, semut seberang lautan terlihat". Padahal yang paling berpengaruh di dalam hidup kita adalah apa yang kita putuskan, apa yang kita lakukan, apa yang kita ucapkan, apa yang kita yakini, dan semua hal yang ada dalam diri kita sendiri. Faktor luar mungkin berpengaruh, tapi selain daripada faktor izin dan ridho Allah, faktor luar diri kita takkan bisa jadi yang utama, karena pada akhirnya semua akan kembali pada bagaimana diri bersikap, berfikir dan berlaku dalam menghadapi setiap masalah.

Ya.. menghadapi diri sendiri dengan segala egonya memang tidaklah mudah, termasuk dalam membangun kesadaran kita terhadap kesalahan-kesalahan diri (muhasabah atau evaluasi diri). Sedang muhasabah diri atas setiap hal yang kita lakukan dan ucap itu harus ada, karena seperti yang saya tulis diatas bahwa faktor utama yang paling berpengaruh atas setiap hal yang kita lalui adalah sikap dan perilaku diri sendiri.

Kelemahan, ketakutan, keluhan, kesusahan, kekurangan, dan semua perasaan yang negatif yang ada dalam diri kita bisa menjadi penghalang diri untuk melangkah maju dan bangkit dalam jalan-jalan kehidupan. Dan setiap hal tersbut hanya diri kita sendiri yang bisa mengatasinya. Fikiran negatif yang berkecamuk akan menjadi sekat untuk melihat keindahan, kebaikkan, kemudahan, dan semua kepositifan yang Allah SWT hantarkan. Semua akan terasa sulit jika kita meyakini dalam hati masalah yang kita hadapi itu sulit, rumit, dan sebaliknya akan terasa lebih ringan jika kita meyakini diri bahwa kita bisa, kita mampu.Ya.. sering kita sebut gambaran tersebut sebagai mindset (pola pikir) serta keyakinan.

Selain mindset dan keyakinan kita tentang sulit atau tidaknya sebuah masalah yang kita hadapi, mampu atau tidaknya kita melewati semua hal, rasa syukur kepadaNya juga bisa menjadi pembuka jalan-jalan terang nan elok dan indah dalam kehidupan. Karena tanpa rasa syukur, bermil-mil hamparan keindahan takkan terlihat. Dan salah satu bentuk ketidakbersyukuran itu adalah keluhan. Tentu kita tahu bahwa takkan ada kebaikan dari setiap keluhan, takkan selesai sebuah masalah dengan mengeluh, ya.. mengeluh itu tak merubah apapun, malah akan menambah beban dan menghimpit dada. Sementara begitu banyak karunia yang telah Allah SWT berikan, dan bagaimana Allah SWT akan tambahkan, jika apa yang telah diberikan olehNya saja tak disyukuri, tak dianggap ada. Dan rasa syukur itupun harus ditumbuhkan oleh diri sendiri, di dalam diri. Dan.. menetapkan kesyukuran dalam diri tak akan mudah.. tentu.. semua manusia pasti pernah mengeluh.

Menghadapi diri sendiri itu sulit.. walau begitu tentu telah banyak orang yang telah melewatinya, dengan proses-proses yang berbeda-beda. Dan ada proses pembelajaran yang terus berjalan sepanjang umur masih bertambah, sepanjang kehidupannya masih berjalan.

Saya sendiri bukanlah seorang pembelajar kehidupan yang cukup baik, karena hingga saat ini saya belum mampu menghadapi diri sendiri, dan bagi saya itu adalah bagian yang tak mudah dalam hidup... Ya yang tak mudah dalam hidup itu adalah mengadapi diri sendiri.. Bagaimana menurut brotha dan sista? Share ya pengalaman, dan inspirasi positifnya di blog ini..

Oiya.. tertutur do'a dalam tulisan: "Semoga setiap diri mampu mengatasi setiap masalah dalam hidupnya, yang utama adalah dalam menghadapi diri sendiri.. aamiin"..

