"Bismillahirrahmanirrahim"

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software

Hei Masalahmu Takkan Melebihi Batas Kemampuan!

Perjalanan dalam hidup kita di dunia ini tentu takkan selalu mudah, akan selalu ada masalah dalam hidup, bahkan mungkin bisa jadi masalah itu seakan silih berganti datangnya atau malah bertumpuk rasanya.

Saat hati gelisah melihat semua masalah yang berat itu, serasa tak mungkin rasanya diri mampu melewatinya, itu artinya pesimis tengah berpelukan dengan keputusasaan. Jangan biarkan itu terus menyergap di dalam diri, hingga hati luapkan emosi berlebih pada kehidupan yang rasanya tak adil, marah pada kehidupan atau marah kepada-Nya? Astagfirullah ... Jangan sampai ya.

Atau tangis pecah berkali-kali dalam sendirimu, menyesali diri yang rasanya tak mampu hadapi semua masalah yang berat itu? Kamu mungkin kesal dengan diri sendiri karena tiap langkah rasanya selalu saja salah?



Hentikan! Hentikan semua pikiran negatif itu! Jangan biarkan dirimu terjatuh dalam kelemahan, jangan biarkan dirimu sampai pada titik keputusasaan yang paling Dia benci!

Berprasangka baiklah, berpikir positiflah ... terutama kepada-Nya, karena semua yang terjadi dalam hidup pasti atas ijin-Nya. Dan Sang Maha Penyayang itu pasti menginginkan yang terbaik bagi semua hamba-Nya.

Ya ... apapun yang kita lalui dalam hidup, pasti ada makna kasih sayang-Nya, Dia tahu diri kita seperti apa, dalam cermin panjangpun kita harus melihat utuh diri sendiri, pada kesalahan dan juga kekhilafan diri. Lalu? Berbenahlah dan mendekat pada-Nya untuk kebaikkan diri sendiri.

Dan bukan hanya itu, Dia juga ingin kita kuat, Dia ingin kita berusaha melewati semuanya, tentu itu karena Dia tahu bahwa kita bisa melewatinya. Dia selalu mendengar doa-doa, Dia juga tahu semua keinginan kita, bahkan pada bisikkan tipis di hati saat kita lupa untuk meminta kepada-Nya sekalipun.

Selalulah ingat, bahwa Dia takkan pernah membiarkan kita sendirian, Dia takkan memberikan ujian melebihi batas kemampuan kita.

Hapus setiap prasangka buruk kita pada-Nya, sesulit apapun rasanya masalah yang kita hadapai dalam hidup sungguh takkan sebanding dengan begitu luas kasih sayang-Nya.

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".


 لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".


Baca 2 ayat ini sebelum tidur ya sahabatfillah, semoga Allah mencukupkan dan mengijabah doa-doa kita semua aamiin

Mendahulukan Puasa Syawal dari Qadha Puasa, Bolehkah?

Mendahulukan Puasa Syawal dari Qadha Puasa, Bolehkah? - Pertanyaan ini tentu banyak dipertanyakan saat bulan Syawal tiba, dimana di bulan ini umat muslim di sunnahkan untuk menunaikan puasa Syawal.

Namun khususnya bagi wanita yang mengalami haid di bulan Ramadhan, ia memiliki kewajiban untuk  mengqhada puasanya. Lalu dilema yang dihadapinya adalah akan terpotong masa haid juga bulan Syawal ini. Lalu sebaiknya ia mendahulukan puasa syawal dahulu atau qadha puasanya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, memang ada perbedaan pendapat di kalangan Ulama, dari dibolehkannya menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu, makruh hingga haram hukumnya, dengan dalil-dalilnya masing-masing.



Namun pendapat terkuat dalam masalah ini berdasarkan hadist yang sahih adalah bolehnya menunaikan puasa sunnah sebelum mengqadha puasa Ramadhan, selama waktu mengqhada masih longgar. Jadi jika seseorang menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu, lalu qadha puasa ditunaikan kemudian, maka puasanya sah dan ia tidak berdosa.

Mengingat Keutamaan Puasa Syawal
Diluar dari pernyataan tentang sah atau tidaknya mendahulukan puasa sunnah dari qadha puasa Ramadhan, yang perlu diingat kemudian adalah keutamaan dari puasa Syawal itu sendiri. Dimana menurut hadist, Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalan bersabda

