"Bismillahirrahmanirrahim"

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software

pendidikan

Wuupppss, saya baru bisa update blog ilmair lagi niy. Wah aga kurang update ya artikel blog ini, sampai-sampai beberapa peristiwa dan special day terlewati mampir di artikel ilmair. Awal bulan Mei ini aja ada dua special day yang saling berhimpitan yang sudah terlewati, yaitu hari buruh sedunia (1 Mei) dan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei). Kali ini blog ilmu_air ingin menulis dan mengulas sedikit tentang special day tersebut khususnya Hari Pendidikan Nasional dan inspirasi positifnya bagi kehidupan (semoga mengalir ilmu inspirasi air / inspirasi hidup positif  yang mengalir bagai air yang jernih, amin).

Mari kita sedikit mengulas sejarah dari hari pendidikan nasional. Special day ini diperingati di bumi pertiwi setiap tanggal 2 Mei, diambil dari hari lahirnya Tokoh Pendidikan di Indonesia (Bapak pendidikan Nasional) yaitu Ki Hajar Dewantara, 2 mei 1889. Mengapa Ki Hajar Dewantara yang bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat itu disebut sebagai bapak Pendidikan Nasional? Karena beliau merupakan pelopor dan pejuang pendidikan bagi para pribumi Indonesia di zaman penjajahan Belanda. Dimana di zaman itu rakyat Indonesia kurang mendapat kesempatan mendapatkan pendidikan, padahal rakyat juga memiliki hak asasi dalam bidang pendidikan yang sama dengan para priyayi dan penjajah Belanda. Perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam membela hak pendidikan rakyat indonesia, diantaranya adalah melalui tulisan-tulisan inspiratifnya yang komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial. Diantara tulisannya, artikel yang paling terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli : Als ik eens Nederlander was) yang pernah dimuat dalam surat kabar de Expres milik Douwes Dekker tahun 1913. Beliau juga mendirikan Perguruan Naional Taman siswa, yaitu sebuah lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi rakyat memperoleh pendidikan yang layak.

Di zaman sekarang ini, dimana teknologi berkembang pesat, hari pendidikan nasional kemarin, seharusnya bermakna rasa syukur atas pendidikan yang zaman dahulu telah diperjuangkan oleh pejuang dan pahlawan pendidikan termasuk Ki Hajar Dewantara. Namun pada kenyataannya, Hari Pendidikan nasional kini, rasanya hanya bagai seremonial belaka yang seolah kurang berarti. Disamping, special day tersebut juga seolah bagai pemberi inspirasi hidup positif berupa semangat bagi para pejuang muda tuk bangkit kembali memperjuangkan hak pendidikan rakyat secara merata yang kenyataannya kini masih terjajah oleh banyak hal (terutama materi). Hari pendidikan Nasional di zaman kini mungkin bisa juga seolah berteriak mengingatkan pemerintah tuk memajukkan pendidikan di Indonesia tentu juga secara adil dan merata tuk seluruh kalangan. Tidak mengkomersialkan pendidikan, yang memunculkan batas/sekat kesempatan berpendidikan, seolah pendidikan yang layak hanya untuk orang yang memiliki materi berlebih saja, sementara rakyat yang tidak mampu (tidak memiliki materi yang cukup), ya tidak mampu sekolah, dan berkesempatan mendapat pendidikan yang layak.

Padahal pendidikan itu penting bagi kemajuan bangsa dan kehidupan di dunia ini. Maka sudah seharusnya setiap orang itu mendapatkan pendidikan yang sama tanpa dihalangi oleh kemampuan materi atau hal lainnya. Apalagi, Allah SWT, Sang Guru Utama kehidupan-pun telah mewajibkan hamba-hamba-Nya tuk belajar (berpendidikan) dan mencari serta menggali ilmu seluas, setinggi, sebanyak-banyaknya dalam hidup ini (tentu ilmu-ilmu yang positif). Ayat Al-Qur'an yang pertama kali diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW saja berbunyi "Iqra" yang berarti "bacalah" (QS Al-Alaq), sebuah perintah dari Allah melalui rasulNya untuk belajar (iqra juga berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak). Surat Al-Alaq sendiri diawali oleh perintah Allah SWT melalui rasulNya tuk membaca lingkungan alam semesta untuk mengenal siapa sebenarnya Tuhan, Surat Al-Alaq ayat 1-5 juga menerangkan bahwa "Allah menciptakan manusia dari benda yang hina (segumpal darah) kemudian memuliakannya dengan mengajar membaca, menulis dan memberinya pengetahuan..."  Oleh karena itu, setiap manusia tentu harus berjuang mendapatkan pendidikan yang sebaik-baiknya, bukan hanya berjuang tuk dirinya tetapi juga tuk sesamanya, berjuang melepas sekat yang menghalangi setiap manusia memperoleh pendidikan yang layak, berjuang menghilangkan kekomersialan pendidikan formal termasuk di bumi pertiwi ini.

Bagaimana menurutmu, artikel sederhana ilmair tentang pendidikan (dengan segala kekurangan ilmu saya dalam menulis) kali ini? Share pendapat, ilmu, inspirasi air-mu ya di blog ilmair ya.

Sumber kutipan: 

2 sharing inspirasi :

  1. artikel menarik nih... blognya juga menarik gan.. bisa jadi pembaca setia nih

    ReplyDelete
  2. Pendidikan sangat penting.. knp tdk? krna pendidikanlah masa depan kita

    ReplyDelete

Silahkan share saran, kritik, ilmu, inspirasi positifmu di ilmair. Berkomentarlah dengan bijak. Spam akan saya hapus..
Terimakasih..

Translate