Kembali Pada Allah

"Kembali Pada Allah" tulisan saya kali ini di blog ilmair, bisa juga kita jabarkan dengan kalimat lebih lengkapnya bahwa "Semua berasal dari Allah dan akan kembali pada Allah". Inspirasi tulisan ini berasal dari banyak hal, termasuk dari dari kata wafatnya beberapa publik figur tanah air, seperti Alm Bob Sadino, Alm. Olga Syahputra, dan juga Almh. Mpok Nori pada awal tahun 2015 ini. Eeeh sudah berganti tahun ya... btw postingan blog ilmu air malah belum terupdate, terakhir saya posting di akhir tahun 2014.. dan baru sekarang saya sempat update blog.

Kembali pada tema.. Hummm Kembali pada Allah..^_^ Ya.. Kita semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah tentu akan kembali pada Allah, manusia Allah ciptakan dan ada di dunia, pada akhirnya akan meninggalkan dunia ini, kembali pada Allah. Sebagai hambaNya kita memang harus menyadari bahwa hidup di dunia hanya sementara, diri ini akan kembali padaNya jika Dia menginginkannya kembali. Begitupun dengan semua hal yang kita punya di dunia ini, diberikan oleh Allah dan akan kembali pada Allah, maka ketika terkena musibah, atau kehilangan apapun yang kita punya, sudah selayaknya kesadaran harus selalu terpatri bahwa semua milikNya dan akan kembali padaNya. Karena itu pula jika ada musibah kita dianjurkan mengucap "Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un" yang artinya "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepadaNya".



Kembali pada Allah.. Saya maknai juga untuk hal yang lebih luasnya lagi, dimana manusia sebagai hambaNya harus selalu ingat kepada Allah. Setelah berjalan di hiruk pikuknya kehidupan, dan bertemu dengan segala hal yang bisa melalaikan kita untuk mengingatNya, maka kita harus segera ingat dan kembali padaNya, membasuh jiwa dengan mengagungkan namaNya, bersujud dengan penuh cinta dan keikhlasan padaNya, menjernihkan mata, lisan, telinga, hati dan fikiran dengan membaca surat cinta dariNya (Al-Qur'an), ya.. kembali padaNya. Sama halnya dengan setiap perdebatan dan perselisihan yang ada di dunia ini, sudah selayaknya penyambung dari semua perbedaan itu adalah dengan kembali kepadaNya, mencari titik temu dengan berpegang pada Al-Qur'an dan Hadist.

Disaat masalah dalam hidup menderapun, jiwa yang meronta inginkan jalan keluar akan lebih tenang jika mengingat Allah, kembali padaNya.. Ya kembali sucikan hati.. berharap hanya padaNya.. setelah berikhtiar tentunya.. lalu berserah padaNya.. Karena hanya Allah sajalah tempat bergantung semua makhluk.. Hanya Allah yang mampu memberi ridho atas segala hal yang terjadi, termasuk ridho akan takdir buruk dan baik pada setiap hambaNya (Qada dan Qadar), ridho akan sampainya pencerahan pada manusia atau tidak karena memang hanya Dia yang mampu berikan pencerahan pada hati dan fikiran untuk melihat kebenaran serta solusi dari setiap masalah.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Yassin ayat 81-83

ุฃَูˆَู„َูŠْุณَ ุงู„َّุฐِูŠ ุฎَู„َู‚َ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ุฃุฑْุถَ ุจِู‚َุงุฏِุฑٍ ุนَู„َู‰ ุฃَู†ْ ูŠَุฎْู„ُู‚َ ู…ِุซْู„َู‡ُู…ْ ุจَู„َู‰ ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ْุฎَู„ุงู‚ُ ุงู„ْุนَู„ِูŠู…ُ (ูจูก) ุฅِู†َّู…َุง ุฃَู…ْุฑُู‡ُ ุฅِุฐَุง ุฃَุฑَุงุฏَ ุดَูŠْุฆًุง ุฃَู†ْ ูŠَู‚ُูˆู„َ ู„َู‡ُ ูƒُู†ْ ูَูŠَูƒُูˆู†ُ (ูจูข) ูَุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„َّุฐِูŠ ุจِูŠَุฏِู‡ِ ู…َู„َูƒُูˆุชُ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ูˆَุฅِู„َูŠْู‡ِ ุชُุฑْุฌَุนُูˆู†َ (ูจูฃ

"Dan tiadalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya : "Jadilah! maka jadilah ia". Maha Suci Allah yang di tanganNya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan."