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Disini Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa mempunyai qodho’ puasa di bulan Ramadhan, lalu ia malah mendahulukan menunaikan puasa sunnah enam hari Syawal, maka ia tidak memperoleh pahala puasa setahun penuh. Karena keutamaan puasa Syawal (mendapat pahala puasa setahun penuh) diperoleh jika seseorang mengerjakan puasa Ramadhan diikuti puasa enam hari di bulan Syawal. Dalam kondisi tadi, ia tidak memperoleh pahala tersebut karena puasa Ramadhannya belum sempurna.”
Ibnu Rajab rahimahullah kembali menjelaskan, “Barangsiapa mendahulukan qodho’ puasa, setelah itu ia melakukan puasa enam hari Syawal setelah ia menunaikan qodho’, maka itu lebih baik. Dalam kondisi seperti ini berarti ia telah melakukan puasa Ramadhan dengan sempurna, lalu ia lakukan puasa enam hari Syawal. Jika ia malah mendahulukan puasa Syawal dari qodho’ puasa, ia tidak memperoleh keutamaan puasa Syawal. Karena keutamaan puasa enam hari Syawal diperoleh jika puasa Ramadhannya dilakukan sempurna.”
Jadi lebih baiknya tentu kita menunaikan qadha puasa Ramadhan terlebih dahulu, jika kita ingin mendapatkan keutamaan puasa Syawal, yaitu pahala puasa setahun penuh. Karena jika kita mendahulukan puasa Syawal, maka kita tidak akan mendapatkan pahala tersebut.
Lalu bagaimana dengan siklus haid yang wanita alami, dimana ada kemungkinan puasa Syawalnya tidak bisa dijalankan dengan sempurna 6 hari, karena ia telah mendahulukan mengqadha puasa Ramadhan, dan waktu di bulan itu terpotong masa haid.
Ada hadist Nabi Sallahu Alaihi Wassalam yang bisa diambil untuk masalah ini
Dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَرِضَ العَبْدُ أَوْ سَافَرَ كَتَبَ اللهُ لَهُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْماً صَحِيْحاً
Jika seseorang sakit atau bersafar, maka akan dicatat baginya pahala seperti saat ia mukim (tidak bepergian) dan sehat.” (HR. Bukhari dalam kitab shahihnya)
Jadi, seorang wanita yang punya hutang puasa Ramadhan tidak perlu khawatir ketika ia luput dari puasa Syawal karena ada udzur, termasuk jika masa puasanya terpotong karena haid. Ia bisa melakukan puasa Syawal semampu ia bisa, walaupun sehari dua hari saja, ketika memang ada udzur. Tapi tentu disini bukan berarti menunda-nunda waktu puasa di awal Syawal bisa disamakan dengan kasus ini, tentu kita mengusahakannya dengan sebaiknya jika amalannya ingin dicatat sebagai pahala yang sempurna, semoga Allah ridhoi ...
Semoga Artikel tentang Puasa Syawal dan Qadha Puasa ini bermanfaat yang sahabat ... aamiin.
Sumber: Rumahsho

Ramadhan Akan Segera Pergi

Aku tertunduk, air mata ini menetes, ada rasa gelisah dan tak nyaman lainnya di hati. Waktu yang berjalan ini terasa berlalu begitu cepat, hingga langkah ini tiba di penghujung jalan di bulan yang penuh kemuliaan ini. Ingin rasanya aku menggenggam waktu, lalu menghentikannya, atau memintanya berputar kembali ... namun tentu saja itu tak bisa.



Ah jika ada tanya yang tercuat, sedih karena apa aku ini? Apakah karena rasa cinta yang begitu mendalam telah tumbuh di hati pada bulan penuh kemuliaan ini? Karena iman di hati telah penuh meningkat pada-Nya? Pertanyaan itu justru kini menamparku, tak sakit ke kulit, tapi semakin terasa tak nyaman di hati.

Aku bahkan tak tahu apakah pantas bisa kusebut diriku mencinta, setidaknya mencintai bulan ini saja, dimana Sang Maha Cinta itu telah memberi banyak cinta pada semua hamba dengan kemaha murnian cinta-Nya. Dia telah memberi hamparan luas rahmat-Nya di bulan ini, dari pintu ampunan dan diijabahnya doa terbuka dengan lebar, hingga beramal dan beribadah dengan pahala yang berlipatpun ada dalam janji-Nya yang pastikan ditepati.

Lalu ... apa yang telah aku lakukan selama hampir sebulan ini? Kemana saja aku selama hampir sebulan ini? Amal dan ibadah apa yang mampu menunjukkan cintaku? Seberapa banyak diriku bergerak dalam khusuk dan ikhlas?

Ya Allah ... aku sungguh tak mampu menjawab pertanyaan itu, hati ini semakin gelisah, melihat Ramadhan yang semakin bergerak untuk segera pergi.

Terduduk lalu diam? Tentu saja bukan itu jawabannya, waktu yang tersisa ini masih ada, kesempatan dari-Nya masih terbuka ...

Secercah cahaya itu membuka mata, deretan hadist tampak oleh mata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175).
Harus terdorong semangat dari dalam diri untuk bergerak, bergerak semampu yang diri bisa, lakukan yang terbaik tentu seharusnya. Jika diawal perjalanan ini diri tertatih, atau bahkan terbawa lalai, maka sekarang waktunya untuk bangkit, bahkan harus bisa diri berjalan lebih cepat dari sebelumnya, setidaknya berusaha. Jangan pernah menyerah, jangan pernah berhenti melangkah atau bahkan berbalik arah, sebelum ada perhentian langkah dari-Nya.