Dan dalam Al-Qur'an Surat Fatir ayat 1 dan 2:

ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ ูَุงุทِุฑِ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ุฃุฑْุถِ ุฌَุงุนِู„ِ ุงู„ْู…َู„ุงุฆِูƒَุฉِ ุฑُุณُู„ุง ุฃُูˆู„ِูŠ ุฃَุฌْู†ِุญَุฉٍ ู…َุซْู†َู‰ ูˆَุซُู„ุงุซَ ูˆَุฑُุจَุงุนَ ูŠَุฒِูŠุฏُ ูِูŠ ุงู„ْุฎَู„ْู‚ِ ู…َุง ูŠَุดَุงุกُ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ู‚َุฏِูŠุฑٌ (ูก) ู…َุง ูŠَูْุชَุญِ ุงู„ู„َّู‡ُ ู„ِู„ู†َّุงุณِ ู…ِู†ْ ุฑَุญْู…َุฉٍ ูَู„ุง ู…ُู…ْุณِูƒَ ู„َู‡َุง ูˆَู…َุง ูŠُู…ْุณِูƒْ ูَู„ุง ู…ُุฑْุณِู„َ ู„َู‡ُ ู…ِู†ْ ุจَุนْุฏِู‡ِ ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ْุนَุฒِูŠุฒُ ุงู„ْุญَูƒِูŠู…ُ (ูข)
"Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Allah maha kuasa atas segala sesuatu, ketika Dia katakan jadilah maka terjadilah, tiada satupun yang dapat menghalangi kehendakNya. Rahmat, hidayah, berkah atau apapun yang dikehendakiNya sampai pada makhlukNya ataupun terjadi maka akan sampai dan terjadi. Kita tentu menginginkan kebaikan selalu hadir dalam hidup kita, tapi hidup tak selamanya seperti yang kita harapkan tentu, namun jika kita telah melakukan yang terbaik dalam hidup ini, keburukkan apapun yang Allah izinkan terjadi pasti ada hikmahnya. Apalagi tak semua yang baik menurut manusia itu baik bagi Allah, karena seperti Firman Allah dalam Al -Qur'an surah Al-Baqarah ayat 216 yang artinya:

"....Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Oleh karena itu dengan amat sangat minimnya tentu kita sebagai manusia mengetahui setiap hal, termasuk apa yang terbaik dalam hidup kita dimata Allah, maka kita seharusnya berserah diri kepadaNya (Tawakal). Tentu setelah ber-DUI (Doa, Usaha dan Ikhas), dan melengkapinya denga S2 (Sabar dan Syukur). Ya.. Kembali pada Allah.. karena kembali pada Allah dalam hidup bisa juga berarti berserah diri (tawakal) pada Allah, menyerahkan semuanya kepadaNya, tentu dengan penuh keikhlasan. Sebagai hambaNya tentu akan berserah padaNya, apalagi muslim, dalam arti kata saja muslim itu artinya berserah diri pada Allah .

Namun.. tentu tak mudah tuk luruskan hati selalu mencari Ridho Allah dan berserah diri dengan penuh keikhlasan pada Allah. Hati dengan segala keluh kesahnya, jiwa yang terkadang berharap banyak terutama pada selainNya, atau fikiran dengan segala prasangkanya, juga hingar bingar dunia yang sering melalaikan membuat terkikisnya iman kepadaNya. Hingga akhirnya membuat jalan hati yang ingin kembali kepada Allah menjadi terasa begitu berat, atau justru rasa inginnya yang kemudian pudar berganti menjadi kepesimisan (pudarnya iman).. Nauzubillahiminzalik.. Astagfirullah..