Ya diwaktu Ramadhan yang tersisa ini, perbanyaklah beribadah kepada-Nya, seperti yang dilakukan Rasulullah sallahu 'alahi wassalam, dalam hadist ‘Aisyah mengatakan,


كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). 
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula untuk menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71)

Jangan sia-siakan waktu untuk bertemu dengan malam penuh kemulian yang ada di 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.

Mari kita hidupkan malam Lailatul Qadar sahabat, yang dapat dilakukan dengan mendirikan sholat, berdzikir dan tilawah Al Qur'an.

Walau amalan shalat itu lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar, seperti yang tertera dalam hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901).

Hentakan nasehat ini pada diri dengan penuh, bukan sekedar untuk ditulis lalu dibaca, tapi untuk menggerakkan diri untuk segera melakukannya.

Dalam untaian kata di ujung akhir tulisan ini, ingin pula kusebutkan doa "Semoga Allah meridhoi kita semua bertemu dengan malam penuh kemuliaan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik seribu bulan, saat pintu-pintu langit dibuka, doa-doa dikabulkan aamiin"

Yakin Produk Yang Kamu Pakai Halal? - Skincare, Toileter, Personal Care mu Halahkah?

Ku baca deretan tulisan pada layar handphoneku, sedari tadi mataku ini kufokuskan untuk mencari sederet tulisan, yang kuharap tak kutemukan oleh dua mataku. Degup jantungku seakan mau berhenti, ketika sederet tulisan yang kuharap tak ada itu terbaca juga oleh mataku. "Merk XXXXXXX NOT HALAL, not guarantee their products are pork free ...."
Mukaku seakan tertampar, "astaghfirullah!" kata itu yang terucap di bibirku kemudian. Aku tak percaya kalau produk perawatan kulit yang selama ini kupakai ternyata mengandung bahan yang tak halal.
Ya Allah setelah sekian tahun aku pakai produk merk XXXX untuk kulitku, aku baru mengetahui informasi itu sekarang! Dan informasi itu akurat dari website resmi halal internasional, dan dari keterangan yang tertulis itu bahkan pusat produk itu sendiri telah menyatakan hal itu dengan jelas. Memang informasi yang tertulis adalah untuk produk yang di jual pada negara tempat asal produk itu sendiri dibuat. Tapi ketika produk itu sampai di negara Indonesia ini (diimpor _pen), siapa yang bisa memastikan dan menjamin kalau bahan dasarnya telah dirubah menjadi halal? Sementara dengan jelas pula produk tersebut belum tertera label halalnya.



Ah sungguh rasanya salah kalau dulu aku hanya memikirkan status halal dan haramnya sebuah produk yang untuk dikonsumsi saja, tak pernah sampai terfikirkan bahwa bahan-bahan yang tak halal itu bisa sampai ke produk-produk lainnya juga. Terbuka mataku pada hari ini akhirnya, semakin saja aku rajin mencari informasi di internet, tentu saja dari ragam sumber, harusnya tentu yang akurat dan jelas, jangan sampai dari data yang salah atau "hoax", walau nyatanya itu bukanlah hal mudah.
Sejak saat itu, aku memang menjadi seperti seorang yang sedikit paranoid, karena nyatanya banyak produk yang beredar di negeri ini adalah produk luar, dan itu adalah produk-produk yang sehari-hari kita pakai termasuk skin care, tolieter, kosmetik dan lain-lain yang bahan bakunya mengandung lemak hewani. Memang sebagian dari produk-produk itu ada yang diproduksinya di dalam negeri, tapi tetap saja pemilik perusahaannya adalah orang luar, yang belum tentu memikirkan kehalalan bahan bakunya secara pasti.
Dari produk makanan saja, sudah banyak beredar informasi tentang ditemukannya lecithin berkode E-xxxx, yang katanya merupakan kode samaran dari lemak babi dalam makanan produk luar yang beredar di negeri ini, dan sekarang lebih banyak lagi produk yang nyatanya jadi bahan perhatian akan kehalalannya. (Walau infomasi terakhir ada yang mengkonfirmasi bahwa kode E-xxxx pada makanan import itu bukan kode lemak babi, dan berita yang beredar itu dinyatakan "hoax", walau nyatanya informasi akuratnya belumlah bisa dipastikan, dan banyak juga muslim yang menjaga diri dari menjauhi produk yang mengandung kode E-XXX tersebut _pen).
Walau begitu, bukan berarti aku menyatakan kalau produk import atau perusahaan luar itu semuanya tak halal, ada juga tentu yang halal, dan ada juga produk lokal yang tak halal pastinya. Ya ... menjadi suatu momok saja bagiku setelah itu akan kepastian halal atau tidaknya sebuah produk yang akan kupakai atau kukonsumsi. Dan kalau mau menelaah secara detail, produk-produk luar atau produk yang belum bisa dipastikan kehalalannya itu, bisa saja bahan bakunya adalah lemak hewani yang halal, tapi bagaimana dengan penyembelihan hewan-hewan tersebut?
Ah mungkin bagi sebagian orang aku ini terlalu berlebihan, tapi salahkah jika hati ini terdorong untuk perduli dengan halal-haramnya semua produk yang kupakai atau konsumsi? Ya Allah ... mataku melihat deret tulisan tak halal itu saja sudah pasti atas ijin-Mu, lalu aku harus bagaimana?
Ada asa yang mengelebat difikiranku sejak saat itu, pikiran yang lebih luas lagi dari satu titik tentang kehalalan suatu produk, dimana aku punya keinginan agar semua produk yang ada di negeri ini benar-benar bisa terjamin kehalalannya. Bukan hanya sekedar jaminan halal dari MUI, sementara disisi lain masih ada saja yang beredar produk yang tak terjamin kehalalannya.
Maka harapanku sekarang adalah agar saudara dan sahabat muslimku juga mampu membuat produk-produk halal di negerinya sendiri ini. Ya ... kita semua jangan hanya mau menjadi konsumen saja di negeri kita sendiri, itupun konsumen produk yang sebagiannya tak terjamin kehalalannya, sementara uang yang beredar masuknya bukan kepada kita ataupun bukan di negeri kita sendiri. Jadinya kita ini hanya bekerja keras lalu menerima hasil dari keringat kita, lalu kemudian kita memberikannya kepada orang-orang luar negeri yang justru sudah terlalu kaya.
Aku ingin pakai produk lokal, produk buatanmu sahabat-sahabat satu negeriku, karena aku yakin betapa banyak orang-orang hebat dinegeri kita yang tercinta ini. Iya itu kamu yang bisa membuat produk berkualitas dan juga halal, dan itu juga pasti termasuk kamu ya sahabatku para produsen, para pecipta karya, juga para marketing, pemasar dan penjual produk-produk karya orang-orang hebat itu, bahkan itu kamu juga para pelajar yang sedang belajar untuk bisa menjadi orang-orang hebat itu. Setelah itu akan kita export bersama produk-produk karya sahabat hebat satu negeriku itu.
Akukan bangga jika bisa memakai produk-produk buatan sahabat satu negeriku.

Catatan kecil: 
Tulisan ini terinspirasi dari kejadian nyata yang saya alami, dimana sekitar tahun 2009 saya menemukan bahwa beberapa produk yang pernah saya pakai ternyata tercantum di situs web halal internasional dengan tanda not halal.
Saya sendiri saat ini tentu belum bisa lepas sepenuhnya dari produknya perusahaan luar yang ada di negeri ini, karena ya memang produk perusahaan luar itu beredar dengan mudahnya di negeri ini.
Humm ... hanya berharap bisa tenang dan terbebas dari produk not halal ataupun meragukan kehalalannya (bisa ga ya? bisa mungkin kalau sistem di negeri ini ga seperti saat ini ^_^).
Yah, berharap juga agar seluruh muslim di negeri ini lebih memperhatikan dengan pasti produk yang dipakainya, dan juga seperti tulisan saya di atas saya berharap muslim di negeri ini bisa membuat produk halal dan berdaya di negerinya sendiri. Semoga Allah wujudkan harapan ini ya, semoga Allah mudahkan aamiin

Menanti Waktu

Aku terduduk diam di kursi ruang tamu, memandang ke arah pintu depan rumahku. Sudah berapa lama rasanya juga aku tak ingat, yang ku tahu hanyalah degup jantung ini selalu berirama, detaknya terasa agak kencang, tapi hanya terdengar oleh diriku sendiri, sedang tampak dari luar diri hanyalah aku yang tengah duduk tanpa bersuara.


Sungguh bukan degup jantung ini yang sebenarnya ingin ku dengar, tapi ketukan pintu yang sedari tadi aku tatap dengan dua mataku ini. Dan tentu saja, ketukan itu bukan dari sembarang tangan, tapi seseorang yang tengah kunanti, yang entah sudah berapa lama kedatangannya aku nanti, yang pasti terasa begitu lama dan panjang jarak waktuku.

Hari itu waktu seakan terasa begitu melambat, padahal detik waktu bergerak sama saja seperti biasanya. Tentu ini bukan karena jarum jam yang dibuat mundur kebelakang, atau batere jam yang dayanya sudah melemah.


Ah.. waktu takkan bisa dihentikan hanya sebatas putaran jam di dinding ataupun yang melingkar di pergelangan tangan. Ini pasti karena aku yang tengah menanti waktu, seakan ingin bersegera tiba pada detik yang kumau, yaitu segera bertemu dengan tamu yang tengah kunanti.