Ya Allah.. mampukan kami untuk selalu berserah diri padaMu, mencari RidhoMu dalam setiap hal yang kami lakukan, bahkan dalam setiap niat yang terbersit, dimana RidhoMulah yang menjadi tujuan kami, kembali padaMu dengan penuh keikhlasan, dan jadikan kami husnul khotimah saat Kau panggil kami tuk kembali padaMu meninggalkan dunia ini.... (jadikan tulisan ini menjadi muhasabah bagi diri ini Ya Allah..) aamiin

Share ilmu, inspirasi positifmu di blog ilmair...













Sampaikanlah walau hanya satu ayat

Judul artikel blog ilmair kali ini mengutip dari sebuah hadist yang artinya: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat, dan ceritakanlah tentang Bani Israil tanpa perlu takut. Dan barangsiapa berbohong ke atasku dengan sengaja maka bersiaplah dia mengambil tempatnya di Neraka.” (Al-Bukhari). Tentu saja hadist itu menyarankan kepada kita sebagai seorang muslim untuk menyampaikan ilmu sedikit atau banyak selama itu dari Al-Qur'an dan hadist yang shahih..

Sebenarnya saya ingin menulis kali ini karena beberapa kali membaca dan mendengar orang yang mempertanyakan "kenapa banyak bertaburan tulisan tentang larangan mengucapkan hari raya agama non muslim disaat mendekati hari raya tersebut, atau dilarang mengikuti hari spesial yang di rayakan oleh agama non muslim (contohnya tahun baru masehi, valetine day), dan hal-hal lainnya?" bahkan lebih buruk ada yang menganggap orang yang menulis tentang larangan tersebut adalah orang yang berlebihan dan lain sebagainya, termasuk juga komentar negatif yang mengikutinya. Dan mirisnya yang mempertanyakan hal itu dan berkomentar negatif adalah orang-orang muslim sendiri, lebih tepatnya orang muslim yang menamakan diri mereka sebagai muslim liberal, yang menggunakan alasan "toleransi" sebagai landasan mereka menilai agama dan kehidupan, atau bahkan memisahkan agama dan kehidupan, melupakan ajaran agamanya hanya demi "toleransi", yang rasanya justru jauh dari makna toleransi sebenarnya, atau hal lainnya yang saya enggan menulisnya karena tidak mau menjudge negatif sesama muslim, dan karena ilmu saya juga masih jauh dari kesempurnaan (mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan tulisan saya kali ini)..

Kalau berbicara tentang toleransi, Islam justru agama yang paling toleransi, tapi.. (seperti kata Ust. Felix Siauw) "Bukan toleransi bila justru melanggar aturan agama sendiri, dengan alasan menghargai pemeluk agama lain, kebablasan namanya. Toleransi harus dikembalikan pada asanya, menghargai agama lain dari cara pandang agama kita, bukan malah ikut dan larut ke agama lain...".

Ya Allah.. saya memang bukan seorang muslim yang sempurna, tapi mendengar muslim yang mempertanyakan tentang muslim lain dengan dakwahnya, mengusik batin juga, kenapa sesama muslim sendiri malah saling menilai buruk? Mengapa orang-orang yang memang berniat menyebar kebaikkan, dakwah atau menyampaikan ilmu dari Al-Qur'an dan Hadist justru dikritik dan dipertanyakan oleh orang-orang muslim sendiri? Bukankah seharusnya kita sebagai sesama muslim harusnya saling melengkapi satu sama lain dalam mencari kebenaranNya, hidayahNya dan ridhoNya? Bersama-sama menjalankan apa yang disyariatkan oleh Allah SWT, yang tentu kesemuanya adalah untuk kebaikkan manusia di dunia. Bersama-sama membentuk kehidupan yang di ridhoiNya...