Handphone ku sedari tadi tak kusentuh, hanya kuletakkan saja ia di meja, tak pula aku ingat apakah sebelumnya aku sudah membuat janji temu atau belum? Tapi entah kenapa kuyakin kan ada seseorang nanti yang kan datang, mengetuk pintu rumahku, dan dengan tersenyum akan kusambut ia.

Kadang mungkin terasa begitu mengherankan, seorang aku yang tak pernah sekalipun bertemu dengan seseorang sedari tadi, atau bahkan saling mengirimkan pesan singkat untuk sekedar sapa dengan seseorang, juga tak ada telepon yang masuk untuk membuat janji temu, tapi begitu yakin terduduk menanti ketukan di depan pintu.

Tentu saja tidak begitu, karena saat aku telah siap menanti seseorang yang akan datang ke rumahku nanti, aku sudah pastikan dulu keyakinannya pada diriku, dan memastikan pula jawaban dari Allah.

Yakin? Pada apa dan siapa? Lalu hanya dengan duduk terdiam saja membiarkan waktu yang terus berputar? Tanpa gerak laku apapun? Apakah dengan seperti itu bisa membuat yakin itu menjadi nyata jadi seperti yang aku ingin?

Tanya itu lalu seakan tumpah di kepalaku kemudian, bukan membuatku jadi merasa pusing, tapi tepat menyadarkanku dari lamunan.

Ah ya.. ini tentu saja hanya lamunan, tapi nyatanya bisa saja keyakinan itu tetap ada dihati, bahwa di dalam hidup ini, kita semua pasti punya harapan, harapan yang bisa membuat kita tersenyum, harapan yang dinanti hadirnya menjadi nyata, dan ia datang membawa bahagia di hati.

Tapi butuh berapa lama waktu hingga bisa sampai pada titik yang dinanti? Jika hanya diam saja tanpa berlaku apapun, sementara waktu jelas saja tak akan pernah berhenti, menunggu langkah kaki agar seirama dengan waktu, sedang langkah saja tak bergerak sama sekali.

Saat aku terduduk tadi saja sudah semestinya aku tak hanya berdiam diri, tapi sungguh aku harus mempersiapkan diri. Menata diri dari ujung rambut sampai kaki, berpakaian terbaik dari yang aku punya, mengelola hati dan fikiran agar takkan canggung yang tampak nanti, serta ucap bibirkan teratur tanpa membuat kata yang salah ataupun suara menjadi sumbang, hingga membuatku malu sendiri.

Bukan hanya itu tentu, akupun harus mempersiapkan diri sepenuhnya dengan amat baik, hingga binar mata ini akan selalu siap, siap untuk melihat siapapun yang akan datang nanti. Dan tentu saja akan ada komunikasi yang baik dulu juga nanti hingga seorang tamu itu datang mengetuk pintu.

Ya.. seperti itu memang seharusnya, selayaknya dalam hidup, dimana kita punya mimpi dan harapan, lalu bukan hanya terdiam diri saja saat kita menantinya dalam waktu yang berputar. Pastinya kita perlu berikhtiar agar diri kita menjadi pantas untuk dipertemukan dengan impian dan harapan kita itu.

Dan tentu hanya ridho Allah sajalah yang dapat membuat kita sampai pada titik itu yaitu dipertemukan dengan impian dan harapan kita. Menata diri, memperbaiki diri, lalu berusaha melakukan yang terbaik harus kita lakukan.

Jangan biarkan waktu terasa bergerak lebih cepat, karena diri yang bergerak begitu lambat, selayaknya berdiam diri terlalu lama, atau seakan merasa lemah pada setiap keadaan, atau justru ada banyak hal yang ingin dituju dengan tergesa namun gerak tubuh tak sempat untuk mengejar.

Dan disaat itu kita hanya akan tertinggal, bukan hanya oleh waktu tapi juga oleh kehidupan yang terus bergerak. Hingga akan terasa lebih jauh jarak yang kita tempuh untuk bisa mencapai harapan dan impian kita itu.

Tentang harapan dan impian kita itu mungkin tak banyak orang yang melihat bagaimana ikhtiar yang kita lakukan untuk meraihnya, karena memang hidup itu bukanlah soal pandangan dan penilaian manusia.
Walau jika kemudian kan ada banyak mata yang memandang rendah impian dan harapan kita itu, tak mengapa terus saja bergerak, bergerak sesuai yang kita mampu, namun tentu sesuai dengan jalan yang diridhoi Allah.

Lalu serahkan kepada-Nya sepenuhnya dan terima apapun yang menjadi ketetapan-Nya, karena pada akhirnya hanya ketetapan-Nya lah yang terbaik.

Dan ingin ku bertutur pada "waktu" kali ini, bahwa aku harus melewati detik-detikmu dengan lakukan yang terbaik, namun bukan sekedar terbaik di mata manusia, tapi haruslah terbaik dimata Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Walau belumlah bisa sempurna aku melakukannya, atau bahkan aku masih begitu tertatih dalam berusaha, tapi takkan boleh aku lelah untuk berusaha lakukan terbaik itu, karena Dia pun akan selalu menghargai setiap prosesku.

Hingga akhirnya Dia ridho untuk mempertemukan aku dengan semua impian dan harapanku, semua yang terbaik dari-Nya untukku yang utamanya adalah bisa mencintai-Nya dengan utuh, hingga husnul khotimah. Ucapku pada waktu inipun akan jadi doa yang seirama dengan doaku untuk semua sahabat.

"Ngobrol" Sama Allah dan Kualitas Respon Kita

Di setiap waktu yang berputar, kadang kita sering terlalu asik dengan dunia kita sendiri, asik dengan obrolan kita dengan teman, sahabat, keluarga atau siapapun manusia. Kita merasa penuh seperti halnya batere yang "full charged" hanya karena dunia, padahal itu hanya sesaat, karena sesungguhnya kita telah kehilangan integritas kita.
"Ngobrolin" soal Allah? Humm ya ... ada kalanya juga memang kita mengeluarkan banyak kata soal Allah, baik pada diri atau manusia lainnya.


Kita tahu bahwa Allah selalu memberikan banyak hal dalam hidup kita, bahkan tinggal sebut "Kun"maka terjadilah. Tapi ... kenapa ya permintaan kita pada Allah ga langsung Kun? Kenapa? Jawabannya karena ternyata kita salah frekuensi, setting frekuensi kita tidak pas, sehingga pertolongan Allah tidak datang.
Humm ya ... kita itu sering lupa untuk "ngobrol" sama Allah, "ngobrol" langsung baik dalam dzikir disetiap waktu, dalam doa maupun ibadah lainnya - mengingat Allah full dalam setiap waktu kita - fokus pada-Nya terus. Padahal Allah lah yang sesungguhnya dapat membuat hati kita penuh. Iya hanya Allah, seperti janji Allah di QS. Ar Radu ayat 28: "Bahwa dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang."
Allah telah memberikan hamparan (sebut saja selayaknya papan permainan-Nya kalau Kang Reza Rendi bilang) dalam kehidupan ini, tapi manusia justru sering lebih asik mendengarkan aturan dari manusia lainnya, hingga lupa akan aturan Allah, Sang pemberi hamparan tadi. Jadi gimana kita bisa dapatkan yang terbaik dari Allah, kalau kitanya saja tidak melakukan apa yang Allah mau?
Dan ini bisa disebut juga kalau respon kita terhadap-Nya juga tak baik ya? Humm ... iya dalam hidup itu mestinya memang kita punya respon yang baik.
Karena kualitas hidup (Quality of Life) kita akan berbanding lurus dengan kualitas respon (Quality of Response) kita. Ya ... respon kita akan setiap hal yang terjadi dalam hidup, akan menentukan kualitas hidup kita.
Dimana kalau dilihat dari tangga kualitas dari "High Class Response"-nya Kang Harri Firmansyah, kedekatan kita dengan Allah akan ada pada level tertinggi yaitu "unbelievable". Kita bisa mencapai kualitas hidup yang "unbelievable" ketika bisa memaknai setiap hidup ini karena ridho-Nya, merespon setiap hal dalam hidup dengan mencari ridho-Nya, respon yang juga "unbelievable". Sehingga faktor "Kun"nya Allah-pun bisa jadi kita dapatkan, Allah mencintai kita dan memberikan semua hal yang kita inginkan.
Intinya fokus yuk sama Allah! Lakukan semua untuk dan karena Allah, cintai Allah, ikuti aturan-Nya secara kaffah. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus ....

Sedih, Susah dan Sakitmu Takkan Sia-Sia

        Ada ribuan kata yang tumpah dari mulutku, ia keluar bersama dengan pecahnya tangis, walau tentu saja ribuan kata itu takkan utuh menggambarkan isi hatiku, karena kata-kata takkan mampu menjelaskan setiap inci yang ada di hati, namun semua tangis yang tertumpah itu sungguh menghilangkan rasa sesak di hati, lalu lepas. Dan kemudian peluk erat hangat yang menenangkan hati itu menjadi obatnya, membuat aku benar-benar bisa bernafas dengan lega, mencoba hapuskan satu demi satu rasa sedihku, tak perlu hal yang besar cukup dengan satu pelukan hangat itu saja.



Seseorang yang sedari tadi berada di sampingku, wajahnya tak menampakkan apa-apa, hanya terlihat tulus saja mendengar semua yang kutumpahkan. Kadang tergambar guratan empati di wajahnya, tapi tetap dengan ketenangannya ia menunggu isakan terakhirku keluar, dan siap dengan dua tangannya merangkul untuk kemudian mendekapku.