Bukankah Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Al Asr (103) juga telah berfirman, yang artinya: "Demi massa; Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian; Kecuali orang yang beriman dan orang mengerjakan amal sholeh, dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan menasehati supaya menetapi kesabaran". Dari surat itu saja sudah amat jelas dikatakan bahwa manusia itu harus saling menasehati dalam kebenaran (dan kesabaran) jika tidak mau mengalami kerugian. Berarti yang namanya dakwah itu wajib, menyampaikan ilmu yang benar, menyampaikan ilmu walau hanya satu ayat, terutama ilmu agama yang berasal dari Al-Qur'an dan Hadist yang shahih itu wajib. Tentu dakwah yang diwajibkan adalah dakwah yang disampaikan dengan lemah lembut, dengan baik, karena memang tujuannya baik, utamanya adalah mencari ridho Allah SWT.

Sampaikanlah walau hanya satu ayat.. Ya Allah.. bergulir setiap kata pada tulisan saya kali ini berharap memberikan inspirasi positif bagi setiap orang, khususnya sesama muslim, untuk selalu menebar kebaikan, menyampaikan ilmu terutama yang berasal dari Al-Qur'an dan Hadist yang shahih walau hanya satu ayat. Jangan sampai menganggap rendah setiap ilmu yang baik, yang tujuannya baik, yang berasal dari Al-Qur'an dan hadist yang shahih. Semoga kita semua bisa mendapatkan hidayah hingga memeperoleh ridhoNya mendapatkan kebaikkan, kebenaran dan kebahagiaan dalam hidup.. Diluruskan hati kita untuk selalu melandasi niat untuk mencari RidhoNya.. Aamiin.

Memang tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT, kebenaran sejatipun hanya milikNya. Tapi justru karena kita tidak sempurna, kita harus saling melengkapi, melengkapi tuk mendapatkan kebenaran dariNya. Tak perlu ratusan bahkan jutaan buku yang mesti kita baca untuk bisa menyampaikan ilmu yang baik, atau harus khatam Al-Qur'an beribu kali, atau harus belajar bahasa Arab untuk mengerti secara detail terjemahan Al-Qur'an dan Hadist lalu menyampaikannya. Tapi justru kita harus sampaikan walau hanya satu ayat, ya walau hanya satu ayat.. dan tentu harus terus dan terus berlajar, lalu sampaikan ilmu yang baik yang kita dapatkan, walau hanya satu ayat.

Share ilmu, inspirasi positifmu di blog ilmair.. Kritik dan saran juga dipersilahkan hadir di kolom komentar blog ini.. ^_^


Keberkahan dari hal-hal positif

Sudah lama ilmair ngga dijamah oleh tulisan saya ya..(^_^) Eips belum lama banget sih, tapi rasanya seperti sudah hampir jadi ruangan kosong tanpa penghuni, lebih tepatnya ruangan blog tanpa postingan, lembaran elektrik tanpa huruf-huruf yang bertautan yang terupdate. (Upss.. ko jadi lebay ya.. ^_^).. Yippss kali ini saya ingin menulis lagi, nge-blog lagi, dan kali ini temanya adalah "Keberkahan dari hal-hal positif", wuppps kebetulan beberapa hari lagi bulan nan pernuh berkah Ramadhan juga kan datang ya.. Semoga tulisan saya di ilmu_air kali ini dapat menginspirasi siapapun yang membacanya, dan menjadi berkah juga.. Aamiin..

Semua hal yang positif tentu akan hasilkan yang positif pula, sama seperti kebaikan yang berbuah kebaikkan. Pengalaman ini mungkin hanya cerita sederhana, dari seorang wanita biasa yang hidupnya jauh dari kata sempurna. Dimana ketika ia rasakan keberkahan dari Allah itu hadir dalam hidupnya, dan dalam perenungannyapun ia melihat bahwa semua yang terjadi itu tentu buah dari hal-hal positif, yang walau hanya setitik, mungkin tak terlalu berarti bagi orang lain yang pernah mendapatkan keberkahan lebih besar dalam hidupnya. Yaaa.. semoga tulisan ini bisa jadi hal yang positif yang memberi keberkahan ya.. Aamiin.