Hingga sesegukan itu datang, seakan pertanda bahwa tangisku sudah terlalu lama dan waktunya untuk menarik nafas panjang dan menenanglah hati. Lalu kemudian seakan ada jeda untuk kami sama-sama terdiam, tak berucap sepatah katapun, namun itupun sudah cukup menenangkan.

"Sambil berdzikir Ra, jangan biarkan pikiranmu kosong, hatimu pun harus terus bergerak meraba rasa terdalammu pada-Nya, jangan biarkan ia tertidur sementara matamu terjaga."
Suara lembut itu yang kudengar kemudian, membuat bibirku akhirnya berucap menyebut asma-Nya.

"Sudah lega sekarang?" tanyanya beberapa menit kemudian, yang menghasilkan anggukkan di kepalaku.

"Sekarang coba kamu lihat keluar jendela mobil kita, tatap sekeliling sambil terus berdzikir mengingat-Nya, dan pandang tiap sudut tempat ini lalu perhatikan keindahannya, rasakan itu dengan hatimu bukan hanya sekedar saja mata memandang.

Dan tanyakan pada hatimu, apakah alam diciptakan dengan sia-sia? Pohon-pohon yang rimbun, rerumputan liar yang tumbuh di hamparan, bunga-bunga dengan ragam warnanya yang cantik, bahkan lumut di bebatuan itu dan lumpur yang menggenangi sebagian tempat di sungai itu, serta semua yang ada di sekitarnya hingga di bagian-bagian dalam dari tempat ini, apakah ada diantaranya yang diciptakan secara sia-sia?" 
Ucapan itu membuat aku termenung, melihat alam di sekeliling  dengan begitu terang walau rasanya mataku ini masih sedikit bengkak karena sisa tangisku tadi. 

"Walau disini bukan tempat keramaian manusia, dimana kita nggak bisa melihat dan merasakan manfaatnya setiap waktu, tapi seluruh hamparan alam ini mengandung jutaan manfaat kan Ra? Allah Subhanahu Wata'ala menciptakan semuanya dengan tujuan dan maksud nggak ada satupun yang luput. 
Lalu kita semua juga pasti begitu, diciptakan oleh-Nya dengan tanpa sia-sia. Sudah pasti Dia menginginkan semua hamba-Nya beribadah kepada-Nya, namun bukan tanpa warna semisal plek saja semuanya teratur beribadah dalam satu barisan, dengan waktu yang serempak atau dengan wajah yang kaku menatap lurus kedepan. Hummm ... atau satu tertawa seisi dunia tertawa, satu menangis seisi dunia menangis? Ah dunia apa itu ya?"
Kali ini kalimat panjang tumpah dari bibirnya, aku mendengarnya dengan tanpa sedikitpun ada rasa yang tak nyaman,  justru semakin aku menyimak dengan baik semakin terasa hangat menyentuh ke hatiku.

"Kita semua diciptakan-Nya tanpa sia-sia adalah untuk beribadah kepada-Nya, namun hamparan kehidupan yang Dia berikan untuk tempat kita beribadah itu sungguhlah berwarna, ada yang kontras seperti kesulitan dan kemudahan, sedih dan bahagia, tangis dan tawa. Itupun pada tiap orang akan berbeda-beda, nggak akan serempak semuanya merasakan hal yang sama, mengalami kejadian yang serupa, sungguh berwarna. Walau begitu Allah sudah pasti memberikan porsi yang pas untuk semua orang, nggak ada kata nggak adil, karena Dia yang paling tahu semua yang terbaik untuk masing-masing diri.

Dan berwarnanya kehidupan itu sendiri adalah untuk saling mengisi, saling berbagi dan saling berpengaruh satu dengan yang lainnya, contohnya bisa saja Kakak sedih karena perbuatan kamu. Eh tapi jangan ya kamu bikin Kakak sedih ya, nggak mau sih dibikin sedih sama kamu…." 
Ia melirikku sambil tersenyum kali ini, membuat lengkungan juga di bibirku.

"Humm gitu dong senyum, matamu yang bengkak itu saja sudah bikin mukamu nggak enak dilihat tahu!"
Aku mencubit tangannya kemudian, tak keras tapi dia berlagak kesakitan, membuat aku semakin keras mencubit tanggannya.

"Auww sakit Ra!"
Kali ini ia meringis, kuusap tangannya yang sedikit memerah, aku jadi merasa tak enak juga kemudian.

"Eh aduh maaf Kak, habis Kakak tuh malah bikin Aira jadi sebel," ucapku.

"Coba tuh lihat mukamu sendiri di kaca! Liiiihhh"
Dia malah melekukkan kaca spion di depan dan menghadapkan kaca itu ke arah wajahku.

"Humm ... bengkak mataku, jelek ya?"
Aku cemberut sesaat setelah melihat wajahku sendiri di kaca spion.

"Eh lihat muka Kakak aja kalau gitu!  Lebih bagus dari mukamu, walau cetakan muka kita sama."
Kali ini dia cengengesan, sambil matanya berkedip-kedip jahil melihat ke arahku.

"Huh, Kak Arya ke Pe-De-an ...."
Aku memasang muka sedikit sebal, sementara Kak Arya hanya tersenyum saja. Saudaraku yang satu ini memang terkadang menyebalkan, walau sering sekali menjadi tempatku mencurahkan isi hati, kata-kata bijaknya selalu membuat aku tenang. 

Usia aku dan Kak Arya terpaut 5 tahun, tapi kalau sekilas melihat, orang akan mengira kami ini kembar, karena memang wajah kami begitu serupa walau dengan berbeda jenis kelamin. Sore hari tadi selepas ashar, Kak Arya mengajakku ke tempat ini, sesaat setelah ia melihatku menangis sendirian di kamar, tanpa banyak kata, langsung saja dibawanya aku ke dalam mobil. 

"Bengkak matamu itu sebentar lagi juga akan hilang, sama seperti bekas cubitanmu tadi di kulit Kakak, kamupun sekarang bisa tersenyum kan setelah tadi nangis sampai bikin kaos Kakak basah kena air matamu tuh."
Kak Arya menunjuk ke arah kaosnya yang sedikit basah, sambil dikibas-kibasnya kini dengan tangannya, aku hanya nyengir saja melihatnya.

"Tapi ... ya itulah dunia Ra, semuanya cuma sementara. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, bahwa yang sementara itupun nggak akan sia-sia,  bahkan untuk setiap rasa sakit, sedih, susah dan nggak enak lainnya itupun nggak akan sia-sia Ra. Kamu pernah denger kan hadist riwayat Bukhori, dimana ..."

"... tidak ada yang menimpa seorang muslim dari kepenatan, sakit yang berkesinambungan, kebimbangan, kepedihan, penderitaan, kesusahan, sampai duri yang tertusuk kepadanya kecuali dengan itu Allah hapus dosanya ... Ya Allah...."
Kupotong kalimat Kak Arya kali ini sambil tersenyum, tapi rasanya mata ini kembali berkaca-kaca.

"Yup, betul! Semoga ya Ra  Allah hapuskan dosa kita melalui setiap hal yang bagi kita buruk, nggak enak dan nggak nyaman itu. Tapi jangan juga kita buat dosa lagi saat kita merasa sakit itu, atuh percuma itu mah, udah sakit tambah sakit nantinya, nauzubillah.

Walau nggak mudah itu pasti Ra, iman kita aja bisa naik dan turun, sementara godaan dan ujian itu selalu maunya deket-deket sama kita terus. Syetan nggak akan rela kalau jalan hidup kita mulus aja untuk sampai kita pada ridhonya Allah. Dan Allah pun mengijinkan hal itu untuk menguji iman kita, benar nggak sih kita melakukan semua hal dalam hidup itu untuk Allah, benar nggak sih kita itu ikhlas menjalankan hidup karena dan untuk-Nya, benar nggak sih kita itu pantas mendapat ridho-Nya?

Tapi nggak akan juga Allah biarin kita hadapin semua ujian itu sendirian, ya Allah pasti mau banget nemenin kita terus, tapi justru kitanya, mau nggak ditemenin sama Allah? Karena kadang-kadang.. eh apa sering ya.. jangan ah sering mah, kita itu suka lebih cepet cari manusia daripada Allah, atau bahkan kita merasa bisa menghadapi masalah sendirian, seperti ambil keputusan tanpa dipikir dulu tentang ridhonya Allah dengan yang kita lakuin?" Sambung Kak Arya kemudian.

Aku bersegera mengambil tisu dan botol air dingin untuk mengompres kedua mataku, walau sebenarnya ingin bersegera juga kusembunyikan dari Kak Arya bening air mataku yang akan tumpah lagi. Ah sudah cukup ia melihat aku menangis hari ini, walau air mata yang keluar kali ini bukanlah karena dunia lagi rasanya, tapi karena hati ini terenyuh akan kasih sayang Allah dan teringat betapa aku tak peka pada-Nya, 
"Ah ... malu aku pada-Mu Ya Allah, yang sering kali mengeluh, padahal Kau limpahi aku dengan kasih sayang dan kebaikkan yang berlimpah-limpah. Dan berapa kali aku lupa, lalai dan mengabaikanMu ... Astagfirullah," ucap batinku.  

"Hayuuu ah pulang, udah hampir magrib ini, nanti Ummi dan Abi nyariin, Kakak juga mau segera siapin barang untuk besok ke Bogor. Kamu jangan banyak sedih ya Ra, jaga Ummi sama Abi ya, sekolah yang bener dan fokus sama mimpi yang ingin kamu raih."

Kak Arya lalu memutar kunci mobil, menyalakannya lalu menjalankannya ke arah rumah kami ditemani langit yang menjingga. Hatiku saat ini sudah terasa lebih lega, lega karena rasa syukur yang teramat sangat kepada-Nya, "Allah..."

Translate