Saat hidup dipertemukan dengan sebuah jalan tanpa arah, atau seperti aliran air yang dibiarkan mengalir saja tanpa ujung. Mungkin di titik itu serasa tiada bayangan yang menggambarkan indahnya masa depan di muka. Tapi jalan kehidupan dengan segala kebaikkan dariNya, masih bisa mempertemukan seorang hamba dengan hal-hal positif, juga keberkahan-keberkahan yang mengikutinya. Seperti ketika saat seoranga wanita dipertemukan dengan orang-orang berhati baik, yang membawanya pada pengalaman-pengalaman baru dalam hidupnya, sederhana atau bahkan kecil bagi orang lain, tapi cukup berarti baginya, disamping ada doa serta dorongan positif jua tentu dari orang tua dan keluarganya disaat keberkahan-keberkahan itu datang. Rasa syukur tentu yang seharusnya ia hadirkan dalam hatinya, karena tentu semua yang terjadi dalam hidupnya adalah bentuk kasih sayang Allah padaNya, walau kenyataannya keluhan masih terus saja mengalir dalam lisannya, atau bahkan belum sempurna rasa syukur itu ada dalam sikapnya.

Salah satu dari pengalaman positif yang dialami wanita ini adalah ketika ia dipertemukan oleh orang berhati baik yang membawanya pada dunia kerja yang baru, satu keberkahan berupa pengalaman yang mempertemukannya dengan orang-orang baru, motivasi-motivasi yang memunculkan semangat hidup, bahkan beragam pelajaran diantaranya adalah bahwa hidup itu perlu bahkan penuh perjuangan termasuk dalam mengais rizki dalam hidup juga perlu berjuang. Hujan dan panas terik matahari juga pernah jadi saksi ketika kemandirian mencari keberkahan rizki sedang wanita itu perjuangkan. Pengalaman dengan orang-orang yang dijumpainya juga menyadarkannya bahwa masih banyak orang dengan beragam masalah dan cerita sedihnya hidup, masih dapat bertahan, bangkit ketika jatuh, atau menjadi berharga untuk tetap ada untuk orang-orang yang dikasihinya, atau berjuang untuk anak-anak dan keluarganya. Walau satu titik akhirnya membuat wanita itu tersadar bahwa ternyata dunia kerja baru, yang telah memberinya pengalaman yang cukup berharga itu tak sesuai dengan keridhoan Allah tuk mendapatkan rizki, terutama berupa materi tuk menyambung hidup. Karena ketika ia telah berdikusi dengan orang-orang yang cukup mengerti tentang agama, dan iapun telah bertanya pada Allah dalam doa dan sujudnya, satu jawaban yang ia dapat bahwa dunia kerja yang ia masuki ternyata tak sesuai syar'i, tepatnya ada unsur riba di dalamnya. Walau disana juga tentu banyak hal-hal positif, tapi keberkahan dari hal-hal positif yang dicarinya masih belum ditemuinya.

Allah memang punya rencana baik untuk semua hambaNya, pasti. Walau tentunya manusia itu sendiri diberi pilihan, salah satunya untuk dapat melihat rencana baik Allah itu dalam kaca mata positif atau sebaliknya. Seperti ketika wanita yang saya sebutkan diatas memilih untuk tidak berkecimpung lagi di dunia kerja yang ternyata tak sesuai dengan ridhonya Allah, ia diberi jalan juga tuk dipertemukan dengan orang-orang baik lainnya. Iapun mendapatkan pekerjaan baru, yaitu bertemu dengan dunia kerja yang dipenuhi dengan lingkup ceria, perlu kesabaran penuh, perlu kasih sayang yang tercurah, perlu ketulusan yang tertuang. Dan tentu membuatnya harus lebih banyak belajar tentang semua itu. Bahkan dalam dunia kerja ini ia mendapatkan ilmu-ilmu positif dari segi agama, syar'i dan islam.

Lalu.. keberkahanpun datang lagi dalam hidupnya, ketika ia jalin silahturahmi dengan orang berhati baik lainnya, ketika niatnya dalam silahturahmi itu adalah belajar memperbaiki dalam membaca ayat-ayat suciNya. Kesempatan membawanya pada dunia kerja baru lagi, dunia kerja ke 3 dari potongan pengalaman dunia kerja wanita yang saya sebut diatas. Kali ini dunia kerja ini menghasilkan keberkahan materi yang sudah seharusnya ia syukuri, dan ia temui juga orang-orang berhati baik yang menginspirasi secara positif, yang tentu telah memberinya beragam kebaikkan juga. Walau dalam dunia kerja ini dia temukan titik-titik dimana ia seharusnya bercermin, dalam cermin yang panjang, tentang dirinya dihadapan Allah, tentang dirinya dengan segala ketidaksempurnaannya. Walau sepertinya hingga kini cermin itu masih belum sempurna ia pajang dalam benak, hati atau tertuang dalam sikapnya. Semua itu hanya potongan kecil saja dari pengalaman seorang wanita, yang mungkin dalam rentangan jalan hidupnya masih tidak sempurna tulisan saya ini menggambarkannya, beragam orang baik lainnya jua tentu telah ditemuinya, jua pengalaman lainnya.

Huff.. entah tulisan saya kali ini berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya di blog ini.. Bahkan mungkin saya belum tentu sudah bisa mengambil hikmah dari potongan pengalaman wanita tersebut. Dan entah kenapa saya ingin menuliskan hal ini pada saat ini. Tapi satu hal yang saya inginkan, bahwa semoga potongan kecil dari pengalaman seorang wanita tersebut dapat memberi inspirasi positif bagi yang membacanya, diantaranya bahwa:

- Silahturahmi dengan niat baik itu akan mempertemukan pada kesempatan-kesempatan baik, seperti sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :

ู…َู†ْ ุฃَุญَุจَّ ุฃَู†ْ ูŠُุจْุณَุทَ ูِูŠ ุฑِุฒْู‚ِู‡ِ ูˆَูŠُู†ْุณَุฃَ ู„َู‡ُ ูِูŠ ุฃَุซَุฑِู‡ِ ูَู„ْูŠَุตِู„ْ ุฑَุญِู…َู‡ُ

"Man ahabba ayy yub satho fii rizqihi wa yun sa alahu fii atsa rihi fal yashil rohimah"
Artinya:  "Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim." (HR. Bukhari Muslim dari Anas radhiyallohu'anhu).
Ya.. keberkahan itu tentu hadir dalam hal-hal positif, salah satunya dengan menjalin silahturahmi yang baik.

- Ketika Ridho Allah yang dicari maka hasil yang didapat adalah kebaikkan, dan keberkahanpun datang dengan ridhoNya pula. Mencari Ridho Allah adalah hal yang positif pastinya, maka keberkahan itu jua kan datang saat tujuan manusia adalah mencari ridhoNya.

- Keberkahan itu tentu datang dari hal-hal positif, dan hal-hal positif itu seharusnya selalu ada dalam hati, fikiran dan sikap kita selalu.

- Dalam setiap traffic kehidupan manusia itu ada banyak hikmah yang seharusnya bisa manusia petik, tuk menjadikannya lebih baik, lebih baik sebagai pribadi, sebagai hambaNya dan juga sebagai manusia bagi kehidupan yang lebih luas, hingga keberkahanpun terus mengalir pula dalam hidup manusia dengan Ridho Allah

Huff menurutmu gimana postingan saya kali ini? Share ilmu, inspirasi positifmu juga ya di blog ilmair ini..

Oiya dari tulisan tentang "keberkahan dari hal-hal positif" ini juga saya berharap inspirasi positif juga mengalir ke dalam diri saya sendiri untuk hidup lebih baik lagi, dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.. tentu lebih baik dalam kaca mata Allah.. Aamiin.

Translate